Mengenal Sejarah Tradisi Grebeg Maulud Agung di Tulungagung

DEPOKPOS – Tradisi merupakan suatu adat atau kebiasaan yang diterapkan sejak zaman dahulu, diturunkan secara turun temurun dan dilestarikan di masyarakat. Kebudayaan dan Tradisi merupakan suatu kesatuan yang utuh, jika tidak ada tradisi maka tidak akan ada budaya, dan sebaliknya jika budaya tidak didasarkan dengan tradisi yang ada maka tidak akan tercipta suatu budaya.

Di Indonesia sendiri banyak sekali ragam budaya, tradisi dan adat, di mana tiap-tiap suatu daerah memiliki adat istiadat yang berbeda-beda. Karena Indonesia sendiri merupakan bangsa yang masih mempertahankan nilai-nilai budaya, agama, dan adat, dan Indonesia memiliki tingkat perkembangan budaya yang sangat pesat.

Tetapi dalam perkembangannya, budaya, tradisi, adat masih asing dikalangkan para remaja generasi sekarang dan tentunya akan berpengaruh besar bagi sebagian masyarakat di Indonesia yang masih minim tentang perkembangan budaya apa saja yang ada di Indonesia.

Generasi-generasi sekarang lebih memilih budaya dari luar yaitu budaya barat yang semakin terbuka dengan adanya produk dari luar, seperti gaya berpakaian, gaya bahasa, gaya berteman, dll yang menjadi saingan tersendiri bagi bangsa Indonesia.

BACA JUGA:  5 Tips untuk Menenangkan Pikiran

Tentunya generasi sekarang yang semakin canggih dengan teknologi yang berkembang secara pesat dan menyeluruh ke seluruh dunia, maka kita harus waspada dan berhati-hati terhadap berita yang tidak benar. Maka caranya agar generasi turunan kita dapat melestarikan dan menghargai budaya yang telah ditetapkan oleh nenek moyang, yaitu melalui perantara generasi selanjutnya.

Tradisi yang saat ini tetap dilestarikan di Tulungagung adalah di Desa Majan, atau kerap disebut Bumi Kasepuhan Perdikan. Desa Majan terletak di kecamatan Kedungwaru kabupaten Tulungagung, tepatnya 4 km sebelah utara Ibukota kabupaten Tulungagung yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Di Desa Majan inilah peradaban sejarah Islam di Tulungagung dimulai pada abad-17, tahun 1727. Harapan generasi masyarakat Tulungagung bisa memahami sejarah atau tradisi yang ada di Tulungagung, Beliau KHR Hasan Mimbar melaksanakan syiar atas perintah eyang Pangkubuwono ke 2 pada 1727 mempunyai pusaka yang disebut Pusaka Kyai golok yang diberi leluhur, berupa pusaka raja Mataram ke 2 sebagai bentuk syiar islam di Kadipaten Ngrowo tahun 1727.

BACA JUGA:  Mengapa Semakin Dewasa Semakin Sedikit Memiliki Lingkaran Sosial yang Luas?

Bahwa desa Majan adalah satu satunya sejarah yang ada di Tulungagung terkhusus di Jawa Timur mempunyai keistimewaan yaitu merdeka sebelum merdeka, merdeka setelah merdeka.

Pada era belanda melakukan pengelolaan pemerintah secara mandiri dengan nama Perdikan Majan, setelah era 1945 masih melakukan pemerintah sendiri dengan pertemuan antara gubernur Jawa Timur, Bupati Tulungagung tahun 1979 yang pada akhirnya disepakati desa Majan melebur menjadi NKRI dan menjadi desa biasa, pemerintah biasa, tetapi dalam adat istiadat nya masih dipertahankan.

Sebelum mengenal tradisi Grebeg Maulud Agung, perlu diketahui bahwasanya adat ini merupakan peninggalan yang bersejarah bagi desa Majan. Dimana diadakan setiap tahunnya oleh keluarga besar yayasan Sentono Dalem Majan, sebagai rasa untuk menghormati leluhur nya.

Tradisi ini dilakukan oleh inti dari keluarga besar KHR Hasan mimbar, diantaranya sesepuh yasendam KHR. Moh Yasin dan juga Ketua Umum yasendam DR. Raden Mohammad Ali Sodik, M.PdI, M.H.

Kata grebeg sendiri berasal dari Bahasa Jawa ‘Gembrebeg’ yaitu suara keras yang timbul ketika Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar keluar dari dalem pendapa untuk mengajak masyarakat Tulungagung menggelar sholawat di Masjid Agung Al Mimbar, dengan ditandai dikeluarkannya pusaka kanjeng kyai golok memberikan raja Mataram atas perintah mensyiarkan agama islam dan nikah majan dikadipaten Ngrowo pada tahun 1727 Masehi.

BACA JUGA:  Hindari Cat Calling dengan 7 Cara Ini!

Keluarga Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar membagikan tumpeng kepada masyarakat yang hadir. Tumpengan merupakan makanan tradisional, dikawal oleh pasukan genjring yang menunjukkan seni bela diri dengan bunyi jedor dan sholawat . Seiring perjalanan waktu, nama gembrebeg berubah menjadi grebeg.

Di Indonesia sendiri, upacara grebeg dilaksanakan di tiga kota yakni Jogjakarta, Solo dan kasepuhan perdikan Majan Tulungagung. Dikarenakan Jogjakarta, Solo, dan kasepuhan perdikan Majan memiliki hubungan kekeluargaan dari trah eyang penembahan Panembahan Senopati R. Sutowijoyo atau raja Mataram yang ke I.