UI Beri Ruang Karya Sastra Lewat Makara Art Center

Selaku pusat kesenian di UI, MAC memilki tiga program utama untuk memajukan sastra

DEPOK – Anak muda dinilai kurang memiliki ketertarikan pada dunia dunia sastra. Mereka lebih tertarik pada apa yang disajikan melalui audio-visual. “Padahal, sebenarnya kedua hal tersebut bisa dikombinasikan,” ungkap Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, Kepala Makara Art Center (MAC) Universitas Indonesia (UI).

Menurutnya, Perguruan Tinggi (PT) memiliki peran yang sangat strategis dan penting dalam memajukan sastra, baik dari segi pendidikan, pengembangan karya, dan memperluas apresiasi masyarakat terhadap karya sastra. Ia mengatakan, “Selain mengolah pikir, PT juga memiliki peran vital untuk mengolah rasa. Cara efektif menumbuhkan rasa adalah melalui sastra. Kalau manusia tidak tersentuh oleh sastra, jiwanya akan ‘mati’, ia akan menjadi seperti robot yang sangat mekanik.”

Untuk mengembangkan sastra di kalangan anak muda, PT dinilai perlu memperbanyak kegiatan sastra, seperti gelaran dongeng, pembacaan puisi, atau lomba cipta karya puisi. Sebagai perguruan tinggi terdepan di Indonesia, UI terus berupaya menumbuhkan gerakan sastra di Indonesia, termasuk sastra daerah. Pada peringatan Hari Anak Nasional 2023, UI melalui MAC menggelar pertunjukan wayang dengan dalang bocah cilik hingga remaja. Selain itu, UI kerap bekerja sama dengan pemerintah dan institusi lain untuk menggali naskah-naskah dan sastra Melayu untuk melacak peradaban Nusantara.

BACA JUGA:  Dosen UI: Pihak yang Anti Korupsi Justru Rentan Terkena Sanksi Sosial

“Bertepatan dengan bulan Ramadan 1445 Hijriah, MAC juga mengadakan Syiar Ramadan Kampus UI. Pada kegiatan ini, kami menyelenggarakan Lomba Cipta Karya Puisi Religi tingkat nasional antarmahasiswa. Sudah ada ratusan puisi yang kami terima dari Sabang sampai Merauke. Kami juga menggelar pertunjukan musikalisasi puisi dan meluncurkan Al-Qur’an Reading Society, yang mana kami akan melakukan puitisasi terhadap Al-Qur’an. Cara seperti ini dilakukan para wali dan ulama untuk memunculkan aspek rasa dari teks Al-Qur’an. Dengan menggunakan bentuk syair atau puisi, pesan-pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an akan lebih mudah disampaikan,” kata Dr. Zastrouw.

Selaku pusat kesenian di UI, MAC memilki tiga program utama untuk memajukan sastra. Pertama, MAC secara rutin menampilkan berbagai pagelaran seni, baik sastra, seni rupa, teater, hingga film. Kedua, MAC melakukan proses pendampingan terhadap komunitas seni budaya yang ada di masyarakat, mulai dari melakukan kajian naskah kuno, mengeksplorasi makna sistem pengetahuan lokal, dan memberikan pelatihan workshop kepada teater rakyat. Saat ini, MAC membina puluhan komunitas di Garut, Magelang, dan Temanggung. Ketiga, MAC aktif mengadakan sarasehan, diskusi, dan seminar terkait sastra, umumnya untuk menggali jejak peradaban Nusantara melalui naskah kuno.

BACA JUGA:  Kembali ke Posisi Q1, Jurnal Internasional IJTech UI Tambah Bidang Riset Multidisciplinary

Dr. Zastrouw menilai UI memiliki potensi untuk mengembangkan sastra melalui platform digital. “Sebagai PT yang memiliki berbagai fakultas, termasuk Fakultas Ilmu Komputer, UI bisa menciptakan sebuah platform yang dapat menjadi rumah bagi para sastrawan, dramawan dan pencinta dongeng. Selain itu, UI bisa mendorong terciptanya komunitas yang bisa menciptakan karya-karya sastra yang dapat ditransformasikan ke dunia digital. Begitu karya sastra masuk ke ruang digital, dampaknya akan luar biasa,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Hadiri Halalbihalal FKM UI, Ini Pesan Imam Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar

Memperingati hari dongeng sedunia, hari puisi sedunia, dan hari teater sedunia yang semuanya jatuh pada bulan Maret, Dr. Zastrouw berharap Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dapat membuat Indikator Kinerja Utama (IKU) PT yang menilai upaya kampus dalam menggerakkan sastra, budaya, dan kesenian. Hal ini dinilai dapat mendorong kepedulian PT untuk menggalakkan kegiatan sastra di kampus secara efektif.