DEPOKPOS – Perkembangan teknologi digital telah mengubah dunia kerja dengan cepat. Kehadiran kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan berbagai sistem digital membuat perusahaan tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) yang mampu beradaptasi.
Menurut World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025, sekitar 39% keterampilan pekerja saat ini diperkirakan akan berubah atau menjadi tidak relevan pada periode 2025–2030. Selain itu, 63% perusahaan yang disurvei menyebut kesenjangan keterampilan (skills gap) sebagai salah satu hambatan utama dalam transformasi bisnis.
Data tersebut menunjukkan bahwa perubahan teknologi harus diikuti dengan perencanaan SDM yang baik. Perusahaan tidak cukup hanya membeli teknologi baru, tetapi juga harus mempersiapkan karyawan yang mampu menggunakannya.
Perencanaan SDM di Era Digital
Perencanaan SDM merupakan proses menentukan kebutuhan tenaga kerja perusahaan, baik dari segi jumlah maupun kompetensi, agar sesuai dengan tujuan organisasi. Di era digital, proses ini menjadi semakin penting karena kebutuhan keterampilan dapat berubah dengan cepat
Perusahaan perlu mengetahui keterampilan apa yang dibutuhkan di masa depan, kompetensi apa yang sudah dimiliki karyawan, serta keterampilan apa yang masih perlu dikembangkan. Dari sini, perusahaan dapat menentukan apakah perlu melakukan rekrutmen, pelatihan, upskilling, atau reskilling.
WEF mencatat bahwa 85% perusahaan yang disurvei berencana memprioritaskan upskilling tenaga kerja hingga 2030. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan karyawan menjadi salah satu strategi penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja.
Teknologi Tidak Menggantikan Semua Peran Manusia
Kehadiran AI sering dikaitkan dengan kekhawatiran bahwa teknologi akan menggantikan manusia. Namun, dampaknya berbeda-beda tergantung jenis pekerjaan dan tugas yang dilakukan.
ILO memperkirakan sekitar 21,7% pekerjaan di Indonesia memiliki lebih dari tingkat paparan minimal terhadap Generative AI (GenAI). Angka tersebut menunjukkan adanya potensi perubahan dalam pekerjaan, tetapi bukan berarti seluruh pekerjaan tersebut akan hilang.
Karena itu, perusahaan perlu mempersiapkan karyawan agar dapat bekerja berdampingan dengan teknologi. Kemampuan digital perlu dikombinasikan dengan keterampilan manusia seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar.
Peran HR dalam Perubahan
Dalam kondisi tersebut, HR tidak lagi hanya bertugas mengurus administrasi karyawan. HR perlu menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mempersiapkan tenaga kerja masa depan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Mengidentifikasi kebutuhan kompetensi masa depan.
2. Melakukan pemetaan kemampuan karyawan (skill mapping).
3. Memberikan program upskilling dan reskilling.
4. Merekrut karyawan dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan.
5. Mempersiapkan karyawan untuk menghadapi perubahan teknologi.
Dengan langkah tersebut, perusahaan tidak hanya bereaksi ketika terjadi perubahan, tetapi sudah mempersiapkan SDM sebelum perubahan tersebut menjadi masalah.
Teknologi Maju, SDM Jangan Tertinggal
Menurut saya, tantangan terbesar perusahaan di era digital bukan hanya bagaimana mengikuti perkembangan teknologi, tetapi bagaimana memastikan karyawannya tidak tertinggal. Perusahaan yang terlalu fokus pada teknologi tanpa memperhatikan kesiapan SDM berisiko mengalami kesenjangan antara sistem yang digunakan dan kemampuan orang yang menjalankannya. Oleh karena itu, perencanaan SDM seharusnya menjadi bagian dari strategi utama perusahaan, bukan hanya tugas administratif HR. Investasi pada manusia melalui pelatihan, pengembangan kompetensi, dan kesempatan untuk belajar menjadi sama pentingnya dengan investasi pada teknologi.
Era digital membuat perusahaan harus berpikir lebih jauh dalam mengelola SDM. Teknologi memang dapat meningkatkan efisiensi, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya.
Oleh karena itu, perencanaan SDM bukan sekadar menentukan jumlah karyawan, tetapi memastikan perusahaan memiliki orang yang tepat, dengan kompetensi yang tepat, pada waktu yang tepat.
Pertanyaannya bukan hanya apakah perusahaan sudah menggunakan teknologi, tetapi apakah SDM di dalamnya sudah siap menghadapi perubahan?
