Resensi Buku Sagra Karya Ida Ayu Oka Rusmini

Judul Buku : Sagra
Penulis : Ida Ayu Oka Rusmini
Tahun Terbit : 29 Maret 2023
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 182
Genre : Fiksi (18+), Feminisme, Bali
Bahasa : Indonesia

“Hyang Widhi, apakah kau laki-laki? Sehingga kau tak pernah memahami keinginan dan bahasa perempuan sepertiku?” – Oka Rusmini dalam Sagra.

Apa pandangan Anda sebagai pembaca ketika melihat Tuhan dimanusiakan? Bagaimana semestinya kita berdialog dengan Tuhan?

“Apakah sebagai perempuan aku terlalu loba, tamak, sehingga Kau pun tak mengizinkanku memiliki impian?”

Kumpulan cerpen Sagra memiliki kekhasan yang menghimpun menjadi beberapa kisah perempuan dengan ragam latar belakang, persoalan hidup, dan tekanan yang menghimpit. Kisah yang intens di dalamnya mengisahkan mengenai lukisan kehidupan perempuan yang terepresi oleh adat patriarki. Dengan gamblang, kisah-kisahnya menguak adat Bali yang begitu kental dengan keindahannya yang kerap kali menjelma sebagai instrumen harmonis dalam berdialog dengan Hyang Widhi.

Oka Rusmini populer sebagai penulis yang mengangkat cerita feminisme terutama yang berkaitan dengan budaya Bali. Dia memulai karirnya sebagai wartawan Bali Post sejak 1990 hingga kini. Karyanya yang paling populer berjudul Tarian Bumi (2000) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Earth Dance. Banyak penghargaan yang dimenangkan oleh Oka atas novel-novelnya yang menakjubkan dengan setia mengangkat tema feminisme perempuan Bali yang terkekang oleh adat dan norma Bali. Seperti yang terkandung dalam novel: Tarian Bumi (2000), Patiwangi (2003), Kenanga (2003), Warna Kita (2007). Pada akhirnya, karya-karyanya mengantarkan Oka untuk meraih Penghargaan Penulis Asia Tenggara (2012) dari pemerintah Thailand serta penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (2014).

BACA JUGA:  Tantangan Seseorang yang Memilih Tidak Memiliki Anak

Oka sungguh mahir membuat cerita yang mengajak pembaca terlarut dalam dunia melalui kacamata perempuan. Dengan gaya bahasa khasnya serta ide feminis terhadap hukum Bali, ia mengemas tulisan-tulisannya secara ‘telanjang’ dan berani untuk mengekspresikan tubuh perempuan yang tersayat-sayat akibat persetubuhan. Hal tersebut terdapat pada salah satu cerpennya yaitu Kakus. Ia menuangkannya lewat kalimat “Tangan-tangannya yang kurus dan dipenuhi urat-urat yang menonjol mulai menyentuh kulitku, Hyang Widhi, aku seperti menari di atas bangkai.”

BACA JUGA:  Investasi Akhirat: Zakat Pondasi Kekuatan Ekonomi Umat

Di dalam novel Sagra ini, terdapat 11 cerpen yang disajikan dengan latar belakang sosial budaya Bali. Sagra menyorot perempuan sebagai pusat dari semesta tiap kisahnya. Hal ini sudah menjadi lumrah diadopsi oleh Oka, bahkan bisa dibilang ini merupakan ciri khas yang tak luput dari karya sastranya. Salah satu cerpennya antara lain berjudul “Putu Menolong Tuhan” yang bercerita tentang seorang wanita yang dibunuh dengan didorong ke sumur oleh cucunya bernama Putu. Putu merupakan keturunan brahmana yang dibesarkan di lingkungan sudra. Selama hidup, Odah-nya putu dianggap jahat karena perilaku buruk yang dilakukannya. Putu merasa telah membantu Tuhan dengan menyingkirkan orang jahat. Cerpen lain berjudul “Pemahat Abad” mengisahkan tentang Kopag, seorang brahmana yang pandai mengukir dan memahat patung. Sayangnya, ia harus membayar karma dari perbuatan ayahnya dengan terlahir buta. Dengan keunikannya tersendiri, Kopag menilai kecantikan seorang perempuan yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang.

BACA JUGA:  Membangun Kebiasaan Positif, Memulai Hari dengan Kegiatan Bermanfaat

Sagra sendiri tergolong ke dalam kumpulan cerpen yang bergenre dewasa. Tema seputar seksualitas dan tubuh perempuan dibahas dengan frontal oleh Oka. Tubuh dianggap sebagai sesuatu yang secara fundamental melekat dengan perempuan setelah seluruh aspek kehidupan dianggap menjadi milik laki-laki. Perempuan juga memiliki perasaan, memiliki hati, hak untuk hidup, dan hak untuk diperlakukan sebagai manusia, sebagai subjek dan bukan sebagai objek. Oleh karena itu, pada buku fisiknya dilabeli 18+. Di dalam novel ini terdapat kata atau kalimat yang mengandung unsur dewasa. Hal tersebut dapat ditemui pada judul “Pesta Tubuh” yang bertuliskan :

‘Kami anak perempuan di bawah lima belas tahun, dihabisi di tempat tidur’…. ‘Kami harus melayani sepuluh sampai lima belas laki laki’ …. ‘ tubuh kecil kami di telanjangi, diikat, dihirup digigiti, ditusuk berkali-kali… Laki laki kuning langsat itu menyantap tubuh kami dengan rakusnya’.