Scroll untuk baca artikel
Health

Beban Tas dan Cara Duduk Mempengaruhi Skoliosis pada Remaja

×

Beban Tas dan Cara Duduk Mempengaruhi Skoliosis pada Remaja

Sebarkan artikel ini
Beban Tas dan Cara Duduk Mempengaruhi Skoliosis pada Remaja

DEPOKPOS – Skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang memiliki kurva yang menyerupai huruf “C” atau “S”. Pada remaja, skoliosis sering terjadi secara idiopatik. Banyak orang di Indonesia belum mengetahui dan mendapatkan informasi yang tepat tentang skoliosis.

Jadi, pengetahuan sangat penting baik untuk mereka yang belum mengalami maupun mereka yang telah mengalaminya. Selain itu, skoliosis dapat disebabkan oleh posisi duduk yang salah dan penggunaan ransel yang terlalu berat.

Menurut “The National Scoliosis Foundation” di Amerika Serikat, sekitar 80 persen kasus skoliosis adalah idiopatik (penyebabnya tidak diketahui). Sekitar 20 persen kasus lainnya adalah efek samping dari kelainan neurologis yang mendasari, seperti distrofi otot dan spina bifida.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dumondor (2015), penggunaan ransel yang tidak sesuai dapat menyebabkan nyeri punggung, perubahan postur tubuh, dan gaya berjalan yang tidak dapat diperbaiki. Selain itu, penggunaan ransel yang tidak sesuai secara konsisten dapat menyebabkan perubahan yang tidak dapat diperbaiki karena ligamen dan tulang belakang berkembang seiring bertambahnya usia.

Hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan pertumbuhan otot dan tulang rangka, serta beberapa masalah postur lainnya. Skoliosis adalah deformitas postur yang sering terjadi pada remaja.(Puspasari & Dwiningsih, 2018)

Apa Itu Fisioterapi?

Banyak orang di Indonesia belum mengetahui atau mendapatkan informasi yang tepat tentang skoliosis, fisioterapi adalah kuncinya.

Pelayanan kesehatan yang dikenal sebagai fisioterapi bertujuan untuk membantu individu atau kelompok untuk mempertahankan, dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh mereka sepanjang hidup mereka. Dengan fisioterapi, kita diharapkan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan aman dan nyaman.

Menurut Permenkes Nomor 65 tahun 2015 tentang standar pelayanan fisioterapi, fisioterapi memiliki tujuan untuk mendorong, mencegah, intervensi, dan pemulihan gerak dan fungsi tubuh.

Mengapa Beban Tas dan Cara Duduk Yang Kurang Baik Mempengaruhi Skolosis pada Remaja?

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi mengungkapkan, data terbaru menunjukkan bahwa 1,48 juta orang, atau 10% dari total penduduk di Provinsi Jakarta pada tahun 2018–2019, adalah usia sekolah dengan potensi tinggi terkena scoliosis, yang merupakan indikasi yang signifikan bahwa angka kejadian scoliosis yang mungkin terjadi di Provinsi Jakarta adalah 10%, dan tentu saja ini adalah angka yang pasti akan terjadi.

Sebuah jurnal penelitian yang dipublikasikan Jurnal Ilmiah Fisioterapi yang berjudul “Hubungan Beban Tas Dengan Resiko Skoliosis Pada Remaja” menunjukan hasil signifikan nialai beban tas dengan nilai p=0,007. Jadi, ada hubungan antara beban dan kemungkinan terjadinya skoliosis pada siswa SMK Negeri 60, Jakarta Barat.

Selama mereka menggunakan tas dengan beban yang sama setiap hari, beban tas berdampak pada otot-otot tulang belakang, menyebabkan tulang belakang miring ke satu sisi. Beban tas sangat mempengaruhi bagaimana tulang belakang berkembang saat mereka tumbuh. (Yolanda Anggita, 2021)

Cara membawa beban tas dan posisi duduk saat belajar yang kurang baik dapat menyebabkan nyeri punggung yang memicu terjadinya skoliosis. Banyak orang tidak tahu mereka menderita skoliosis. Saat kemiringan tulang belakang semakin tajam, penderita baru menyadarinya. Meskipun demikian, risikonya juga akan semakin besar, termasuk kemungkinan mengganggu fungsi beberapa organ penting.

Pencegahan Skoliosis pada Remaja

1. Pencegahan Dini Melalui Pemeriksaan Rutin

Pemeriksaan rutin untuk pencegahan dini sangat penting untuk mencegah perkembangan skoliosis. Pemeriksaan rutin oleh profesional medis, seperti dokter atau fisioterapis, dapat membantu menemukan tanda-tanda skoliosis sejak dini, memungkinkan penanganan dimulai lebih awal.

2. Menerapkan Postur yang Benar

Sangat penting untuk mengajarkan remaja untuk mempertahankan postur tubuh yang sehat saat beraktivitas sehari-hari. Untuk mencegah skoliosis, duduk dengan punggung tegak, berdiri dengan posisi yang seimbang, dan tidak membungkuk.

3. Menghindari Beban Berat yang Tidak Sesuai

Remaja harus diingatkan untuk menghindari mengangkat barang yang terlalu berat atau membawa tas dengan beban satu sisi yang lebih berat. Ini karena mengangkat beban yang terlalu berat atau membawa tas punggung dengan beban yang tidak seimbang dapat menyebabkan tekanan berlebihan pada tulang belakang.

4. Olahraga Teratur untuk Meningkatkan Kekuatan Otot

Berolahraga secara teratur, seperti berenang, yoga, atau latihan kekuatan otot, dapat membantu Anda mempertahankan kekuatan dan fleksibilitas Anda serta membantu Anda menghindari kelainan postur yang dapat menyebabkan skoliosis. Selain itu, aktivitas fisik ini dapat membantu mengurangi tekanan yang terletak pada tulang belakang.

Perkembangan skoliosis pada remaja dapat disebabkan oleh beban tas yang berlebihan dan kebiasaan duduk yang salah. Jika tidak ditangani dengan benar, kondisi ini mempengaruhi postur tubuh dan dapat menyebabkan ketegangan pada tulang belakang. Untuk menjaga kesehatan tulang belakang remaja, pencegahan sejak dini, seperti mengatur beban tas dan kebiasaan duduk yang benar, sangat penting.

Skoliosis dapat diobati dengan baik dan memungkinkan remaja untuk tumbuh dengan postur yang sehat dan bebas dari masalah. Jika Anda mengalami gangguan pada tulang belakang Anda segeralah untuk konsultasi dengan dokter atau ahli fisioterapi untuk mendapatkan diagnosis dan saran tambahan. Jangan sampai terkena skoliosis!

Novia Fitri Aliim
Prodi Fisioterapi Universitas Binawan