DEPOKPOS – Pemerhati Remaja, Jauhari Novi Nurkomarini mengungkapkan, cara mengatasi culture shock di Korea adalah belajar memahami Islam.
“Cara mengatasi culture shock selama berada di Korea adalah dengan cara belajar memahami Islam, pelajari dengan mengikuti kelas-kelas Islam,” ungkapnya dalam Kajian Remaja: Proud To Be a Muslim, Jumat (24/01/2025) di salah satu SMK di Depok.
Menurut mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan S2 di Korea itu, seseorang dalam belajar membutuhkan pembimbing agar tidak salah arah.
“Kuncinya harus tahu, belajar, dan memiliki orang yang membimbing. Karena jika tanpa pembimbing nantinya bisa salah arah,” tutur aktivis yang akrab disapa Kak Novi itu.
Dengan belajar dan memahami Islam, lanjutnya, seseorang akan bisa menjelaskan ketika dihadapkan oleh situasi yang tidak sesuai dengan aturan Islam.
Dalam kesempatan yang sama, Kak Uswa, salah satu mentor keputrian menambahkan, di balik Korea yang gemerlap, ada culture yang tidak sesuai dengan norma.
“Ternyata dibalik Korea yang gemerlap ada culture-culture yang gak sesuai norma,” ungkap Kak Uswa.
Ia juga mengatakan, salah satu culture yang sedang ramai adalah yang mengharuskan 2 kru pesawat bunuh diri sebagai bentuk tanggung jawab dalam kecelakaan Jeju Air.
“Nah yang sedang ramai akhir-akhir ini, kru yang selamat dalam kecelakaan Jeju Air menerima banyak hujatan dari netizen Korea Selatan dan dituntut untuk melakukan bunuh diri sebagai bentuk tanggung jawab,” kata Kak Uswa di hadapan 70 remaja putri.
Kak Novi pun menimpali dengan menjelaskan, penyebab dari hal tersebut adalah karena adanya culture HAN.
“Betul sekali, dan penyebab dari hal itu adalah karena adanya HAN, yaitu konsep sosiokultural Korea yang kompleks berkaitan dengan rasa sakit, kebencian, kesedihan, dan dendam yang belum terselesaikan. Mereka menganggap penyesalan itu seumur hidup,” bebernya.
Tak hanya itu, menurut Kak Novi, semua ini terjadi karena ketidaktahuan mereka tentang Islam.
Pandangan Islam
Hadir pula pemateri lainnya, yakni Kak Qonita yang menjelaskan, dalam Islam kehidupan manusia dibagi menjadi dua area yaitu area yang dikuasai Allah dan area yang dikuasai manusia.
“Meninggalnya seseorang adalah takdir yang merupakan area yang dikuasai Allah. Dalam area ini manusia tidak dimintai pertanggungjawaban. Sementara cara manusia meninggal adalah pilihan manusia itu sendiri apakah memilih dengan cara yang baik atau dengan cara yang buruk, ini yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah,” ungkapnya.
Oleh karena itu, menurutnya, sebagai seorang Muslim harus bangga, karena Islam begitu sempurna dalam menghargai jiwa manusia.
“Islam itu sempurna, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an surah al-Maidah ayat 32, yang isinya menjelaskan Islam sangat menghargai jiwa manusia, maka kita harus bangga menjadi Muslim,” pungkasnya. [Mustikawati)
