Scroll untuk baca artikel
Artikel

Menjaga Warisan Batik Tulungagung dan Cerita di Balik Motif Sekar Jagad

×

Menjaga Warisan Batik Tulungagung dan Cerita di Balik Motif Sekar Jagad

Sebarkan artikel ini
Menjaga Warisan Batik Tulungagung dan Cerita di Balik Motif Sekar Jagad

Oleh : Wahyu Waton Sulistyani & Devinta Eka Nanda Putri

Indonesia sering dielu-elukan sebagai negeri batik, sebuah warisan budaya yang bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menyimpan perjalanan panjang sejarah dan nilai filosofis bangsa.

Meski nama besar Solo dan Pekalongan kerap mendominasi perbincangan, ada daerah lain yang diam-diam turut menjaga nyala seni batik dengan dedikasi yang sama kuatnya.

Dari Tulungagung, Jawa Timur, lahirlah Batik Gama Gajahmada—sebuah karya lokal yang tumbuh dari tangan-tangan terampil dan cinta mendalam terhadap budaya.

Salah satu motif yang paling menonjol dari batik ini adalah motif Sekar Jagad, sebuah motif indah yang bukan hanya memikat secara visual, tetapi juga kaya makna.

Batik Gama Gajahmada berdiri sejak akhir 1970-an di Desa Mojosari, Kecamatan Kauman. Dirintis oleh pasangan Bapak Danu Mulyo dan Ibu Munganah, usaha ini berkembang dari tradisi batik tulis yang masih sangat dijaga keasliannya.

Nama Gama Gajahmada dipilih sebagai simbol semangat kerja keras dan nasionalisme, menghadirkan batik sebagai bukan sekadar industri, tetapi bentuk pengabdian pada warisan budaya.

Ciri khas batik Tulungagung tampak dalam pilihan warna-warnanya yang lembut namun kokoh – sogan, biru tua, dan hijau lumut – dengan teknik pengerjaan manual menggunakan canting yang membuat setiap helainya lahir sebagai karya yang unik.

Dari sekian banyak motif yang diproduksi, Sekar Jagad menjadi salah satu yang paling sarat makna. Kata “sekar” yang berarti bunga dan “jagad” yang berarti dunia memberikan gambaran tentang betapa motif ini merepresentasikan keindahan yang tersebar di berbagai penjuru bumi.

Ada pula tafsir lain yang menyebut Sekar Jagad berasal dari istilah “kar jagad” – peta dunia – karena bentuk-bentuk dalam motif ini menyerupai pulau-pulau yang bertebaran namun tetap terikat dalam satu kesatuan.

Apa pun asal maknanya, keduanya mengarah pada pesan yang sama: keindahan dan harmoni dalam keberagaman.

Pada kain Sekar Jagad, setiap garis lengkung, isen-isen kecil, serta komposisi motifnya menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan fondasi untuk membangun keutuhan.

Dalam konteks kehidupan sosial, pesan ini terasa semakin relevan, terutama bagi generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan multikultur dan arus pergaulan yang cepat berubah.

Motif ini menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya, pendapat, maupun gaya hidup bisa dirayakan sebagai kekuatan, bukan dipandang sebagai jurang pemisah.

Batik Gama Gajahmada tidak hanya mengadaptasi motif Sekar Jagad dari tradisi Solo dan Yogyakarta, tetapi juga memberikan sentuhan khas Tulungagung.

Warna-warna sogan yang lebih pekat, tambahan unsur flora-fauna lokal, hingga perpaduan gaya geometris batik pesisir membuat motif ini memiliki identitas yang berbeda namun tetap menghormati akar tradisinya.

Adaptasi semacam ini menunjukkan bagaimana budaya dapat berkembang tanpa kehilangan jati diri jarang, tetapi penting, terutama di era modern yang serba cepat.

Bagi mahasiswa dan generasi muda, memahami batik bisa menjadi bentuk literasi budaya yang penting. Memakai batik bukan hanya soal memenuhi dresscode atau mengikuti tren sesaat; ada proses mengenali diri dan menghargai perjalanan panjang budaya yang membentuk bangsa ini.

Dari motif Sekar Jagad, kita dapat belajar bahwa kreativitas selalu bisa berjalan beriringan dengan tradisi. Bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu, tetapi justru mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih relevan.

Batik Gama Gajahmada dari Tulungagung bukan sekadar kain bercorak indah, melainkan perwujudan dedikasi, kesabaran, dan cinta terhadap budaya bangsa. Setiap goresan canting memuat cerita tentang bagaimana masyarakat lokal merawat tradisi sambil membuka ruang bagi pembaruan.

Di tengah dunia yang serba digital, batik tetap hadir sebagai pengingat bahwa sesuatu yang dibuat dengan tangan, hati, dan filosofi tidak akan pernah kehilangan nilai. Sudah saatnya mahasiswa kembali menoleh ke karya lokal seperti Batik Gama Gajahmada – bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai identitas masa depan.

Konsep-Konsep Bisnis
Artikel

Oleh: Apliana Kaka Daha, mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang