Scroll untuk baca artikel
Oase

Program Pengarusutamaan Gender Menimbulkan Masalah Baru

×

Program Pengarusutamaan Gender Menimbulkan Masalah Baru

Sebarkan artikel ini

DEPOK – Kondisi para ibu saat ini menghadapi berbagai permasalahan keluarga, salah satunya ekonomi yang diselesaikan dengan Program Pengarusutamaan Gender (PUG). Bukannya menyelesaikan, namun justru menimbulkan masalah baru.

Hal tersebut diungkap Mubaligah Kota Depok Ustazah Sri Agustini dalam Kajian Muslimah Bulanan, Ibu Benteng Generasi Tangguh, Sabtu, (09/11/2024) di Masjid Hidayatul Husaini, Curug, Cimanggis.

Ia pun menambahkan, permasalahan ini timbul sebenarnya akibat informasi keliru yang diberikan kepada masyarakat tentang Pengarusutamaan Gender. Bahwa perempuan itu ga perlu melulu di kasur, dapur, sumur. Perempuan harus berdaya di semua gelanggang.

“Mind set perempuan berdaya yang diberikan pada program ini adalah perempuan yang bisa keluar rumah, kaya raya, yang bisa mengendarai mobil, dan bisa kemana-mana. Apakah ini buruk? Sebenarnya ini tidak buruk, tapi ini bisa merubah orientasi hidup kaum perempuan yang menyebabkan terbengkalainya urusan rumah tangga,” tutur Sri penuh semangat di hadapan puluhan ibu peserta kajian.

Lantas, menurutnya, perempuan tidak harus jadi tulang rusuk lagi, tapi harus jadi tulang punggung. Perempuan tidak bisa mengandalkan suami saja untuk dapatkan penghasilan, namun mereka juga harus bisa menghasilkan uang.

“Bahasa yang digunakan bagus, ‘pemberdayaan ekonomi perempuan’. Kalau ibu-ibu searching kata kunci ibu tangguh di YouTube, yang keluar ada banyak sekali. Salah satunya ‘inilah ibu tangguh, dia ibu rumah tangga sekaligus supir truk tronton’. Menurut saya ini pelecehan banget,” paparnya.

“Ibu kerja di dapur capek ga, Bu? Apalagi di dapur iya, nyupir truk iya, nanti pulang dikerjai suami juga. MasyaAllah.. kayak apa itu bebannya, Bu? Di negeri ini, perempuan yang seperti itu justru diagung-agungkan,” tuturnya.

Ia pun menambahkan, di surah al-Hujurat ayat 13 diberitahukan, Allah menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan dan dari berbagai suku, supaya manusia bisa saling mengenal dan berjalan dalam hidup dengan baik, sesuai dengan misi penciptaan-Nya.

“Maka Allah Al Alimul Hakim menurunkan syariah Islam. Adanya perbedaan pria dan wanita bukan untuk merendahkan. Dalam Islam kedudukan pria dan wanita dilihat dari derajat ketakwaan masing-masing. Tapi Barat menggembar-gemborkan yang sebaliknya. Islam dianggap merendahkan perempuan karena penanggung jawab rumah tangga adalah laki-laki. Padahal sebenarnya itu bertujuan untuk memuliakan perempuan,” terang Sri yang juga seorang tenaga didik di sekolah Islam Kota Depok.

“Lalu bagaimana agar laki-laki dan perempuan bisa terus hidup bersama dengan baik?” tanyanya kepada para peserta kajian.

Lanjutnya, isi kehidupannya dengan keimanan dan ketaatan pada syariah. Beriman harus mengikatkan akal dan hati, akal dan perasaan, aqliyah dan nafsiyah, sehingga bisa beramal.

“Kalau belum terikat akal dan hatinya, iman itu hanya di mulut tho’, asyhadu Ala Ila ha illallah… tapi tidak beramal. Itu berarti belum diikat. Seorang istri sering marah-marah, sering bentak, sampai piring-piring dihancurkan, atau ada wanita yang mencekik dan membuang anaknya. Nah, itu sudah lepas antara iman dan perasaannya. Mengisi kehidupan dengan keimanan dan ketaatan pada syariah, telah menjadikan Islam sebagai solusi nyata terhadap berbagai problem gender kaum Ibu,” pungkasnya. [Fatmah R. Ginting]