Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah dalam sirkulasi, atau jumlah hemoglobin yang lebih rendah dari normal. Secara umum anemia dapat di klasifikasikan menjadi anemia defisiensi besi, anemia megaloblastic, anemia hipoplastik dan aplastic, dan serta adanya juga anemia himolitik. Tetapi anemia defisiensi besi (ADB) merupakan anemia yang paling banyak terjadi pada remaja karena kebutuhan pertumbuhan mereka yang meningkat. Penyakit ini disebabkan karena kurangnya zat besi di dalam tubuh si penderita.
Anemia defisiensi besi lebih sering terjadi pada remaja perempuan dibandingkan remaja laki-laki. Menurut data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, prevalensi anemia gizi pada remaja perempuan (10–18 tahun) adalah 57,1% karena remaja perempuan cenderung mengikuti pola makan yang dapat mengakibatkan penurunan asupan nutrisi yang mengandung zat besi, dan juga siklus menstruasi setiap bulan yang menjadi salah satu faktor predisposisi remaja putri mengalami anemia defisiensi besi.
Fase transisi dari awal hingga akhir masa remaja, yang berlangsung antara usia 12 hingga 14 tahun, merupakan masa eksplorasi identitas, dan pengaruh lingkungan yang cepat. Remaja yang merasa cemas dengan tubuhnya sengaja menghindari makan, atau memilih makan di luar. Perilaku ini berbahaya bagi kesehatan remaja, termasuk anemia, dan dapat menyebabkan kerawanan pangan karena asupan gizi yang tidak mencukupi. Fungsi zat besi yang terpenting adalah dalam perkembangan sistem saraf yaitu diperlukan dalam proses mielinisasi, neurotransmitter, dendritogenesis dan juga metabolisme saraf.
Penyebab serta faktor umum terjadinya anemia :
KEKURANGAN ZAT BESI
Kekurangan zat besi merupakan penyebab utama anemia, yang biasanya menyerang banyak orang. Zat besi sendiri merupakan zat yang dapat menghasilkan darah merah dalam tubuh; oleh karena itu, jika Anda berhenti mengonsumsi zat besi, jumlah darah merah akan berkurang, yang akan mengakibatkan anemia.
TIDAK BISA MEYERAP ZAT BESI
Jika Anda telah mengonsumsi makanan atau suplemen yang mengandung zat besi, tetapi Anda masih mengalami gejala anemia, itu berarti tubuh Anda tidak dapat menyerap zat besi. Zat besi tidak terkandung dalam tubuh Anda; melainkan hanya dipicu oleh tubuh Anda.
PENDARAHAN
Pendarahan yang berlebihan itu dapat menjadi salah satu penyebab anemia, dan dapat terjadi saat persalinan, dan bahkan kecelakaan yang menyebabkan kehilangan banyaknya darah.
KURANG MENGKONSUMSI PROTEIN HEWANI
Protein hewani juga sangat penting untuk dikonsumsi karena dapat meningkatkan jumlah merah dalam tubuh.
MENSTRUASI
Selama menstruasi, beberapa wanita mengalami anemia karena jumlah darah yang dikeluarkan banyak, dan zat dalam tubuh berfluktuasi.
OPERASI
Umumnya, saat menjalani operasi, akan mengalami banyak darah dan juga zat, oleh karena itu saat prosedur selesai, mungkin akan mengalami anemia.
DIET KETAT
Ketika mengikuti diet ketat, akan mengonsumsi lebih sedikit protein secara keseluruhan. Asupan protein yang rendah dapat mudah terkena anemia.
MIMISAN
Mimisan yang diatasi dengan buruk dapat mengakibatkan anemia parah karena akan menyebabkan kehilangan banyak darah.
Gejala anemia pada remaja :
- 5 L yaitu, (lesu, lemah, letih, lelah, lunglai).
- Sering mengeluh pusing.
- Bibir, lidah, kelopak mata, kulit, serta telapak tangan menjadi pucat.
- Mudah tersinggung.
- Kurang berenergi.
- Dan sakit pada dada.
Penanganan serta pencegahan anemia pada remaja :
• Langkah awal dalam penanganan anemia dapat berupa edukasi atau konseling kepada siswa tentang kondisi tersebut.
• Dipercaya dapat mengurangi kebutuhan gizi dengan mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi tinggi.
• Mengikuti anjuran untuk menkonsumsi tablet tambah darah upaya pencegahan terkenanya anemia.
• Diharapkan Remaja berperan aktif mencari informasi tentang penyebab dan akibat anemia.
Nur Sri Intan
D4 TLM, Universitas Binawan
