DEPOKPOS – Kasus pelecehan seksual yang melibatkan Agus Buntung telah menjadi perbincangan luas di masyarakat. Namun, alih-alih memberikan perhatian pada korban dan menuntut keadilan, sebagian masyarakat justru menjadikan kasus ini sebagai bahan candaan. Ungkapan seperti “Agus nih boss, tampling dong” beredar luas di media sosial, mengaburkan realitas tragis dari kasus ini. Fenomena ini menunjukkan betapa lemahnya kesadaran masyarakat terhadap isu kekerasan seksual dan bagaimana budaya populer sering kali gagal dalam menanggapi masalah serius dengan sikap yang bertanggung jawab.
Menurut saya, fenomena ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan bahwa kita masih memiliki banyak pekerjaan dalam membangun kesadaran sosial. Menganggap pelecehan sebagai bahan lelucon sama saja dengan memberikan ruang bagi pelaku untuk terus melakukan tindakan mereka tanpa konsekuensi yang nyata. Hal ini bukan hanya sekedar masalah Agus Buntung sebagai pelaku, tetapi lebih kepada bagaimana kita sebagai masyarakat merespons kasus-kasus pelecehan seksual.
Ketika Pelaku Dimuliakan, Korban Diabaikan
Dalam banyak kasus pelecehan seksual, perhatian publik sering kali berfokus pada pelaku, entah dalam bentuk simpati atau bahkan pengagungan yang tidak pantas. Agus Buntung, yang seharusnya bertanggung jawab atas tindakannya, justru mendapatkan popularitas yang tidak layak. Alih-alih dicancel culture, namanya justru semakin viral sebagai sosok yang dianggap “lucu” dalam konteks bercandaan. Hal ini bukan hanya bentuk pelecehan kedua terhadap korban, tetapi juga mengirimkan peringatan berbahaya bahwa tindakan pelecehan bisa direduksi menjadi sekedar lelucon.
Saya melihat bahwa kondisi ini terjadi karena masih banyak orang yang tidak memahami dampak psikologis dari pelecehan seksual. Korban harus menghadapi trauma jangka panjang, sementara pelaku justru mendapatkan “panggung”. Hal ini merupakan bentuk ketidakadilan yang nyata antara pelaku dan juga korban. Jika kita terus membiarkan pola ini berulang, maka pelecehan seksual akan terus dianggap sebagai hal yang sepele dan tidak ada jaminan bagi korban untuk mendapatkan keadilan.
Mengapa Kita Harus Berhenti Memviralkan Agus?
Salah satu hal yang paling mengkhawatirkan dari kasus ini adalah bagaimana orang-orang ikut serta dalam mempopulerkan nama pelaku. Banyak yang beranggapan bahwa “hanya ikut tren”, padahal mereka sebenarnya memberikan ruang lebih bagi pelaku untuk terus eksis di ruang publik. Dalam banyak kasus pelecehan lainnya, viralitas semacam ini justru memperkuat posisi pelaku dan membuat korban semakin terpinggirkan.
Jika kita membiarkan hal ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin pelaku lainnya akan melihat ini sebagai peluang untuk mencari perhatian. Media sosial seharusnya digunakan untuk memberikan dukungan kepada korban dan menyebarkan edukasi, bukan justru membangun citra bagi pelaku sebagai figur yang menghibur.
Cancel Culture sebagai Alat Sosial yang Harus Diterapkan
Cancel culture sering kali dipandang sebagai sesuatu yang negatif, tetapi dalam konteks kasus Agus Buntung, justru seharusnya diterapkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Cancel culture bukan sekedar untuk menghukum seseorang, tetapi lebih kepada memastikan bahwa masyarakat tidak memberikan ruang bagi pelaku kekerasan seksual untuk terus mendapatkan platform. Dengan meng-cancel Agus Buntung, kita tidak hanya menegaskan bahwa pelecehan seksual tidak dapat ditoleransi, tetapi juga memberikan peringatan bagi siapa pun yang berpikir untuk melakukan hal serupa.
Namun, cancel culture juga harus dilakukan dengan bijak. Tidak hanya sekedar menyerang pelaku secara membabi buta, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar memahami mengapa tindakan seperti ini tidak bisa diterima. Langkah konkret yang bisa diambil adalah menghentikan penyebaran konten yang menjadikan Agus sebagai bahan bercandaan, memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya membela korban, serta menekan institusi hukum agar memberikan hukuman yang setimpal. Masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua tren viral di media sosial layak untuk diikuti, terutama ketika menyangkut hal-hal yang merugikan orang lain.
Dampak Jangka Panjang Jika “Lelucon” Agus Tidak Dihentikan
Jika masyarakat terus membiarkan Agus Buntung menjadi figur viral tanpa konsekuensi, hal ini bisa berdampak buruk dalam jangka panjang. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya angka pelecehan seksual karena tindakan Agus dianggap bisa ditoleransi dan bahkan menjadi ajang hiburan. Generasi muda yang terus-menerus melihat bahwa pelaku pelecehan tidak mendapatkan hukuman yang pantas akan kehilangan rasa keadilan dan bisa menormalisasi perilaku serupa di lingkungan mereka.
Selain itu, korban pelecehan akan semakin takut untuk melapor karena melihat bagaimana Agus justru mendapatkan perhatian yang tidak pantas. Banyak dari mereka yang akan lebih memilih untuk diam karena takut tidak dipercayai atau malah menjadi sasaran ejekan. Hal ini akan semakin memperburuk budaya impunitas terhadap pelaku kekerasan seksual dan menekan korban untuk tetap dalam bayang-bayang trauma mereka.
Masyarakat harus lebih kritis dalam menyikapi fenomena viral dan tidak mudah terbawa arus tren yang merugikan orang lain. Cancel culture bukan sekedar ancaman untuk menghukum, tetapi bisa menjadi cara bagi kita untuk menunjukkan bahwa kita tidak mentoleransi perilaku yang merugikan orang lain. Kini saatnya untuk benar-benar bertindak, bukan hanya berbicara agar pelecehan seksual tidak lagi menjadi sekedar bahan hiburan, melainkan masalah serius yang harus segera diberantas.
Jika kita tidak mengambil sikap tegas sejak sekarang, maka kasus serupa hanya akan terus berulang. Saatnya kita berani mengatakan bahwa pelecehan seksual bukan sesuatu yang bisa ditertawakan, melainkan sebuah kejahatan yang harus dilawan bersama. Jangan biarkan tren sesaat mengaburkan nurani dan tanggung jawab kita sebagai masyarakat yang peduli akan keadilan.
Vania Trixie Azzahra
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB