DEPOKPOS – Di antara tradisi-tradisi Natal di Indonesia, perayaan Natal di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Matesih di Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, memiliki keunikan tersendiri. GKJ Matesih, yang didirikan pada tahun 1936, adalah gereja tertua di wilayah Karanganyar. Tradisi ini membawa sentuhan budaya Jawa ke dalam perayaan keagamaan, memberikan warna yang khas bagi umat Kristen Jawa di daerah tersebut.
Kisah Awal Penyebaran Kristen di Matesih
Penyebaran agama Kristen di Matesih bermula dari tiga wanita pengusaha batik asal Coyudan, Solo, yaitu Mbah Wongsorejo, Mbah Irorejo, dan Mbah Karyorejo yang mana mereka memerlukan bahan bahan batik dan menjual hasil batiknya ,karena perjalanan dari Solo ke Matesih jauh karena pada waktu itu kendaraan masih sulit .Tiga wanita tersebut akhirnya harus menginap dirumah seorang saudagar Tionghoa beragama Kristen yang kemudian memperkenalkan mereka pada ajaran agama Kristen dan pemahaman Alkitab. Setelah proses belajar yang mendalam, pada tahun 1932, ketiga wanita tersebut dibaptis oleh seorang pendeta di Gereja Margoyudan Solo dan secara resmi memeluk agama Kristen.Ketiganya kemudian merasa terdorong untuk menyebarkan ajaran Kristen di desa asal mereka, Matesih, dan berbagi pemahaman yang mereka terima.Kemudian pada tahun 1938 mereka mendirikan Gereja Kristen Jawa Matesih jemaat yang terus bertambah. Dimulai dari sembilan orang anak dari ketiga wanita ini, jemaat GKJ Matesih pun berkembang pesat dan meluas hingga mencapai generasi-generasi berikutnya.
Kendala kendala yang dialami gereja kristen Jawa Matesih hal ini diungkapkan Oleh Bapak Purnomo(Ketua Pendeta gereja kristen Jawa Matesih )”Kalau gereja di kota itu mungkin bisa lebih berkembang dibandingkan gereja di desa. Coba bayangkan, kalau sudah lulus kuliah, biasanya orang akan bekerja, dan pekerjaannya pasti di kota lain. Otomatis mereka akan berada di sana, seperti yang bekerja di Jerman atau di berbagai kota lain. Karena kesibukan masing-masing, kita tahu bahwa mereka keluar kota untuk mencari kerja dan uang demi bertahan hidup. Akibatnya, gereja yang ada di desa perkembangannya menjadi stagnan. Tidak langsung menurun, tetapi juga tidak mengalami kemajuan, hanya bertahan saja.Masalahnya, kalau anak-anak tidak pergi ke luar kota, jemaat gereja di desa akan banyak. Namun, kenyataannya, kebanyakan anak-anak yang sudah lulus sekolah atau kuliah dan kemudian bekerja akan keluar dari desa. Kalau mereka bekerja di luar kota, otomatis gereja yang menerima mereka adalah gereja di kota tempat mereka tinggal. Gereja yang di desa tidak mungkin tetap menjadi tempat mereka kebaktian. Mereka tidak akan pulang ke desa hanya untuk kebaktian saja. Mereka pasti akan mengikuti kebaktian di gereja kota. Memang sulitnya ada di situ.” Pak Dwi (Guru pendeta Gereja Kristen Jawa Matesih) juga menambahkan Kendala lain yang dialami gereja diantara lain adalah bahwa mereka selalu berusaha menjalin komunikasi yang baik sejak dini diantara anak-anak muda dengan para pemuda-pemudi agar tidak ada sekat di antara mereka. Ia berharap agar para pemuda-pemudi tidak merasa seperti anak tiri dan dapat dengan mudah menyampaikan sesuatu kepada yang lebih tua atau senior jika diperlukan.Menurut Bapak Dwi, melalui kegiatan seperti Natalan pemuda, yang hadir bukan hanya para pemuda, tetapi juga orang tua, untuk menjembatani komunikasi antara generasi muda dan tua sehingga hubungan tetap terjalin. Kendala yang sering dihadapi adalah rasa sungkan dari pihak muda terhadap yang tua, sehingga mereka berusaha agar orang tua lebih mendekat terlebih dahulu. Setiap kegiatan pun diusahakan ada pendampingan dari yang lebih tua, bukan untuk membatasi, melainkan agar para muda-mudi merasa diperhatikan dan komunikasi dapat terjalin dengan baik.
. Agar dapat tercipta suasana hangat dan kebersamaan gereja mempunyai struktur yaitu pendeta dan majelis gereja ,majelis gereja ini mempunyai dua struktur yaitu tua tua dan diaket ,tua tua berfokus sebagai pengajaran sedangkan yang diaket berfungsi sebagai pelayanan sosial kepada jemaat dan warga sekitar.
Kegiatan Gereja Kristen Jawa Matesih
Di GKJ Matesih, perayaan Natal bukan hanya menjadi momen sakral untuk mengenang kelahiran Yesus Kristus, tetapi juga menjadi ajang untuk melestarikan budaya Jawa melalui berbagai kegiatan tradisional. Para jemaat tetap aktif dalam berbagai kegiatan rohani, seperti pemahaman Alkitab setiap hari Rabu dan latihan koor dan kelompok doa di hari hari tertentu.Bapak Tono (jemaat Gereja Kristen Jawa Matesih) mengungkapkan bahwa “Sejak kecil, orang tua dan eyang saya sudah masuk ke gereja Kristen. Kami merasa nyaman karena di sana tidak ada fitnah, kebencian, atau iri hati. Kami hanya melaksanakan ajaran kehidupan yang baik. Kami mendukung penuh kegiatan gereja, seperti perayaan, bakti sosial, dan paduan suara. Jangan sampai kita berbicara hal yang buruk, karena prinsipnya adalah kebaikan. Kita mengikuti Alkitab yang mengajarkan hal-hal baik. Setiap hari Rabu, saya senang mengikuti pemaknaan Alkitab. Pada hari itu, kita saling mendoakan, mengasihi, dan berkumpul bersama”.Bapak Tono(jemaat Gereja Kristen Jawa Matesih)juga menambahkan bahwa ia senang dapat bergabung dengan GerejaKristen Jawa Matesih dan mendukung penuh kegiatan gereja.
Bapak Suripto(Pendeta Gereja Kristen Jawa Matesih) menjelaskan bahwa ia dan teman-temannya telah membentuk grup karawitan di Krangean Tawangmangu Setiap Jum’at sore dan Sabtu pagi dan mendatangkan pelatih dengan tujuan mengenal lebih dalam budaya Jawa. Ia juga menambahkan bahwa soal kemampuan menabuh gamelan bukanlah hal yang terlalu prinsip, karena ia dan teman-temannya hanya ingin mencoba salah satu dari sekian banyak budaya Jawa.
Kehadiran karawitan dalam rangkaian acara Natal menciptakan suasana kekeluargaan dan menjadi simbol kebersamaan bagi para jemaat GKJ Matesih. Musik gamelan yang dimainkan bukan sekadar hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan keteduhan dan kerohanian, menyatukan iman dengan akar budaya lokal.Grup karawitan ini memainkan alat musik tradisional Jawa, seperti gamelan, yang menghasilkan irama khas dan syahdu. Selain sebagai hiburan, pembentukan grup karawitan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal, menjaga identitas budaya, dan menciptakan suasana keakraban di antara para anggotanya.Pada tanggal 16 November, Gereja Kristen Jawa Matesih mengadakan pentasbisan pendeta dalam hal ini menggunakan tata cara kejawen yang menggunakan iringan musik gamelan kemudian pengurus gereja berpakaian kejawen laki laki menggunakan beskap dan keris sedangkan wanita menggunakan kebaya.Sesekali Gereja Kristen Jawa Matesih menampilkan pertunjukan Wayang Wahyu yang mengambil pembelajaran dari Alkitab dapat menjadi sarana edukasi sekaligus hiburan.Dalam hal beribadah Para jemaat dan komunitas gereja dalam tata cara beribadah menggunakan bahasa Jawa 1 bulan 2 kali untuk tetap melestarikan budaya Jawa. Tujuanya adalah untuk melestarikan budaya Jawa agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Persiapan Natal: Gotong Royong dan Kekeluargaan
Sebelum hari Natal tiba, para jemaat GKJ Matesih sudah mempersiapkan diri dengan berbagai kegiatan yang kental dengan semangat gotong royong dan kebersamaan. Para anggota gereja biasanya berkumpul untuk membersihkan lingkungan gereja, mendekorasi ruangan dengan ornamen-ornamen khas Natal,dan memasang pohon Natal. Dekorasi ini tidak sekadar memperindah gereja, tetapi juga menyimbolkan nilai-nilai tradisional yang terus dijaga.
Selain itu, setiap keluarga di jemaat biasanya terlibat dalam latihan bersama untuk ibadah khusus Natal, termasuk latihan musik, drama dan persiapan koor. Anak-anak, remaja, hingga lansia ikut serta dalam perayaan ini, menciptakan ikatan emosional yang kuat di antara mereka.Sebelum mempersiapkan natal biasanya ibu ibu dari para jemaat dan komunitas gereja juga berperan untuk menyiapkan konsumsi untuk perayaan natal dan juga Rangkaian kegiatan ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas di antara para jemaat, mempererat hubungan mereka satu sama lain.
Tradisi Momen Natal di GKJ Matesih
Puncak perayaan Natal di GKJ Matesih adalah ibadah malam Natal, di mana para jemaat berkumpul dalam suasana penuh khidmat dan syukur. Ibadah ini biasanya dipimpin oleh pendeta yang membawakan pesan-pesan Alkitab dengan pendekatan yang meresapi nilai-nilai Jawa.Bapak Dwi (Guru pendeta gereja kristen Jawa ) mengungkapkan “Hubungan kami dengan Allah kami dekat dan bahkan sangat dekat sehingga kami mengganggap Allah bukan Allah yang jauh tetapi Allah yang melawat manusia bukan hanya setiap waktu tetapi setiap saat “.Tradisi ini menciptakan perpaduan antara ajaran Kristen dan nilai budaya lokal yang mendalam
Selesai ibadah, Sesekali ketika moment perayaan hari Natal jemaat dan komunitas gereja mengadakan acara wisata Natal pada tahun ini wisata Natal diadakan di Ngargoyoso,Kemuning.Bapak Dwi(Gurupendeta Gereja Kristen Jawa Matesih)juga menambahkan “Pada setiap perayaan hari besar dan Natal biasanya ada kegiatan bakti sosial berupa pembagian sembako dan kebutuhan sehari -hari terhadap masyarakat sekitar dan warga yang kurang mampu namun ,karena masih terbatas harapan kedepannya supaya dapat melayani masyarakat lebih luas lagi”. Untuk keamanan , masyarakat sekitar dan umat agama lain yang berbeda agama juga turut andil untuk menjaga keamanan supaya ibadah Natal dapat berjalan lancar .Contohnya seperti pasukan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) sering dikerahkan untuk mengamankan gereja, terutama dalam perayaan Natal.
Pasca Natal Menjaga Kebersamaan dan Semangat Kekeluargaan
Setelah perayaan Natal, kegiatan di GKJ Matesih tidak langsung berhenti. Para jemaat tetap aktif dalam berbagai kegiatan rohani, seperti pemahaman Alkitab setiap hari Rabu ,drama ,latihan koor dan kelompok doa di hari hari tertentu . Hal ini bertujuan untuk menjaga semangat kekeluargaan dan kebersamaan yang telah dibangun selama perayaan Natal. Selain itu, grup karawitan juga tetap melanjutkan latihan mereka sebagai bagian dari upaya untuk terus melestarikan budaya Jawa di dalam gereja.
Melestarikan Tradisi dan Keimanan
Gereja Kristen Jawa Matesih di Matesih, adalah contoh hidup dari perpaduan antara tradisi dan keimanan yang berjalan berdampingan. Melalui perayaan Natal dan kegiatan-kegiatan komunitas yang digelar sepanjang tahun, gereja ini terus memperkuat jati dirinya sebagai komunitas Kristen yang setia pada iman dan juga tradisi lokalnya. Dalam dunia yang terus berubah,para jemaat dan komunitas Gereja Kristen Jawa Matesih secara aktif mendukung seluruh kegiatan yang diselenggarakan oleh gereja. Dukungan ini mencerminkan semangat keagamaan yang hidup, berkesinambungan, dan terus terjaga. Melalui silaturahmi yang erat, mereka saling menjaga, memperkuat kebersamaan, dan mendukung satu sama lain dalam menjalankan kehidupan beriman.
.Gereja kristen Jawa juga beradaptasi terhadap kebudayaan berkembang dan tidak stagnan dan monoton . Gereja juga dinamis mengikuti perkembangan zaman melalui Renovasi gereja . Dahulu, gereja tidak menggunakan organ, namun sekarang sudah menggunakan organ. Sebelumnya, tidak ada sound system, tetapi kini telah tersedia sound system. Begitu pula dengan LCD, yang dulu belum ada, sekarang digunakan untuk memudahkan jemaat dalam mengikuti ibadah dan memperlancar kegiatan gereja. Bapak Totok(kepala dusun Matesih) mengungkapkan bahwa “segala bentuk kegiatan gereja kristen Jawa Matesih kami akan melindungi ,mengayomi dan mengamankan berdasarkan undang -undang dasar serta pengamalan Pancasila sila pertama.
Cahya Khairina Sekar Arum


