Scroll untuk baca artikel
Oase

Integritas Seorang Pemimpin Berdasarkan Perspektif Islam

×

Integritas Seorang Pemimpin Berdasarkan Perspektif Islam

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Integritas seorang pemimpin sangat penting dalam dunia kepemimpinan, berawal dari bagaimana dia berbicara untuk mempengaruhi orang lain, menjaga nilai moralitasnya dimanapus berada, mengatakan sejujurnya dan memiliki wibawa dan kharisma dalam memimpin.

Pemimpin memiliki begitu banyak tugas yang perlu di emban sebagai manifestasi aspirasi rakyat yang mempercayainya, dan juga mau bersinergi dalam mewujudkan visi dan misi, tanpa adanya deksriminasi dan penindasan terhadap kalangan tertentu.

Jiwa pemimpin dibangun dengan tujuan dapat memberikan arah yang konkrit untuk rakyatnya, dan bisa menjadi penerus di masa yang akan datang demi kelangsungan kehidupan terhadap regulasi yang diciptakan untuk kedamaian dan keadilan oleh seluruhnya. Dalam islam juga mengajarkan konsep seorang pemimpin berdasarkan dari rujukan Al-Qur’an dan hadist sebagai versi terbaik pemimpin, yang memiliki integritas dalam mengatur segala aspek kehidupan terhadap suatu isu yang akan berdatangan.

Dalam islam pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar, dan akan dimintai pertanggung jawabannya di dunia, oleh rakyat terhadap masa akhir jabatannya, janjinya, aspirasi rakyat yang tidak kunjung di wujudkan, juga di akhirat kelak oleh Allah SWT sebagai konsekuensi atas tindakan yang ia buat selama menjabat apakah baik atau jahat, ini adalah suatu akhlak menurut pandangan islam, bahwa setiap apa yang dilakukan tak luput dari pengawasan dari sang maha pencipta, juga pengimplementasian yang tidak jauh dari sumber Al Qur’an dan Hadist, sehingga apa-apa yang diperbuat tidak mendekati kekufuran.

Pemimpin yang memiliki sikap integritas adalah suatu hal yang penting dalam memimpin, bagaimana moral yang terbentuk ini bisa memberikan jalan yang lurus, layaknya nahkoda yang berlayar di lautan.

Sosok pemimpin yang dapat bisa kita lihat ataupun dijadikan teladan dalam agama islam adalah rasulullah SAW, bagaimana banyak sekali kisah heroik beliau yang memimpin umatnya di tengah kemusyirikan yang merajalela pada saat itu, akan tetapi beliau dapat dengan teguh menyerukan terhadap semua khalayak untuk mau membuka mata dan mengajak untuk beriman kepada Allah dan Rasulnya, tidak hanya beliau, banyak sekali yang dapat kita jadikan rujukan pemimpin yang berintegritas seperti Al Fatih pada usia mudanya menakhlukan konstatinopel dengan gaya kepemimpinan berani, adil, dan strategis, BJ Habibie yang mereformasi nilai tukar rupiah pada saat krisis ekonomi dengan gaya kepemimpinan yang visioner, demokratis dan berjiwa nasionalis, ini adalah salah satu nilai-nilai kepemimpinan yang memiliki integritas dalam membangun perwujudan dari prinsip yang telah dibuat dengan tekad yang kuat.

Rasulullah juga telah memberikan perhatian terhadap kecacatan integritas seorang pemimpin, hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Al-Aas, di mana Rasulullah SAW bersabda: “Empat (sifat), barangsiapa yang ada padanya empat ini, maka ia seorang munafik sejati. Dan barangsiapa yang ada padanya satu sifat dari empat ini, maka ia mempunyai satu sifat kemunafikan sehingga ia meninggalkannya: (1) Jika diberi amanat, dia berkhianat. (2) Jika berbicara, dia berdusta. (3) Jika berjanji, dia mengingkari. (4) Jika bertengkar, dia melampaui batas.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadist ini kita seharusnya memahami bahwa pemimpin yang memiliki sikap munafik akan memberikan dampak kerugian dari yang ia mimpin, seperti tidak Amanah, maka tidak berjalan program bagi aspirasi rakyat, tidak jujur maka akan terjadi korupsi, dan lainnya. Perlu kita bangun jiwa pemimpin yang memiliki integritas dalam mengemban Amanah, Beberapa hal yang perlu diterapkan dalam membangun pemimpin berdasarkan pandangan islam yang berintegritas :

1. Shidiq : yang artinya kejujuran, pemimpin harus terbuka terhadap khalayak, tidak menutupi ataupun melakukan kebohongan yang akan memberikan efek hilangnya kepercayaan, juga kharisma dalam mengatur suatu informasi yang perlu diungkapkan. Tentu jika terjadi seperti ini maka akan ada banyak perseteruan dan prasangka buruk terhadap pemimpin, sehingga hilang rasa hormat dalam jiwa kepemimpinannya

2. Fatonah : Cerdas. Pemimpin harus memiliki daya pikir yang kritis terhadap suatu isu, yang akan menjadikan sebuah pelajaran terhadap khalayak, pemimpin juga perlu bijaksana dalam mengolah sebuah analisis dari isu yang ada, demi menegakan keadilan terhadap regulasi, demi meminimalisir kesalahan-kesalahan manusia di dunia.

3. Tabliq : Artinya Menyampaikan. Yang berarti pemimpin dapat memberikan retorika dalam menyampaikan informasi sehingga para pendengar mudah memahami dan mampu dipengaruhi untuk melaksanakan sesuai perintah yang diberikan yang nantinya system dapat berjalan lancar untuk kemaslahtan umat.

4. Amanah : Artinya Dapat dipercaya. Bagaimana para pemimpin dapat menunjukan reputasi yang baik atas kejadian yang menimpanya, menjauhi dari segala hal yang merusak moral, dengan melakukan yang dilarang oleh Allah, yang menjadikan ia menjadi seorang pendosa.

Jangan lupa bahwasannya Allah menciptakan dan menghendaki seluruhnya agar menjadi seorang yang khalifah(pemimpin) di dunia, pada Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 30

وَاِ ذْ قَالَْ رَبُّكَْ ىِٕكَةِْ
لِ لمَل اِ نِ يْ جَاعِ لْ ْفِى ا لَْ رضِْ خَلِ يفَة قَالُ وْٓا اَتَ جعَلُْ ْفِ يهَا مَ نْ يُّ فسِدُْ ْفِ يهَا وَيَ سفِكُْ ال دمَاٰۤ ءَْ وَنَ حنُْ نُسَب حُْ بِحَ مدِكَْ ْ
وَنُقَ دسُْ لَكَْ قَالَْ اِ نِ يْْٓ اَ علَمُْ ْمَا لَْْتَ علَمُ ونَْ ٣٠

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””

Sebagai pengingat diantara kita, disuatu hari pasti ada saatnya kita memimpin, dan pemimpin integritas inilah sebuah aset yang berharga untuk kemaslahatan umat, juga menjadi teladan terhadap penerus nanti. Pemimpin yang berintegritas pada pandangan umat islam ini sangat identik dengan istilah khalifah, secara etimologinya yaitu pengganti/wakil setelah rasulullah wafat. Ajaran-ajaran yang terkandung pada Al-Qur’an dan Hadist sangat sempurna untuk sumber/landasan jiwa kepemimpinan seseorang, bagaimana mengatur dan secara tidak langusung merasa diawasi oleh sang maha pencipta yang bertujuan bisa hidup damai di surga pada saat kematian kelak.

Muhammad Ridwan Al Farisi