DEPOKPOS – Komunikasi adalah suatu proses di mana seseorang menyampaikan informasi dan pemahaman kepada orang lain, baik melalui kata-kata maupun ekspresi nonverbal, menggunakan simbol-simbol atau isyarat tertentu, asalkan komunikasi tersebut dapat dipahami oleh kedua belah pihak. Asal usul kata “komunikasi” berasal dari bahasa Inggris dan Latin. Dalam bahasa Latin, kata-kata seperti “communis,” “communico,” “communicatio,” atau “communicare” memiliki arti “membuat sama” atau “menghadirkan kesamaan” (to make common). Kata “communis” merupakan istilah yang paling umum digunakan sebagai akar kata “komunikasi,” yang mengimplikasikan bahwa pikiran, makna, atau pesan diadopsi secara bersama-sama (Mulyana, 2005).
Everett M. Rogers mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses di mana ide atau pesan ditransmisikan dari sumber kepada satu atau lebih penerima dengan tujuan untuk mengubah perilaku mereka. Sementara itu, Anwar Arifin menjelaskan bahwa komunikasi merupakan usaha bersama dengan orang lain atau membangun hubungan dengan orang lain melalui interaksi (Trisnawati & Saefullah, 2005). Seiring waktu, cara manusia berkomunikasi telah mengalami transformasi signifikan, mulai dari bahasa isyarat primitif hingga integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam interaksi sehari-hari. Perkembangan ini tidak hanya mencerminkan kemajuan teknologi, tetapi juga adaptasi manusia dalam memenuhi kebutuhan komunikasi yang semakin kompleks.
Pada tahap awal peradaban, manusia mengandalkan bahasa isyarat dan simbol untuk menyampaikan pesan. Lukisan gua, seperti yang ditemukan di berbagai situs arkeologi, menjadi bukti bentuk komunikasi visual ini. Bahasa isyarat digunakan untuk berburu, menandai bahaya, dan mengoordinasikan aktivitas kelompok. Seiring waktu, lahirlah bahasa lisan yang memungkinkan penyampaian informasi secara lebih efisien dan kompleks. Bahasa lisan menjadi alat utama dalam membangun budaya, tradisi, dan kepercayaan masyarakat. Tulisan menjadi inovasi besar dalam sejarah komunikasi. Sekitar 3000 SM, bangsa Sumeria mengembangkan sistem tulisan kuneiform, yang kemudian diikuti oleh hieroglif Mesir. Tulisan ini memungkinkan penyimpanan dan penyebaran informasi yang lebih luas, tidak terbatas pada komunikasi langsung. Dengan berkembangnya alfabet, komunikasi tertulis menjadi lebih mudah dipahami dan lebih fleksibel dalam penggunaannya.
Revolusi komunikasi terjadi dengan penemuan telegraf oleh Samuel Morse pada tahun 1837, yang memungkinkan pengiriman pesan jarak jauh melalui kode Morse. Selanjutnya, Alexander Graham Bell mengembangkan telepon pada tahun 1876, memungkinkan komunikasi suara langsung antarindividu. Hal ini mempercepat pertukaran informasi dan meningkatkan efisiensi dalam berbagai sektor, seperti bisnis dan pemerintahan. Penemuan radio oleh Guglielmo Marconi pada awal abad ke-20 menjadi terobosan besar dalam komunikasi massa. Radio memungkinkan penyebaran informasi ke khalayak luas dalam waktu yang hampir bersamaan. Selanjutnya, televisi memperkenalkan komunikasi audio-visual yang semakin menarik dan efektif dalam menyampaikan pesan. Dengan adanya televisi, berita, hiburan, dan informasi budaya dapat tersebar ke seluruh dunia dengan cepat dan mudah. Komunikasi digital mulai berkembang dengan munculnya komputer dan jaringan internet. Pada 1960-an, ARPANET, cikal bakal internet, mulai dikembangkan di Amerika Serikat. Pada 1980-an dan 1990-an, internet semakin berkembang dan mulai digunakan secara luas, mengubah cara manusia berinteraksi dan berkomunikasi.
Masuknya era digital membawa perubahan drastis dalam cara manusia berkomunikasi. Internet dan media sosial menjadi platform utama untuk interaksi, memungkinkan komunikasi instan dan berbagi informasi secara global. Platform seperti email, pesan instan, dan media sosial memungkinkan individu untuk berkomunikasi tanpa batasan geografis dan waktu. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin memengaruhi komunikasi manusia. Chatbot dan asisten virtual seperti Siri, Google Assistant, dan Alexa telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. AI tidak hanya membantu dalam menjawab pertanyaan, tetapi juga memahami pola komunikasi manusia, memungkinkan personalisasi dalam interaksi digital. AI juga digunakan dalam analisis data besar (big data) untuk memahami tren komunikasi dan preferensi pengguna. Namun, meskipun AI dapat meningkatkan efisiensi komunikasi, tantangan tetap ada. Penggunaan AI dalam komunikasi dapat menimbulkan persepsi negatif jika pesan yang disampaikan terasa kurang personal atau terlalu mekanis. Studi menunjukkan bahwa pengguna yang mencurigai penggunaan respons algoritmik dalam percakapan dapat mengevaluasi komunikasi tersebut secara negatif, menganggapnya kurang tulus dan kurang autentik.
Salah satu tantangan utama dalam integrasi AI adalah kemampuannya untuk memahami konteks dan emosi manusia secara akurat. Meskipun AI telah mencapai kemajuan dalam pemrosesan bahasa alami, memahami nuansa emosi dan konteks budaya masih menjadi tantangan. AI masih mengalami kesulitan dalam mendeteksi ironi, sarkasme, dan makna tersirat dalam komunikasi manusia. Di masa depan, potensi penggabungan AI dengan komunikasi manusia dapat menghasilkan interaksi yang lebih intuitif dan empatik. Teknologi seperti natural language processing (NLP) dan deep learning akan terus dikembangkan untuk meningkatkan pemahaman AI terhadap bahasa manusia. Penggunaan AI dalam komunikasi juga berpotensi menciptakan pengalaman komunikasi yang lebih personal dan mendalam. Namun, seiring dengan perkembangan ini, pertanyaan etis mulai muncul. Privasi dan keamanan data menjadi isu penting, terutama dalam komunikasi digital yang semakin terdigitalisasi. Regulasi yang lebih ketat diperlukan untuk memastikan bahwa komunikasi tetap etis dan tidak digunakan untuk tujuan yang merugikan individu atau masyarakat.
Perjalanan evolusi komunikasi mencerminkan adaptasi manusia terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan sosial. Dari bahasa isyarat hingga integrasi AI, setiap tahap perkembangan membawa tantangan dan peluang baru. Bahasa isyarat dan simbol menjadi fondasi awal komunikasi, sementara tulisan memungkinkan informasi disimpan dan disebarluaskan. Revolusi telekomunikasi membuka jalan bagi komunikasi jarak jauh, dan era digital mempercepat pertukaran informasi dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dengan memahami sejarah ini, kita dapat lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas komunikasi di masa depan. Teknologi AI memiliki potensi besar dalam mengubah cara kita berkomunikasi, namun harus digunakan dengan bijak agar tetap mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dalam interaksi sosial. Masa depan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh bagaimana manusia menggunakannya untuk menciptakan koneksi yang lebih baik dan bermakna.
Mohamad Arr Syal Raya
Mahasiswa Program Studi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University


