Ketidakpastian dan Manajemen Risiko dalam Perspektif Islam

DEPOKPOS – Perspektif Islam tentang ketidak pastian dan manajemen risiko berakar pada konsep “gharar”, yang mengacu pada ketidakpastian, penipuan, dan risiko dalam transaksi keuangan. Dalam keuangan Islam, gharar dilarang karena bertentangan dengan prinsip kepastian dan keterbukaan dalam berbisnis.

Manajemen risiko dalam Islam didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah, dan bertujuan untuk memastikan bahwa ketidakpastian tidak mengganggu tujuan tujuan bisnis. Manajemen risiko Islam mencakup dimensi yang lebih luas yang tidak hanya melibatkan ketidakpastian tetapi juga konsep-konsep lain seperti Mukhatarah, Mysir, al ghunm bil ghurm, dan al kharaj bil daman.

Meskipun konsep risiko dalam Islam mirip dengan kepercayaan konvensional, umat Islam percaya pada takdir dan bahwa apa pun yang terjadi sudah ditakdirkan, namun hal ini tidak meniadakan pentingnya mengelola risiko.

BACA JUGA:  Kesepadanan Kerja dan Kehidupan: Strategi Manajemen SDM Gen Z

Manajemen risiko Islam melibatkan identifikasi, penilaian, dan mitigasi risiko untuk mengoptimalkan hasil. Perspektif Islam menekankan pertimbangan etika dan moral dalam mendefinisikan dan mengelola risiko, dengan mempertimbangkan kesejahteraan umat manusia.

Konsep gharar dan pendekatan Islam terhadap manajemen risiko memberikan wawasan unik yang semakin relevan dalam konteks keuangan dan perbankan Islam.

Sangat menarik untuk melihat manajemen risiko yang efektif terkait dengan penguasaan dan penggunaan alat dan tekniknya.

Oleh karena itu, kita mungkin berpendapat bahwa untuk menjadi ahli dalam mengelola risiko, kita harus mampu mengembangkan skenario terbaik, paling umum, dan terburuk. kita harus mengetahui cara memasukkan prinsip nilai yang diharapkan ke dalam model risiko yang kita bangun sendiri. Dalam sebagian besar upaya, penguasaan alat dan teknik adalah hal yang penting.

BACA JUGA:  Memahami Pentingnya Sosial Humaniora dalam Masyarakat

Konteks adalah segalanya dalam manajemen risiko. Artinya, keputusan harus diambil secara situasional. kita harus memahami kenyataan yang mendasar. kejadian-kejadian berisiko yang kita rencanakan itu jarang berjalan sesuai rencana.

Rencana merupakan sebuah hal untuk mempersiapkan sesuatu untuk menghadapi kejadian yang tidak diinginkan dan untuk mengurangi unsur kejutan. Dalam menangani risiko, sebagian besar rencana dapat dilaksanakan sebagaimana adanya.

Rencana membantu kita untuk memikirkan apa yang mungkin terjadi dan apa yang akan perlu dilakukan untuk menghadapi risiko tersebut. Tujuan umum dari manajemen risiko adalah untuk mengembangkan kesadaran kita pada pendekatan untuk mengelola sebuah risiko.

Cara yang baik untuk memulainya adalah dengan menerapkan proses manajemen risiko yang telah ditetapkan. Dalam buku ini, penulis telah menyajikan proses lima langkah yaitu : rencana untuk mengelola risiko, mengidentifikasi kejadian risiko, memeriksa dampaknya, mengembangkan strategi untuk menanganinya, dan kemudian memantau dan mengendalikannya.

BACA JUGA:  Strategi Pemasaran Kreatif di Balik Kesuksesan ‘Inside Out 2’

Proses ini membuat semua orang peka terhadap keberadaannya risiko dan kebutuhan untuk mengelolanya secara sadar. Satu hal yang harus Anda lakukan adalah berusaha kembangkan data yang baik untuk memandu Anda dalam mengambil keputusan.

Dasar pemikiran manajemen risiko didasarkan pada keyakinan bahwa masa depan tidak ditentukan sebelumnya. Sebagian besar upaya manajemen risiko memerlukan ramalan untuk mengembangkan visi masa depan. misalnya, mengidentifikasi peristiwa risiko dengan memantau lingkungan, mengembangkan skenario kemungkinan keadaan di masa depan, dan membuat prediksi dampak

Utia, mahasiswi STEI SEBI

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait