Scroll untuk baca artikel
Opini

Zero Waste di Gunung Bukan Sekadar Soal Sampah

×

Zero Waste di Gunung Bukan Sekadar Soal Sampah

Sebarkan artikel ini

Oleh Yumna Zhafirah, mahasiswa Perbankan Syariah di Kampus IAI SEBI

Zero Waste di Gunung Bukan Sekadar Soal Sampah

DEPOKPOS – Bagi sebagian orang, mendaki gunung mungkin hanya tentang mencapai puncak dan menikmati pemandangan. Namun, bagi saya, semakin sering kita berkegiatan di alam, seharusnya semakin besar pula kesadaran kita untuk menjaganya.

Sebagai anggota Natural Forum, saya belajar bahwa berkegiatan di alam bukan hanya tentang kemampuan bertahan selama perjalanan, tetapi juga tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Salah satu kebiasaan yang diajarkan adalah zero waste.

Zero waste dalam pendakian bukan berarti kita sama sekali tidak menghasilkan sampah. Menurut saya, yang lebih penting adalah bagaimana kita mengurangi sampah sejak awal dan tidak meninggalkannya setelah kegiatan selesai. Hal ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memilih logistik dengan kemasan seminimal mungkin, membawa botol minum yang dapat digunakan kembali, dan memindahkan makanan ke wadah sebelum berangkat.

Di Natural Forum, kami dibiasakan untuk tidak hanya memikirkan apa yang perlu dibawa saat mendaki, tetapi juga memikirkan apa yang akan terjadi dengan barang tersebut setelah digunakan. Prinsipnya sederhana: kalau kita membawa sesuatu naik, kita juga harus siap membawa kembali sisa atau sampahnya turun.

Menurut saya, zero waste juga berkaitan erat dengan Leave No Trace, yaitu bagaimana kita berkegiatan di alam dengan meminimalkan dampak yang ditinggalkan. Jadi, menjaga alam bukan hanya soal membawa turun sampah, tetapi juga tidak merusak tumbuhan, mengganggu satwa, atau meninggalkan sesuatu yang seharusnya tidak ada di alam.

Hal ini sejalan dengan moto yang dikenal dalam dunia pecinta alam:
“Jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan membunuh apapun kecuali waktu, dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak.”

Bagi saya, moto tersebut bukan sekadar kalimat. Jangan mengambil apapun kecuali gambar mengajarkan kita untuk menikmati alam tanpa mengambil bagian darinya. Jangan membunuh apapun kecuali waktu mengingatkan kita untuk tidak merusak kehidupan yang ada di dalamnya. Sementara jangan meninggalkan apapun kecuali jejak menjadi pengingat bahwa setelah kita pulang, alam seharusnya tidak menerima masalah baru dari kehadiran kita.

Karena itu, menurut saya, zero waste seharusnya menjadi bagian dari manajemen pendakian. Pengelolaan sampah perlu dipikirkan sejak persiapan, selama perjalanan, hingga setelah pendakian selesai. Setiap anggota juga perlu bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya sendiri.

Mungkin kita belum bisa membuat pendakian benar-benar menghasilkan nol sampah. Tetapi kita selalu bisa mengurangi, menggunakan kembali, dan membawa pulang apa yang kita bawa.

Pada akhirnya, mendaki bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mencapai puncak, tetapi juga tentang seberapa besar kita mampu menghargai tempat yang membawa kita sampai ke sana. Bagi saya, pendakian yang baik adalah ketika kita datang untuk menikmati alam, bukan mengambilnya, dan pulang tanpa meninggalkan masalah.

Yumna Zhafirah
Instansi IAI SEBI