Scroll untuk baca artikel
Health

Mobilisasi Masyarakat dan Tren Kasus Covid-19 jelang Nataru

×

Mobilisasi Masyarakat dan Tren Kasus Covid-19 jelang Nataru

Sebarkan artikel ini

Menurut laporan per 14 Desember 2023 kasus positif covid sejumlah 1.499 kasus dan di hari yang sama bertambah 359 kasus baru

DEPOKPOS – Covid-19 disebut mengalami lonjakan tren kasus di Indonesia sejak periode 8-14 Oktober 2023. Menurut laporan per 14 Desember 2023 kasus positif covid sejumlah 1.499 kasus dan di hari yang sama bertambah 359 kasus baru meningkat sebanyak 13 persen dari sebelumnya. Menurut Direktur Surveilans Kekarantinaan Kesehatan Kemenkes, Ahmad Farchanny di konferensi pers virtual, Jumat (15/12/2023), tidak terdapat kematian dari data tersebut.

Kenaikan kasus ini disebabkan oleh subvarian EG.5 yang merupakan turunan dari varian omicron dengan kategori variants of interest yang mampu menghindari antibodi sehingga lebih mudah terinfeksi pada seseorang namun tidak sampai tingkat yang berbahaya.

Menjelang libur natal dan tahun baru, mobilitas masyarakat meningkatkan kemungkinan paparan virus covid-19 lebih tinggi. Dengan banyaknya mahasiswa atau pekerja yang pulang ke daerah asalnya ditambah para pelancong yang berdatangan menjadi kekhawatiran yang membutuhkan upaya bersama.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyampaikan bahwa telah terjadi peningkatan kasus COVID-19 di negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina. Sebagai respons, Kemenkes telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang menyoroti kewaspadaan terhadap lonjakan kasus COVID-19 bagi pelaku perjalanan luar negeri. Dalam SE tersebut, diimbau agar para pelaku perjalanan memiliki imunitas tubuh yang kuat untuk mencegah penularan dan menjadi sumber penyebaran virus ketika kembali ke Indonesia.

Kenaikan jumlah positif ini dinilai masih jauh dibanding pada saat pandemi. Sehingga, covid-19 saat ini dinilai masih dapat dikendalikan. Gejala umum yang timbul pada varian baru ini adalah flu yang berat. Maka, upaya dari pengendalian itu bagi masyarakat yang mengalami flu berat diharapkan untuk melakukan tes covid-19 dan mengubah pola hidup untuk menjaga kesehatannya, terutama kelompok yang rentan.

Kenaikan kasus COVID-19 belakangan ini disebabkan oleh munculnya subvarian baru. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menekankan pentingnya mengikuti tes COVID-19 bagi mereka yang mengalami gejala flu yang cukup berat. Nadia juga menjelaskan bahwa jumlah tes yang lebih banyak tidak secara otomatis meningkatkan jumlah kasus positif, karena banyak orang mungkin tidak melakukan tes saat mengalami gejala.

Penurunan jumlah tes bukan berarti adanya underreporting, melainkan banyak kasus yang tidak terdiagnosis. Nadia menyoroti pentingnya memantau positivity rate, yang hingga 3 Desember berada di angka 3,11 persen per minggu, masih di bawah standar WHO yang berada di 5 persen.

Respon negara ASEAN seperti Malaysia dan Singapura dengan lonjakan kasus covid-19 di negaranya mulai menerapkan kembali langkah-langkah pencegahan berupa pemasangan pemindai termal tubuh di bandara untuk menyaring kedatangan para turis. Sama halnya, Indonesia juga menerapkan langkah yang sama dengan memasang pemindai termal di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan terminal feri Batam.

Kementerian Kesehatan Singapura, melaporkan peningkatan kasus Covid-19 selama dua minggu terakhir disebabkan oleh faktor seperti perjalanan akhir tahun dan penurunan kekebalan tubuh. Menteri Kesehatan, Ong Ye Kung, menyarankan vaksinasi tahunan terutama bagi warga lanjut usia dan penderita penyakit kronis. Imbauan juga diberikan kepada masyarakat yang sakit untuk hindari kontak, terutama dengan lansia, dan menggunakan masker saat keluar rumah.

Sementara itu, Malaysia mencatat peningkatan drastis dengan hampir 13.000 kasus Covid-19 dalam Pekan Epidemiologi ke-49, menggarisbawahi kenaikan ini di tengah upaya negara-negara Asia Tenggara untuk menarik perhatian wisatawan asing pada akhir tahun ini.

Pemerintah Indonesia memberikan tanggapannya dengan menyiapkan kemungkinan pemberian vaksinasi COVID-19 booster ketiga atau vaksin COVID-19 dosis kelima. Dalam upaya booster ini terutama pada kelompok prioritas dan kelompok rentan dengan dosis tertentu.

Sejak berakhirnya masa PPKM terlihat bahwa masyarakat telah membentuk imunitas bagi tubuhnya dan lebih kebal pada virus. Di samping itu juga, jumlah kasus telah menurun secara drastis, bahkan dengan varian baru tidak ada angka kematian. Maka, apakah dengan antibodi yang kuat masyarakat perlu melakukan vaksinasi/booster lagi?

Dalam siaran sehat bersama Dokter Reisa : Imunitas Tingi, Booster Untuk Apa Lagi? di kanal YouTube Kementerian Kesehatan RI, Dokter Syahril menyebutkan, bahwa sejak dicabutnya PPKM, keempat parameter epidemiologi, yaitu jumlah kasus, angka kematian, pasien rawat inap, dan tingkat penularan, semuanya menurun dan terkendali. Survei serologi terakhir menunjukkan bahwa sekitar 99% penduduk yang diperiksa memiliki antibodi, memberikan keyakinan bahwa masyarakat dapat mengendalikan pandemi.

Dokter Risa menekankan pentingnya vaksinasi Booster setelah enam bulan pasca vaksinasi lengkap. Antibodi dalam tubuh cenderung menurun, dan vaksinasi Booster membantu meningkatkan proteksi terhadap COVID-19, terutama untuk kelompok rentan. Saat ini, pemerintah telah memberikan izin vaksinasi Booster kedua untuk usia 18 tahun ke atas.

Oleh karena itu tujuan dari booster ini sebagai langkah untuk membentuk antibodi dalam tubuh sehingga ketika terpapar virus, gejala yang muncul tidak terlalu berat, dan risiko perawatan di rumah sakit dapat berkurang. Upaya ini diarahkan untuk menjaga kekebalan masyarakat selama pandemi masih berlangsung. Kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat, terutama dalam vaksinasi, dianggap kunci untuk mengatasi pandemi dengan baik.

Adapun upaya pencegahan yang paling mudah untuk masyarakat lakukan dalam aktivitas sehari-harinya dengan selalu melakukan:

  • Jika mengalami batuk berat, segera lakukan tes COVID-19; positif, lakukan isolasi mandiri.
  • Saat mengalami flu atau berada di kerumunan, gunakan masker.
  • Selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  • Pastikan vaksinasi lengkap hingga booster kedua.
  • Pertimbangkan penundaan perjalanan ke daerah atau luar negeri yang melaporkan peningkatan kasus COVID-19.

Betara Ramanda
Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya