“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya tampak buruk.” (HR. Muslim)
DEPOKPOS – Kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi datang tak henti-henti, percakapan berlangsung dalam hitungan detik, dan opini menyebar sebelum sempat ditimbang matang. Di tengah arus digital yang deras ini, ada satu hal yang sering terlupa: kesantunan. Padahal, sebagai Muslim, adab dan akhlak adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari identitas kita, baik dalam dunia nyata maupun dunia maya.
Dulu, adab ditunjukkan lewat cara seseorang berbicara, bersikap kepada orang tua, atau menyapa tetangga. Sekarang, adab juga tercermin dalam bagaimana kita berkomentar di media sosial, bagaimana kita membagikan informasi, atau sekadar dalam cara kita merespons pesan. Dunia digital mungkin tanpa suara dan tanpa tatap muka, tapi bukan berarti tanpa etika.
Sayangnya, banyak dari kita yang lupa diri saat berada di balik layar. Kata-kata yang mungkin tak akan pernah kita ucapkan secara langsung, dengan mudahnya kita ketik dan sebar ke ribuan orang. Kritik berubah jadi caci maki. Diskusi berubah jadi debat kusir.
Padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah sosok yang paling santun, bahkan kepada orang yang menghina beliau sekalipun.
Kesantunan bukan kelemahan. Justru, dalam Islam, santun adalah tanda kematangan iman.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya tampak buruk.” (HR. Muslim). Artinya, sikap lembut dan santun itu memperindah segalanya — termasuk interaksi kita di dunia digital.
Penting juga untuk kita ingat bahwa setiap kata yang kita ketik akan dimintai pertanggungjawabannya. Dalam QS. Qaf:18 Allah berfirman, “Tiada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” Ini bukan hanya tentang ucapan lisan, tapi juga tulisan—baik itu status, komentar, hingga pesan pribadi.
Lalu, bagaimana cara menjaga kesantunan di era digital? Pertama, biasakan berpikir sebelum mengetik. Tanyakan pada diri sendiri, apakah ini bermanfaat? Apakah ini menyakiti? Apakah saya akan merasa nyaman jika ini ditujukan kepada saya? Kedua, hindari perdebatan yang tidak perlu. Tidak semua hal harus ditanggapi. Kadang, diam adalah bentuk kebijaksanaan terbaik.
Ketiga, jaga niat. Saat membagikan ilmu, niatkan untuk menebar manfaat, bukan mencari pujian atau menampakkan keunggulan. Saat menegur, niatkan karena peduli, bukan karena ingin menjatuhkan. Niat yang baik akan memandu kata-kata agar tetap dalam koridor adab.
Terakhir, penting bagi kita untuk terus belajar. Belajar dari teladan Rasulullah, dari nasihat ulama, dari orang-orang yang lebih dulu matang dalam akhlak. Dunia digital boleh berubah secepat apapun, tapi prinsip kita sebagai Muslim tetap harus kokoh: menjaga hati, menjaga lisan, dan menjaga tangan—termasuk yang menari di atas papan ketik.
Karena pada akhirnya, yang tersisa dari semua interaksi kita di dunia ini adalah jejak. Dan jejak itu akan kita bawa menghadap Allah. Maka biarlah jejak digital kita menjadi saksi bahwa kita adalah Muslim yang tidak hanya cerdas, tapi juga santun.
Penulis : Wahyu Ardika Saputra
Instansi : IAI SEBI
