Scroll untuk baca artikel
Artikel

Mengenal Film “Hafalan Shalat Delisa” dari Sudut Pandang Psikologi

×

Mengenal Film “Hafalan Shalat Delisa” dari Sudut Pandang Psikologi

Sebarkan artikel ini
Mengenal Film “Hafalan Shalat Delisa” dari Sudut Pandang Psikologi

DEPOKPOS – Film Hafalan Shalat Delisa (2011) disutradarai oleh Sony Gaokasak merupakan adaptasi dari novel karya Tere Liye. Menceritakan tentang Delisa seorang gadis kecil yang selamat dari tsunami Aceh. Film ini menarik sekali untuk dianalisis dari sudut pandang psikologi, terutama yaitu dalam hal trauma, ketahanan mental, dan pengembangan karakternya.

Film ini menggambarkan bagaimana Delisa (Chantiq Schagerl) mengalami trauma yang sangat mendalam setelah kehilangan ibu dan kakak-kakaknya karena bencana tsunami. Dalam Psikologi, trauma dapat mengganggu perkembangan emosional anak dan cara mereka berinteraksi. Meskipun masih muda Delisa harus menghadapi kenyataan yang pahit. Delisa tidak hanya kehilangan keluarganya tetapi juga menghadapi amputasi pada salah satu kakinya. Pengalaman traumatis ini menciptakan dampak psikologis yang sangat signifikan, dapat terlihat dari perilaku dan emosi Delisa di sepanjang film.

Fokus utama dalam film ini adalah ketahanan psikologis Delisa. Meski mengalami amputasi di salah satu kakinya dan kehilangan orang-orang terdekat, Delisa menunjukkan semangat yang luar biasa untuk melanjutkan hidup. Ia terus berusaha untuk menghafal bacaan shalat meski dalam keadaan terpuruk. Dari perspektif psikologi, ketahanan ini mencerminkan kemampuan individu untuk bangkit dari kesulitan serta menemukan makna dalam sebuah penderitaan. Delisa menggambarkan bagaimana iman dan harapan yang dijadikan sumber kekuatan menghadapi tantangan hidup.

Konflik batin yang dialami Delisa juga menarik untuk dianalisis. Ia berjuang antara rasa kehilangan yang amat mendalam dan keinginan untuk melanjutkan hidup. Dalam teori psikologi Sigmund Freud, konflik ini dapat dilihat sebagai pertarungan antara id (keinginan untuk merasa nyaman) dan superego (harapan moral yang ditanamkan oleh orang tua dan masyarakat). Delisa berusaha mengatasi rasa sakitnya melalui hafalan shalat sebagai bentuk coping mechanism. Delisa berusaha untuk memenuhi harapan ibunya untuk menghafal shalat, sementara di sisi lain Delisa merasa tertekan oleh situasi yang dihadapi. Namun proses ini juga menjadi cara Delisa untuk menemukan kembali tujuan hidupnya. Konflik ini menciptakan ketegangan internal dinamika emosional yang kompleks.

Lingkungan sosial Delisa juga memainkan peran penting dalam proses penyembuhannya. Dapat dilihat dari bagaimana dukungan teman-teman serta relawan yang membantu Delisa untuk tetap optimis dalam menghadapi banyak kesulitan. Dalam psikologi sosial, dukungan sosial memiliki dampak yang positif terhadap kesehatan mental individu, terutama bagi mereka yang mengalami trauma. Support positif dari orang-orang sekitar membantu Delisa untuk menemukan tujuan hidupnya kembali.

Keluarga adalah elemen kunci dalam psikologi perkembangan anak. Hubungan Delisa dengan ibunya sebelum tragedi menggambarkan kasih sayang dan ikatan emosional yang kuat. Kehilangan akibat bencana tsunami tidak hanya berdampak pada Delisa secara individu saja tetapi juga memengaruhi cara dia memandang hubungan interpersonal lainnya setelah tragedi tersebut.

Film ini juga menyoroti pentingnya iman dan takwa dalam proses penyembuhan psikologis Delisa. Gadis kecil ini mengandalkan doa serta hafalan shalat untuk cara menemukan ketenangan di tengah kekacauan emosional yang dialami dirinya. Ini mencerminkan konsep spiritualitas dalam psikologi, yakni keyakinan agama dapat memberikan dukungan emosional dan membantu individu dalam menghadapi kesulitan hidupnya.

Secara keseluruhan, film Hafalan Shalat Delisa memberikan pandangan yang mendalam tentang bagaimana seorang anak mengalami trauma dan kehilangan. Melalui karakter Delisa yang menggambarkan perjalanan ketahanan psikologis yang sangat luar biasa di tengah bencana alam. Konflik batin yang dialami Delisa menciptakan ketegangan emosional sehingga membuat penonton pun ikut merasakan perjuangannya. Film ini tidak hanya menggugah emosi tetapi juga memberikan wawasan tentang pentingnya dukungan sosial dan kekuatan iman taqwa dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan demikian, film ini bukan sekadar tentang kisah bencana alam tetapi juga refleksi tentang ketahanan manusia serta kemampuan menemukan harapan dalam kegelapan. Film ini mengajak untuk merenungkan nilai-nilai ketabahan, cinta, dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup yang berat.

Hanum Al Hamasah
Mahasiswa S1 Psikologi UNS