Nyorog: Tradisi Hantaran Menjelang dan Saat Buka Puasa Bersama di Betawi

Nyorog berasal dari kata Sorog, berarti datang dan menghampiri

Oleh : Murodi al-Batawi

Nyorog berasal dari kata Sorog, berarti datang dan menghampiri. Tradisi yang ada di masyarakat Betawi ini terjadi setiap menjelang Ramadhan dan saat berbuka. Dahulu tradisi seperti ini lazim dilakukan masyarakat Betawi. Mereka dengan membawa hantaran, datang ke orang tua, saudara tertua dan orang yang dituakan. Terlebih menjelang berbuka puasa. Makanan hantaran ini dibawa dari rumah kemudian saat berbuka, hantaran digabung dengan makanan di rumah yang didatangi , kemudian dimakan bersama keluarga.

Dan selama Ramadhan, sebagaimana kita ketahui, banyak aktivitas sosial keagamaan dilakukan masyarakat Muslim Dunia, termasuk Muslim Betawi, di antaranya menyediakan _*ifthar_*buat Muslim yang berpuasa dan Buka Puasa Bersama. Acara Buka Puasa bersama ini, menjadi trend baru Muslim Indonesia. Karena hampir semua Kementerian/ Lembaga, Lembaga Pendidikan, organisasi sosial kemasyarakatan, ikatan alumni, bahkan keluarga besar dari anggota masyarakat.

Sejarah Buka Puasa Bersama

Secara historis tidak ditemukan data secara detail, tidak ada data yang membuktikan kapan sebenarnya Buka Puasa Bersama dilakukan. Tapi, jika kita merujuk pada sebuah hadis Nabi yang menyatakan, siapa yang memberikan makan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka pahalanya sama dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi nilai pahala bagi yang berpuasa. Hadis riwayat Abi Daud. Ini artinya, tradisi Buka Puasa Bersama, sudah terjadi ratusan tahun dan bahkan mungkin sudah seusia agama Islam, sekitar 1445 tahun lalu. Karenanya, bisa dipastikan bahwa jika kita mengulik sejarah lahirnya pelaksanaan Bukber di Indonesia, berarti juga sudah seusia ketika agama Islam disyiarkan oleh para penyebar agama Islam di tanah air, yaitu sejak 674 M. Ini berati sudah berusia lebih dari 1300an tahun.

Tradisi makan bersama, sebenarnya merupakan aktivitas kedeharian bangsa Indonesia. Ketika mereka berkumpul rapat dan berdiskusi panjang tentang banyak hal, biasanya diakhiri dengan makan bersama. Tidak hanya mereka yang ikut rapat dan berdiskusi, juga diikuti oleh masyarakat sekitar. Kemudian setelah mereka menjadi Muslim dan berkewajiban berpuasa, mereka mengundang dan mengajak masyarakat Muslim yang sedang berpuasa untuk berbuka dan makan bersama. Jadi, kehadiran Islam menjadi perekat yang memperkuat tradisi yang sudah lama ada di Muslim Indonesia. Di situlah ada semangat kebersamaan dari pertemuan dua tradisi, antara tradisi Islam dan tradisi Muslim Infonesia.

Jadi, terlepas ada Ramadhan atau tidak, tradisi makan bersama sudah sangat jauh dilakukan oleh masyarakat Infonesia.

Dalam tradisi Muslim Indonesia ada beberapa istilah memberikan makan pada saat Ramadhan. Di masyarakat Betawi ada tradisi Nyorog, bahkan ada juga tradisi selametan setiap bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban biasa disebut di Betawi dengan bulan Ruwah. Karenanya, Muslim Betawi dari dahulu hingga kini, masih melakukan tradisi Ruwahan ini. Dalam tradisi ini, biasanya dilakukan oleh hampir semua penduduk masyarakat Betawi. Mereka mengundang warga datang ke rumah untuk Tahlilan, dan setelah itu mereka makan bersama. Tapi sekarang tampaknya tidak semua masyarakat Betawi melaksanakannya, terutama mereka yang tinggal di perkotaan.

Dahulu, di Betawi setiap menjelang dan saat Ramadhan, ada tradisi memberikan makanan dan hantaran kepada orang, saudara tertua dan anggota masyarakat yang dituakan. Tradisi ini disebut Nyorog. Tradisi sudah hampir punah dan tidak dipertahankan oleh masyarakat Betawi perkotaan. Karena orang tua dan ssudara tertua mereka sudah ada yang wafat stau pindah tempat tinggal di luar DKI Jakkarta

Makna Buka Puasa Bersama

Paling tidak, ada dua makna dari kegiatan Bukber. Pertama, makna historis filosopis. Kedua makna Sosial. Sebagai sebuah tradisi, Bukber memilki makna bahwa makan bersama dengan mengundang makan pada suatu tempat, di rumah atau restoran, merupakan tradisi yang diajarkan Islam. Karena, sesuai dengan hadis Nabi bahwa orang yang memberikan pada irang berpuasa, maka pahalanya sama seperti orang yang berouasabtanpa mengurangi nilai pahala orang yang berpuasa. Tradisi ini berlanjut hingga kini. Bahkan kegiatannya sudah berubah jauh. Jika dahulu hanya menghantarkan makanan, kini sudah dilaksanakan di tempat terbuka dan restoran mewah.