Scroll untuk baca artikel
Health

Cegah Stunting dari Rumah: Pola Makan Ideal untuk Anak 6–23 Bulan

×

Cegah Stunting dari Rumah: Pola Makan Ideal untuk Anak 6–23 Bulan

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang, sehingga anak tumbuh lebih pendek dari usia seharusnya. Anak yang mengalami stunting dapat mengalami perkembangan otak yang kurang optimal, lebih mudah sakit, dan berisiko tinggi terkena penyakit ketika dewasa.

Untuk mencegah stunting, kebutuhan gizi anak pada masa 1000 hari pertama kehidupan (dari masa kehamilan hingga dua tahun pertama setelah kelahiran) perlu diperhatikan dengan baik. Masa ini menjadi fase paling penting yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, serta menentukan kualitas hidupnya di masa depan.

Di Indonesia, salah satu penyebab utama stunting adalah asupan gizi yang tidak terpenuhi, terutama saat anak memasuki usia 6–23 bulan. Pada usia ini, kebutuhan gizi anak meningkat, dan makanan pendamping ASI (MPASI) mulai diberikan. MPASI harus mengandung energi dan zat gizi yang cukup untuk menunjang tumbuh kembang anak.

Memenuhi kebutuhan makan anak 6–23 bulan sebenarnya tidaklah sulit. Bahan makanan sehari-hari seperti beras, telur, ayam, tahu, ikan kembung, dan sayur sudah cukup untuk membantu anak tumbuh sehat dan mencegah stunting. Yang terpenting adalah tekstur, frekuensi, dan porsinya disesuaikan dengan usia anak.

Usia 6–8 Bulan: Mulai Mengenal Makanan

Pada usia 6–8 bulan, bayi mulai belajar makan selain ASI. Makanan yang diberikan sebaiknya lembut, seperti bubur kental atau makanan yang dihaluskan. Pada usia ini, bayi bisa diberi makan 2–3 kali sehari sebagai makanan utama, ditambah 1–2 kali camilan. Jumlahnya cukup 2–3 sendok makan, lalu secara bertahap ditambah sampai sekitar setengah mangkuk kecil (125 ml).

Isi piring sebaiknya sudah lengkap, yaitu terdiri dari karbohidrat, satu jenis lauk hewani, sayur, serta sedikit lemak atau minyak. Ibu bisa memilih bahan yang ada di rumah. Misalnya, nasi putih 3 sendok makan dipadukan dengan salah satu lauk hewani seperti telur, ayam, atau ikan, ditambah pilihan sayur lembut seperti wortel. Tambahkan sedikit santan atau minyak agar energi makanan cukup. Untuk bayi 6–8 bulan, semua makanan perlu disaring agar halus.

Meskipun porsinya masih kecil, usahakan selalu ada satu jenis lauk hewani dalam setiap makan karena zat besi sangat penting untuk mencegah anemia dan mendukung tumbuh kembang.

Untuk camilan dapat berupa buah lembut seperti pisang lumat, pepaya halus, atau alpukat sudah cukup baik.

Pada usia 6-8 bulan, pemberian ASI tidak perlu dikurangi. ASI tetap diberikan sebagaimana biasanya, karena pada usia ini MP-ASI masih menjadi pelengkap, bukan pengganti ASI.

Usia 9–11 Bulan: Porsi Meningkat, Tekstur Lebih Kasar
Ketika bayi berusia 9–11 bulan, tekstur makanan bisa dinaikkan menjadi cincang halus atau makanan yang bisa dipegang sendiri. Frekuensi makan menjadi 3–4 kali sehari dengan tambahan 1–2 kali camilan. Porsi makannya juga bertambah, yaitu antara setengah sampai tiga perempat mangkuk ukuran 250 ml (sekitar 125–200 ml) setiap kali makan.

Isi piring tetap perlu lengkap, yaitu terdiri dari karbohidrat, satu jenis lauk hewani dalam porsi lebih banyak, sayur, buah, serta tambahan minyak atau santan. Ibu bisa memilih bahan sesuai ketersediaan di rumah. Misalnya, nasi 5 sendok makan dengan ikan kembung atau ayam sebagai lauk, ditambah salah satu sayur seperti buncis cincang, serta sedikit santan atau minyak untuk menambah energi. Di usia ini, bayi membutuhkan cukup lemak agar berat badan naik sesuai usia.

Untuk selingan setelah makan atau sebagai camilan, sudah dapat diberikan buah lembut dalam bentuk utuh, seperti potongan pisang matang, pepaya lembut, atau tahu kukus sebagai finger food.

Pada usia 9-11 bulan, walaupun MP-ASI semakin sering dan porsinya bertambah, ASI tetap diberikan sesuai permintaan bayi, karena tetap menjadi sumber energi dan perlindungan tubuhnya.

Usia 12–23 Bulan: Makan Seperti Keluarga

Pada usia 12–23 bulan, anak sudah bisa makan makanan keluarga seperti orang dewasa, tetapi tetap disesuaikan dengan kemampuan mengunyahnya. Anak perlu makan 3–4 kali sehari dengan 1–2 kali camilan di sela-selanya. Porsinya sekitar tiga perempat hingga satu mangkuk penuh ukuran 250 ml. Dengan mengikuti tahapan ini, asupan gizi anak dapat terpenuhi dan mendukung tumbuh kembangnya.

Isi piring anak usia 12–23 bulan tetap mencakup karbohidrat, satu jenis lauk hewani, sayur, buah, serta tambahan minyak atau lemak sehat. Pada tahap ini, anak sudah dapat makan makanan keluarga, sehingga Ibu cukup menyesuaikan ukuran potongan agar mudah dikunyah.

Contohnya, nasi 5 sendok makan dengan salah satu pilihan lauk hewani seperti hati ayam, ikan, atau ayam, ditambah pilihan sayur seperti bayam atau wortel rebus, lalu diberi 1–2 sendok teh minyak untuk menambah energi.

Untuk camilan, anak sudah bisa diberikan ubi kukus, pancake pisang tanpa gula, buah potong, atau bubur kacang merah lembut untuk memenuhi kebutuhan energi tambahan anak.

Pada usia 12-23 bulan, walaupun anak sudah makan makanan keluarga tiga kali sehari, ASI tetap dilanjutkan sampai usia 2 tahun atau lebih, karena masih memberikan energi dan perlindungan dari penyakit.

Dengan menerapkan pola makan ini secara konsisten, sudah dapat membantu anak tumbuh sehat dan terhindar dari stunting mulai dari rumah, karena kesehatan anak adalah investasi terbaik untuk masa depannya.

Hafla Hadissa, Nadiya Pratiwi, Nisa Amalina, dan Shabirha Meinawati
mahasiswa Universitas Indonesia