Oleh: Anisa Bella Fathia, S. Si., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Baru-baru ini di sosial media Instagram, terdapat postingan viral dari seorang nutrionist dr. Felix Zulhendri, phd., membahas bahaya produk kacang kedelai impor GMO terhadap tubuh. Produk kacang kedelai ini bisa kita jumpai pada tahu, tempe, susu kacang kedelai dan lain-lain. Menurutnya, 90 persen kacang kedelai di Indonesia impor dari Amerika Serikat, Kanada, Argentina, Brazil, dan lainnya. Impor terbanyak dari AS.
Kedelai impor ini adalah GMO (Genetically Modified Organism) atau organisme hasil rekayasa genetika dan juga glyphosate-tolerant soybeans atau dengan kata lain disemprot dengan herbisida glyphosate pada saat budidaya. Kemudian residu glyshopate tadi akan ada di kacang kedelai yang dipanen dan dikonsumsi.
Permasalahan glyshopate karena perusahaan utama pembuat glyshopate ini dituntut karena adanya keterkaitan glyshopate dengan kanker non-hodgkins lymphoma atau sekelompok kanker yang menyerang sistem limfatik, bagian dari sistem kekebalan tubuh. Maka dari itu, dokter Felix menghindari produk kacang kedelai apalagi di Indonesia (Instagram @felix.zulhendri.phd, 5/7/25).
Jika dilihat, sosial media tempat masyarakat bisa mendapatkan informasi dengan mudah dan cepat. Tidak hanya berisi seputar gaya hidup artis atau seleb terkenal. Dokter, ahli gizi, guru ataupun profesi keilmuan lainnya bisa dengan mudah dan gratis membagikan ilmunya kepada masyarakat awam. Kini masalah tempe dan kacang kedelai pun ditanggapi juga oleh dokter Tan Shot Yen yang merupakan ahli gizi. Pro dan kontra tentang bahayanya kacang kedelai impor ini terus ramai diperbincangkan netizen.
Memang, netizen mengaku senang membaca jurnal penelitian dari para ahli ilmu ini, namun yang lebih dibutuhkan dan penting bagaimana solusi permasalahan dari bahaya atau tidaknya kacang kedelai impor ini.
Kembali lagi bahas Indonesia. Mengapa Indonesia masih sangat tergantung kepada kedelai impor dari Amerika? Ternyata, kedelai merupakan salah satu bahan makanan penting di Indonesia dan masyarakat Indonesia begitu dekat dengan tahu dan tempe. Menurut beberapa sumber, Indonesia sangat bergantung pada kedelai Amerika. Setiap tahunnya, Indonesia membutuhkan sebanyak 2 juta ton kedelai guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Menanam kedelai di Indonesia sendiri tidak mudah, banyak kendala seperti cara menanam kedelai yang cenderung rumit sehingga membuat sejumlah petani memilih menanam komoditas lain. Tak hanya itu, kedelai kurang mendapat intensif dari pemerintah dan petani tidak tertarik untuk menanam kedelai karena harganya yang rendah (Tempo.co, 23/1/23).
Seharusnya dengan adanya perdebatan ahli gizi terkait kedelai impor GMO menjadi perhatian dari pemerintah. Bagaimana seharusnya pemerintah menjawab supaya masyarakat bisa tenang mengonsumsi olahan kedelai. Dan bila pada akhirnya temuan bahaya kedelai impor GMO ini benar, seharusnya ada langkah nyata dari pemerintah. Entah diberikan alternatif tempe selain dari kedelai ataupun memaksimalkan potensi petani kedelai lokal Non GMO.
Dalam sistem sekuler, roda ekonomi berpusat pada negara jantung kapitalisme yaitu Amerika. Amerika Serikat, sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia, memiliki pengaruh dalam kebijakan perdagangan global. Mereka dapat menetapkan tarif impor, kuota, dan hambatan perdagangan lainnya yang dapat mempengaruhi negara lain, termasuk Indonesia. Namun, kebijakan ini juga dipengaruhi oleh kepentingan nasional AS dan negosiasi bilateral dengan negara lain.
Indonesia yang termasuk negara maritim, yakni wilayahnya didominasi oleh perairan seharusnya penduduknya lebih mudah makan ikan karena stok ikan melimpah. Namun kenyataannya malah penduduknya lebih banyak mengonsumsi tahu tempe. Padahal kedelai bukan kearifan lokal melainkan dibawa oleh imigran Cina dan cukup sulit dibudidayakan di Indonesia. Malah ikan lebih baik dan lebih banyak gizinya dibanding tahu dan tempe. Tapi banyak faktor yang membuat penduduk Indonesia sedikit mengonsumsi ikan. Bila saja negara mau serius memanfaatkan kekayaan alam Indonesia, stunting dan gizi buruk pun bisa diatasi.
Sistem sekuler kapitalis membuat negara tidak memiliki kemandirian swasembada pangan. Selalu bergantung pada impor apalagi bila sudah kontrak perdagangan dengan jantungnya kapitalis yaitu Amerika.
Padahal, hanya dengan aturan Islam, masyarakat mampu makan sehat halal dan thayyib karena negara memfasilitasi. Pemimpin dalam Islam bekerja dengan ketakwaan, memastikan makanan yang dikonsumsi oleh umat makanan yang aman bagi kesehatan. Tidak akan bekerja sama dengan negara kafir bila terbukti bahan baku makanan dari negeri kafir membawa kemudharatan. Karena Allah memerintahkan dalam firman-Nya, “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (QS Al-Maidah [5]: 88).[]
