Revolusi Logistik di Era E-commerce: Strategi dan Teknologi yang Digunakan untuk Memenuhi Tuntutan E-commerce

Revolusi Logistik di Era E-commerce: Strategi dan Teknologi yang Digunakan untuk Memenuhi Tuntutan E-commerce

Lembaga riset e-commerce dari Jerman, ECBD, menyebut Indonesia menjadi negara dengan proyeksi pertumbuhan e-commerce tertinggi di dunia pada 2024

DEPOKPOS – Trend belanja online di Indonesia melesat dengan pesat, mengubah cara konsumen memenuhi kebutuhan mereka secara revolusioner. Berdasarkan Katadata Media Network yang dilansir pada 25 Juni 2019, menyebutkan bahwa menurut Lembaga riset e-commerce dari Jerman, ECBD, menyebut Indonesia menjadi negara dengan proyeksi pertumbuhan e-commerce tertinggi di dunia pada 2024. Tingkat pertumbuhannya menyentuh 30,5%. Proyeksi itu lebih tinggi hampir tiga kali lipat dari rerata global yang sebesar 10,4%.

Pertumbuhan yang sangat cepat ini didorong oleh beberapa faktor kunci, termasuk peningkatan akses internet, adopsi smartphone yang luas, serta perubahan perilaku konsumen yang semakin nyaman dengan belanja Online. E-commerce menawarkan kemudahan dalam mencari produk, membandingkan harga, dan mendapatkan barang langsung diantar ke rumah, sehingga menarik minat banyak konsumen.

Bacaan Lainnya

Era e-commerce yang terus berkembang, manajemen rantai pasokan digital menjadi sangat penting. Salah satu teknologi kunci adalah Sistem Manajemen Gudang (Warehouse Management System) yang membantu mengelola inventaris dengan efisien dan akurat. Teknologi ini memungkinkan penempatan produk yang optimal, serta proses pengambilan, pengepakan, dan pengiriman yang lebih terstruktur. Dengan demikian, perusahaan dapat mengurangi kesalahan manusia dan meningkatkan kecepatan pelayanan, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kepuasan pelanggan.

Automasi dan Robotika menjadi pilar dalam modernisasi logistik. Penggunaan robot di gudang, seperti robpt penyortir dan pengambil barang, mampu bekerja lebih cepat dan akurat dibandingkan manusia. Selain itu, Automated Guided Vehicles (AGV) juga digunakan untuk mengangkut barang secara otomatis di dalam gudang, mengurangi waktu dan tenaga yang diperlukan. Robot-robot ini dilengkapi dengan sensor dan kecerdasan buatan yang memungkinkan mereka bergerak dengan presisi tinggi, menghindari rintangan, dan melakukan tugas dengan efisiensi optimal. Hal ini tidak hanya menghemat waktu tetapi juga mengurangi biaya operasional secara signifikan.

BACA JUGA:  Telkomsel Luncurkan Komunitas Sehat, Solusi Kesehatan Satu Pintu untuk Kualitas Hidup

Internet of Things (IoT) memberikan kemampuan pelacakan real-time, memungkinkan perusahaan untuk memantau pergerakan barang dari gudang hingga sampai ke tangan pelanggan. Sensor dan perangkat IoT juga digunakan untuk memantau kondisi produk, seperti suhu dan kelembaban, yang sangat penting untuk produk yang memerlukan penanganan khusus. Dengan informasi real-time, perusahaan dapat mengambil tindakan cepat jika terjadi masalah, seperti perubahan suhu yang dapat merusak produk sensitif.

Pengiriman cepat dan fleksibel menjadi ekspektasi konsumen modern. Banyak e-commerce besar kini menawarkan layanan pengiriman pada hari yang sama (same-day delivery), untuk memenuhi permintaan konsumen. Layanan ini sangat diminati terutama di kota-kota besar di mana kecepatan dan kenyamanan adalah prioritas utama bagi konsumen. Retailer cenderung menawarkan opsi seperti pengiriman di hari yang sama, pengiriman di hari berikutnya, dan pengiriman dua hari kepada pelanggan. Menurut Berkat layanan seperti Amazon Prime dan Next Day Delivery oleh Walmart, konsumen saat ini dapat melakukan pemesanan melalui ponsel mereka dan mengharapkan barang tiba dalam waktu 24 jam. Sebuah survei terhadap konsumen di seluruh dunia mengungkapkan bahwa 80% dari mereka menginginkan pengiriman di hari yang sama.

BACA JUGA:  Cloud Ace Dukung Komunitas Teknologi di Yogyakarta lewat Workshop Google I/O Extended

Pertumbuhan e-commerce telah meningkatkan permintaan untuk pusat distribusi baru. Pusat-pusat distribusi ini perlu ditempatkan secara strategis, lebih dekat dengan area urban untuk memenuhi permintaan pengiriman cepat. Selain itu, kapasitas infrastruktur logistik tradisional harus diperluas untuk menampung peningkatan volume barang yang diproses. Ini mencakup pembangunan fasilitas baru serta peningkatan kapasitas fasilitas yang sudah ada untuk memastikan mereka dapat menangani volume transaksi yang lebih besar dengan efisiensi tinggi.

Desain gudang juga mengalami perubahan signifikan. Penggunaan ruang vertikal menjadi lebih umum untuk memaksimalkan kapasitas penyimpanan. Zona pengambilan dan pengepakan otomatis juga diperknealkan, menyesuaikan desain gudang untuk mengakomodasi teknologi otomatisasi yang semakin banyak digunakan. Dengan penerapan teknologi ini, perusahaan dapat menghemat ruang dan mengoptimalkan proses operasional, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan penurunan biaya.

Infrastruktur transportasi juga harus ditingkatkan. Ada penekanan pada penggunaan kendaraan listrik dan metode pengiriman ramah lingkungan lainnya untuk mengurangi jejak karbon. Selain itu, investasi dalam perbaikan dan perluasan jalan serta fasilitas transportasi lainnya menjadi sangat penting untuk mengakomodasi peningkatan lalu lintas logistik. Pengunaan kendaraan listrik tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga dapat mengurangi biaya operasional jangka panjang karena biaya bahan bakar yang lebih rendah dan perawatan yang minimal.

Kolaborasi dengan pihak ketiga semakin umum. Banyak perusahaan e-commerce bermitra dengan penyedia layanan logistik pihak ketiga (3PL) untuk menangani aspek logistik yang kompleks. Selain itu, penggunaan layanan pengiriman berbasis crowdsourcing meningkat, membantu mengelola lonjakan permintaan musiman atau mendadak. Layanan berbasis crowdsourcing ini memungkinkan perusahaan untuk memperluas jangkauan pengirimannya tanpa harus mengeluarkan investasi besar untuk membangun infrastruktur logistik sendiri.

BACA JUGA:  Cloud Ace Dukung Komunitas Teknologi di Yogyakarta lewat Workshop Google I/O Extended

Di sisi lain, pertumbuhan e-commerce juga memberikan tekanan pada infrastruktur perkotaan. Peningkatan volume pengiriman di area perkotaan meningkatkan tekanan pada jaringan jalan, menyebabkan macetan lalu lintas. Ada juga kebutuhan yang meningkat untuk ruang khusus pengiriman di gedung-gedung dan kompleks apartemen. Hal ini menurut pemerintah dan pihak terkait untuk bekerja sama dalam merancang solusi yang dapat mengatasi masalah ini, seperti pengembangan infrastruktur jalan yang lebih baik dan penyediaan area parkir khusus untuk pengiriman.

Dengan demikian, era e-commerce tidak hanya merubah cara bisnis beroperasi tetapi jyuga mengharuskan transformasi signifikan dalam infrastruktur logistik tradisional untuk memenuhi tuntutan konsumen modern. Adaptasi teknologi dan strategi baru menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini dan memastikan kepuasan pelanggan di era digital.

Perusahaan yang mampu berinovasi dan beradaptasi dengan cepat akan memiliki keunggulan kompetitif dalam pasar yang semakin kommpetitif ini. Sementara itu, konsumen akan terus menikmati manfaat dari kemajuan teknologi ini, seperti pengiriman yang lebih cepat, pilihan produk yang lebih luas, dan pengalaman belanja yang lebih nyaman.

MICHELE AURA PUTRI
Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Logistik Politeknik Astra Cikarang

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait