Scroll untuk baca artikel
Health

Hubungan Antara Perubahan Iklim dan Demam Berdarah Dengue

×

Hubungan Antara Perubahan Iklim dan Demam Berdarah Dengue

Sebarkan artikel ini
Hubungan Antara Perubahan Iklim dan Demam Berdarah Dengue

DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti

DEPOKPOS – Perubahan iklim merupakan isu global yang semakin nyata dan serius serta memiliki dampak luas. Perubahan iklim ditandai dengan perubahan suhu, kelembapan, kecepatan angin, dan curah hujan pada suatu wilayah. Dampak perubahan iklim dapat dirasakan di berbagai sektor kehidupan, termasuk kesehatan manusia.

Salah satu masalah kesehatan yang terkait erat dengan perubahan iklim adalah penyakit demam berdarah dengue (Dengue Hemorrhagic Fever, DHF, DBD), yaitu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Selain itu perubahan iklim mempengaruhi imunitas tubuh manusia sehingga akan mudah terserang penyakit.

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu penyakit menular yang menjadi isu kesehatan masyarakat di Indonesia. Kasus DBD di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, jumlah kasus DBD di Indonesia mencapai 143.184 kasus, meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 73.518 kasus. Peningkatan kasus DBD ini dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

Peningkatan kejadian DBD di Indonesia mempunyai keterkaitan dengan perubahan iklim. Perubahan iklim dapat menyebabkan musim hujan lebih panjang, intensitas hujan lebih tinggi, dan perubahan suhu. Hal ini dapat memperpendek masa inkubasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti, sehingga mempercepat penyebaran virus dengue.

Penelitian yang dilakukan oleh Putri (2020) menyatakan bahwa suhu dan kelembapan yang tinggi dapat memperpendek masa inkubasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini menunjukan masa inkubasi virus berkurang dari 10 hari menjadi 7 hari di suhu 30° di kelembapan 80%.

Kecepatan angin merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim. Kecepatan angin memberikan dampak kepada nyamuk Aedes aegypti. Hal ini karena, semakin tinggi kecepatan angin cenderung menghambat terbang nyamuk dan berkurangnya kejadian DBD.

Dengan demikian, terdapat hubungan antara perubahan iklim dengan demam berdarah. Peningkatan suhu dan curah hujan dapat memperpendek masa inkubasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti, sehingga mempercepat penyebaran virus dengue. Selain itu, perubahan pola angin juga dapat mempengaruhi risiko penularan DBD.

Oleh karena itu, penting untuk kita mengusir nyamuk dengan cara menggunakan obat bakar nyamuk, menggunakan lotion atau krim anti nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, dan memanfaatkan tanaman pengusir nyamuk menjadi krim anti nyamuk. Selain itu kita bisa melakukan pencegahan seperti penggunaan kelambu, menjaga kebersihan, dan membasmi tempat nyamuk berkembang.

Pengaruh Iklim di Indonesia

Perkembangan nyamuk sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim (Prambudi dkk., 2023). Indonesia merupakan negara tropis yang mempunyai iklim mendukung perkembangbiakan nyamuk, mulai dari suhu dan kelembapan yang ideal untuk nyamuk berkembang, pola angin yang membuat nyamuk bisa terbang ke daerah yang belum terpapar, dan curah hujan yang dapat membuat genangan dan wadah air, seperti penelitian yang dilakukan oleh Julismin (2013) Iklim di Indonesia dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu:

1. Kedudukan matahari yang berubah-ubah. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan udara antara daratan Asia dan Australia. Pada periode matahari berkedudukan di atas daratan Asia, daratan Asia memiliki tekanan udara yang lebih rendah sehingga bertiup angin dari Australia ke Asia.

Angin ini memiliki sifat yang kering, sehingga menjadi penyebab terjadinya musim kemarau di Indonesia. Sebaliknya, pada periode matahari berkedudukan di atas daratan Australia, daratan Australia memiliki tekanan udara yang lebih rendah sehingga bertiup angin dari Asia ke Australia. Angin ini bersifat basah sehingga menyebabkan musim hujan di Indonesia.

2. Wilayah Indonesia yang terdiri atas banyak pulau. Wilayah Indonesia yang terdiri atas
banyak pulau yang menyebabkan Indonesia dipengaruhi oleh iklim maritim. Iklim maritim dicirikan oleh suhu udara yang relatif seragam sepanjang tahun dan curah hujan yang tinggi.

3. Keberadaan gunung-gunung di Indonesia. Keberadaan atau lokasi gunung-gunung di Indonesia menyebabkan perbedaan iklim secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal, suhu udara makin ke atas makin rendah. Secara horizontal, lereng gunung yang menghadap ke arah laut bertiup angin laut yang bersifat basah sehingga curah hujannya tinggi.

Data Curah Hujan di Indonesia

Curah hujan yang tinggi merupakan dampak dari perubahan iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyajikan data curah hujan setiap bulan, pengamatan curah hujan dilakukan dalam kurun waktu 5 bulan, yang terdiri dari bulan Agustus sampai November, serta prediksi curah hujan pada bulan Desember 2023.

Data informasi curah hujan BMKG pada bulan agustus 2023 menyatakan, bahwa sebagian wilayah Indonesia mengalami kriteria hujan ekstrim (>150 mm/hari), dengan curah hujan tertinggi terjadi sebesar 239 mm/hari. Pengamatan pada bulan september 2023 mempunyai hasil yang lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.

Hasilnya adalah Sebagian wilayah Indonesia mengalami hujan ekstrim (>150 mm/hari), dengan curah hujan harian tertinggi terjadi sebesar 285 mm/hari. Pada bulan Agustus dan September terjadi peningkatan curah hujan. Sedangkan pada bulan Oktober 2023 , curah hujan harian tertinggi di Indonesia terjadi sebesar 200 mm/hari, yang dimana pada bulan tersebut kriteria hujan tetap sama yaitu, kriteria hujan ekstrim (>150 mm/hari).

Pengamatan pada bulan November 2023 dilakukan dengan menganalisis setiap dasarian (rentang waktu selama sepuluh hari). Data curah hujan Dasarian I November 2023 sampai Dasarian III November 2023 menyatakan bahwa curah hujan berada di kriteria rendah – menengah (0 – 150 mm/dasarian).

Pada bulan Desember 2023, BMKG memprediksi curah hujan dengan hasil Sejumlah 18,75% wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami hujan di bawah normal atau rendah, 62,33% diprediksi akan mengalami hujan normal atau menengah, dan 18,92% diprediksi akan mengalami hujan di atas normal atau tinggi.

Perubahan curah hujan yang signifikan terlihat dari data BMKG, terutama dari Agustus ke September dengan curah hujan harian tertinggi naik dari 239 mm/hari menjadi 285 mm/hari. Meskipun ada variasi curah hujan di bulan berikutnya. Tetapi, prediksi hingga bulan Desember menunjukkan kelanjutan tren ini. Secara keseluruhan data mencerminkan perubahan pola cuaca yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Perubahan Iklim dan Kelembaban

Curah hujan yang tinggi menyebabkan peningkatan kondensasi. Kondensasi adalah proses pengembunan uap air di atmosfer, kondensasi yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan kelembapan. Kelembapan udara mempengaruhi suhu nyamuk dalam berkembang biak, mencari tempat istirahatnya, dan mempengaruhi tingkah lakunya.

Hasil penelitian Sucipto (dalam Bone dkk., 2021) menyatakan tingkat kelembapan dari 71,9% sampai 83,5% dapat memberikan peluang umur nyamuk semakin panjang karena kelembapan udara yang optimal akan membuat daya tahan hidup nyamuk bertambah. Penelitian lainnya juga menyatakan dengan kondisi kelembapan yang lebih tinggi nyamuk menjadi lebih aktif dan sering menggigit sehingga meningkatkan penularan (Salawati dkk., 2020)

Kelembapan udara mempunyai pengaruh di kehidupan nyamuk. Penelitian yang dilakukan oleh Paramita dan Mukono (2017) menyatakan ada dua jenis kelembapan udara, yakni kelembapan udara absolut dan kelembapan udara relatif. Kelembapan udara absolut mengukur seberapa banyak uap air yang ada di udara pada suatu tempat.

Sementara itu, kelembapan udara relatif adalah perbandingan antara jumlah uap air dalam udara dengan jumlah uap air maksimum yang dapat dikandung oleh udara tersebut dalam suhu yang sama. Kelembapan udara relatif dinyatakan dalam persen.

Hubungan Suhu dan Nyamuk Aedes aegypti

Perubahan iklim membuat seluruh wilayah Indonesia mengalami perubahan suhu udara (Julismin, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh Novitasari dan Sugiyanto (2014) dan penelitian yang dilakukan oleh Izhar dan Syukri (2022) mempelajari tentang hubungan antara suhu dengan perkembangbiakan nyamuk DBD.

Persamaan hasil penelitiannya adalah menemukan bahwa terdapat hubungan antara suhu udara dengan keberadaan jentik nyamuk. Sedangkan, Perbedaan utama antara kedua penelitian tersebut terletak di suhu optimal untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Penelitian Novitasari dan Sugiyanto berpendapat bahwa suhu udara optimal sekitar 20-30 derajat untuk nyamuk berkembangbiak, sedangkan penelitian Izhar dan Syukri berpendapat suhu udara optimal untuk nyamuk berkembangbiak sekitar 25-36 derajat.

Penelitian lain juga menyebutkan tentang suhu yang berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prambudi dkk. (2023) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara suhu udara dengan kejadian demam berdarah dengue (DBD) di Kota Ternate.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kasus DBD di Kota Ternate jauh lebih tinggi ketika mencapai suhu udara berkisar antara 23 hingga 27 derajat Celcius. Penelitian lainnya yang ditulis oleh Sufiani dkk. (2021) menyatakan bahwa perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti tidak akan berjalan jika suhu di bawah 10°C dan di atas 40°C .

Dampak Perubahan Iklim dan Imunitas

Perubahan iklim juga mempengaruhi penurunan imunitas tubuh manusia sehingga akan mudah terserang penyakit. Hapipah dkk. (2021) melakukan penelitian bahwa pergantian musim membuat imunitas atau kekebalan tubuh menurun. Hal ini karena perubahan suhu dan kelembapan udara yang terjadi saat pergantian musim dapat menyebabkan tubuh kita mengalami dehidrasi dan kelelahan.

Dehidrasi dan kelelahan dapat melemahkan sistem kekebalan atau imunitas tubuh kita, sehingga kita lebih mudah terserang penyakit. Penelitian lain dilakukan oleh Syamsul (2018) yang menyatakan perubahan musim dari kemarau ke penghujan merupakan masa transisi yang dapat meningkatkan risiko penularan demam berdarah.

Macam Tempat Genangan Air

Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan genangan air yang bisa menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti menurut Hidayati (2017), terdapat tiga jenis tempat perkembangbiakan atau tempat perindukan:

1. Tempat penampungan air (TPA). Contohnya adalah bak mandi, drum, tempayan, bak wc dan ember. TPA adalah tempat untuk menampung air untuk keperluan sehari-hari;

2. Bukan tempat penampungan air (non TPA). Contohnya adalah tempat minum hewan peliharaan, ban bekas, botol, kaleng bekas, pecahan gelas, dan vas bunga. Berbeda dengan TPA yang merupakan tempat menampung air untuk keperluan sehari-hari, Non TPA adalah tempat yang biasanya digunakan untuk menampung air tetapi tidak digunakan untuk keperluan sehari hari;

3. Tempat penampungan air alami (TPA alami). Tempat-tempat dapat terisi air, seperti lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, kulit kerang, pangkal pohon pisang dan potongan bambu, dapat menjadi sarang nyamuk.

Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana siklus hidup nyamuk untuk memahami hubungan antara perubahan iklim dan demam berdarah. Perubahan iklim dapat mempengaruhi siklus hidup nyamuk, sehingga dapat meningkatkan risiko penularan demam berdarah.

Data DBD di Indonesia

Kasus DBD di Indonesia pertama kali dilaporkan pada tahun 1968, dilaporkan terjadi di Jakarta dan Surabaya. Dilaporkan adanya 96 kasus, dengan 56 di antaranya terkonfirmasi sebagai kasus demam berdarah dengue (DBD) dan 16 di antaranya berakhir dengan kematian.

Pada tahun 2016, terjadi lonjakan kasus DBD dengan angka yang mencolok. Jumlah kasus pada periode tersebut mencapai 204.171, dan terdapat 1.598 kematian akibat DBD. Pada tahun 2022, Kota Bandung mencatatkan diri sebagai wilayah dengan jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi di Indonesia, mencapai 5.205 kasus.

Pada tahun 2023 sampai minggu ke-19 kasus DBD mencapai 3.318 kasus. Kota Bandung merupakan wilayah dengan jumlah kasus DBD terbanyak dengan 928 kasus. Kota Denpasar berada di urutan kedua dengan 891 kasus. Bima menempati urutan ketiga dengan 575 kasus DBD. Sementara itu, di nomor empat dan nomor lima terdapat Kota Balikpapan dengan 465 kasus dan Kabupaten Sikka dengan 459 kasus.

Siklus Hidup Nyamuk

Penting mengetahui siklus hidup nyamuk dibagi menjadi empat tahap, yaitu: telur, larva, pupa, dan dewasa. Seekor nyamuk betina dapat menghasilkan hingga lima kali bertelur selama hidupnya, dan setiap kali bertelur, nyamuk tersebut dapat meletakkan sekitar 100 telur.

Tempat bertelurnya nyamuk adalah pada dinding wadah penampungan air. Telur menetas menjadi larva setelah 1 minggu. Larva berubah menjadi pupa setelah 1 minggu. Pupa berkembang menjadi nyamuk dewasa setelah 1-4 hari. Nyamuk dewasa akan hidup selama 3 minggu.

Media Air Untuk Nyamuk Berkembangbiak

Nyamuk betina menaruh telurnya di dinding wadah atau penampungan air. Air adalah tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti. Namun, tidak semua nyamuk bisa berkembangbiak di semua media air. Penelitian yang dilakukan oleh Wurisastuti (2013), melakukan penelitian terhadap beberapa media air yang memungkinkan nyamuk betina bisa meletakkan telurnya di air.

Media air yang digunakan untuk penelitiannya adalah adalah media air kran, media air cucian beras, media air dengan tanah, media air dengan kotoran kuda, media air dengan kotoran sapi, media air dengan kotoran ayam, dan media air sabun.

Hasil penelitiannya menyatakan bahwa air dengan campuran kotoran sapi paling berpengaruh atau paling disukai oleh nyamuk Aedes aegypti untuk meletakkan telurnya. Media air yang disukai oleh nyamuk Aedes aegypti untuk bertelur setelah tercampur dengan kotoran sapi adalah air kran.

Fenomena ini dianggap wajar, sebab pada dasarnya, secara teoritis, nyamuk Aedes aegypti cenderung memilih air yang bersih sebagai tempat berkembangbiak. Namun, perlu diketahui bahwa pengaruh media air kran tidak memiliki perbedaan yang besar dengan media air dengan tanah dan media air dengan kotoran kuda.

Oleh karena itu, nyamuk Aedes aegypti juga cenderung meletakkan telurnya di media air yang mencampur dengan tanah dan media air yang bercampur dengan kotoran kuda. Sebaliknya, nyamuk Aedes aegypti tidak menyukai untuk bertelur di media air yang berasal dari cucian beras, media air yang terkontaminasi kotoran ayam, dan media air yang tercemar oleh sabun.

Perkembangbiakan Nyamuk Aedes aegypti di Sekitar Rumah

Tempat utama perindukan atau tempat berkembangbiak nyamuk Aedes aegypti adalah tempat-tempat berisi air bersih yang berdekatan letaknya dengan rumah penduduk, biasanya tidak melebihi jarak 500 meter dari rumah (Hidayati, 2017).

Rumah adalah bangunan yang digunakan sebagai tempat berlindung, beristirahat, dan melakukan berbagai aktivitas sehari-hari, rumah juga merupakan tempat penampungan air berada.

Izhar dan Syukri (2022) dalam penelitian mereka di kota Jambi menemukan bahwa jarak rumah, tata rumah, dan kondisi rumah dapat mempengaruhi keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti. Mereka melakukan penelitian terhadap 100 sampel rumah tunggal dan rumah deret.

Rumah tunggal merupakan rumah terpisah antara satu dengan rumah lainnya, memiliki bentuk yang berbeda dengan rumah sekitarnya, dan biasanya pekarangannya luas. Sedangkan, rumah deret adalah bagunan rumah menyatu dengan salah satu dinding dari bangunan rumah tetangga.

Variabel kepadatan hunian adalah jumlah orang yang mendiami rumah dibandingkan dengan luas areal rumah dengan kriteria padat yang digunakan untuk penelitian ini adalah ≥ 8 m2/orang, selain variabel kepadatan, penelitian ini juga menggunakan variabel 3 jenis TPA yang berada di sekitar rumah.

Hasil penelitiannya adalah rumah yang memiliki jentik lebih banyak pada jenis rumah tunggal (84,0%) dibandingkan rumah deret (64,0%). Berdasarkan penelitian tersebut hasilnya adalah adanya perkembangbiakan nyamuk di sekitar rumah. Selain itu jenis rumah, tata rumah, dan kondisi rumah dapat mempengaruhi keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti.

Waktu Nyamuk Aktif

Nyamuk berperan sebagai vektor penyakit dikarenakan perilaku nyamuk yang mencari sumber makanan dengan cara menghisap atau melakukan gigitan ke manusia. Perilaku nyamuk Aedes aegypti menurut penelitian yang dilakukan oleh Hidayati (2013), nyamuk Aedes aegypti aktif melakukan pengisapan darah atau melakukan gigitan dari pagi  sampai petang dengan dua puncak waktu yaitu pada waktu pagi dan sore hari, yaitu sekitar pukul 8.00-10.00 dan 15.00-17.00.

Sedangkan menurut Pane (2022), nyamuk Aedes aegypti mempunyai ciri khas pada waktu melakukan pengisapan darah. Nyamuk ini bisa melakukan pengisapan darah atau melakukan gigitan kepada manusia kapan saja, tetapi biasanya lebih aktif di malam hari. Jadi, tetap perlu mewaspadai gigitan nyamuk Aedes aegypti sepanjang hari.

Dampak Angin Terhadap Nyamuk Aedes aegypti

Kemampuan terbang nyamuk Aedes aegypti cukup jauh. Penelitian yang dilakukan oleh Hidayati (2017) menyatakan bahwa, nyamuk Aedes aegypti dapat terbang hingga 2 kilometer, tetapi biasanya hanya terbang sejauh 40 meter.

Secara teori, kecepatan angin berpengaruh terhadap penyebaran nyamuk sehingga mengurangi kemampuan nyamuk untuk terbang. Pada kecepatan angin 11-14 m/detik atau 25-31 mil/jam akan menghambat kemampuan terbang nyamuk (Wirayoga, 2013; Pratama, 2015).

Pengaruh dari curah hujan yang tinggi adalah arus air yang tinggi karena berpengaruh pada tempat atau lokasi nyamuk berkembangbiak, jika hujan sangat lebat diikuti dengan angin yang kencang dalam waktu yang relatif lama, justru dapat menghilangkan tempat perindukan.

Aliran air yang deras membawa larva dalam tempat perindukannya dan pada akhirnya larva akan mati atau hanyut berpindah lokasi dengan demikian siklus hidup nyamuk akan terputus mata rantainya (Pratama, 2015).

Tempat Nyamuk Aedes aegypti Istirahat

Nyamuk Aedes aegypti yang melakukan pengisapan darah atau yang melakukan gigitan adalah nyamuk betina, karena nyamuk betina membutuhkan darah untuk perkembangan telurnya (Agustin, 2017). Sedangkan, nyamuk jantan tidak membutuhkan darah untuk hidup.

Nyamuk jantan tidak menghisap darah manusia, melainkan nektar bunga ataupun tumbuhan. Nyamuk Aedes aegypti menyenangi area yang gelap dan benda-benda berwarna gelap. Nyamuk Aedes aegypti dewasa biasanya tinggal di tempat yang gelap, di dalam ruangan seperti lemari baju dan di bawah tempat tidur (Hidayati, 2017)

Tempat beristirahat nyamuk Aedes aegypti berupa semak-semak atau tanaman rendah termasuk rerumputan yang terdapat di halaman/kebun/pekarangan rumah. Benda yang tergantung di tempat yang gelap atau lembap yang berdekatan dengan tempat perkembangbiakannya bisa menjadi tempat peristirahatan nyamuk Aedes aegypti (Kristanti, 2023).

Benda-benda yang tergantung di dalam rumah juga bisa menjadi tempat istirahat nyamuk Aedes aegypti contohnya, seperti pakaian, sarung, kopiah, dan lain sebagainya.

Pencegahan Nyamuk Aedes aegypti

Penting bagi kita mengetahui cara pencegahan nyamuk Aedes aegypti. Salah satu cara mencegahnya adalah dengan melakukan fogging. Fogging biasanya dilakukan saat suatu wilayah terdapat kejadian DBD.

Kurniawati dkk. (2020) menyatakan bahwa masyarakat masih menganggap fogging merupakan cara yang paling efektif dalam memberantas nyamuk Aedes aegypti. Pada kenyataannya, fogging hanya bertahan selama 2 minggu dan hanya membunuh nyamuk dewasa. Sedangkan, telur telur nyamuk yang tidak mati, dapat berkembang menjadi nyamuk dewasa.

Selain pencegahan dengan cara fogging, melakukan 3M plus (menguras, menutup, dan mendaur ulang atau membuang sampah) merupakan salah satu cara mencegah penyebaran nyamuk Aedes aegypti. Menguras tempat penampungan air yang tidak dirawat dengan baik dapat, sehingga dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.

Oleh karena itu, tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, pot bunga, dan tempat penampungan air lainnya harus dikuras secara berkala agar tidak terdapat telur, larva, atau pupa nyamuk Aedes aegypti. Selanjutnya adalah menutup.

Tempat penampungan air yang tidak tertutup rapat juga dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti. Oleh karena itu, tempat penampungan air harus ditutup dengan menggunakan penutup tempat penampungan, kain kasa, atau saringan. Membuang barang bekas yang tidak dimanfaatkan dengan baik juga dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.

Oleh karena itu, barang bekas seperti botol plastik, kaleng, dan ban bekas harus dimanfaatkan atau dibuang dengan benar. Kurniawati dkk. (2020) menyatakan gerakan plus untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti dapat dilakukan dengan memasang kawat kasa di ventilasi atau lubang yang dapat dilalui nyamuk, memakai kelambu saat tidur, mengenakan pakaian tertutup, dan menggunakan obat nyamuk untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Obat nyamuk ada banyak macamnya, salah satunya adalah obat nyamuk bakar atau obat nyamuk krim atau lotion. Tetapi, tanaman juga bisa berperan sebagai pengusir nyamuk. Beberapa jenis tanaman anti nyamuk dapat dibudidayakan di dalam pot morfologi atau ukuran yang tidak besar, agar mudah beradaptasi pada lingkungan sekitar, dan relatif mudah perawatannya.

Tanaman tersebut antara lain adalah Sereh, Lavender, Zodia, Geranium, mint, marigold, kemangi, dan rosemary (Kesetyaningsih., dkk. 2023). Beberapa jenis tanaman anti nyamuk juga merupakan tanaman hias, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias di tiap rumah sekaligus untuk mempercantik lingkungan.

Kesetyaningsih dkk. (2023) dalam penelitiannya menyatakan, perawatan tanaman hias yang dapat mengusir nyamuk itu mudah. Penyiraman hanya dilakukan saat kondisi tanah kering, dan hindari penggunaan air berlebih hingga membuat genangan. Hal ini dapat membuat akar tanaman membusuk.

Kesetyaningsih., dkk, (2023) juga menambahkan, tanaman yang paling dikenal dari morfologinya adalah serai dan kemangi. Hal ini karena sereh dan kemangi dapat tumbuh dengan baik di Indonesia karena merupakan tumbuhan asli negara ini. Jika mengenal dari bentuknya adalah Zodia dan Lavender.

Agustina et al., (dalam Kesetyaningsih dkk., 2023) menyatakan, Zodia biasa digunakan sebagai pengusir nyamuk karena mempunyai kandungan evodiamine, rutaecarpine, dan linalool, a-pinene yang sangat efektif sebagai zat pengusir nyamuk. Cara bekerja tanaman tersebut yaitu sebagai racun kontak, racun gas dan racun perut.

Pratiwi & Purwati (2021) menyatakan, tanaman rosemary berasal dari Mediterania dan Eropa, biasa digunakan sebagai bumbu masakan dan juga sebagai aromaterapi. Daun rosemary mengandung minyak yang terdiri dari geraniol, linalool, sineol, dan borneol. Zat ini memiliki efek sebagai pengusir atau repelen.

Selain tanaman yang bisa mengusir nyamuk, obat nyamuk bakar juga bisa digunakan untuk mengusir nyamuk. Penggunaan obat nyamuk bakar membuat nyamuk mengalami kelumpuhan atau knockdown. Hal ini karena obat nyamuk mengandung Metofluthrin. Metofluthrin adalah senyawa piretroid yang mempunyai karakteristik melumpuhkan (knockdown) yang sangat tinggi terhadap serangga, khususnya nyamuk (Mustafa dkk., 2020).

Anggriani & Mukti (dalam Musfata dkk., 2020) menyatakan penggunaan obat nyamuk bakar untuk bisa melumpuhkan nyamuk membutuhkan waktu puluhan menit hingga 1 jam. Suhada dkk. (2016) melakukan penelitian dan menyatakan rata-rata obat nyamuk membuat nyamuk lumpuh pada menit ke 20.

Obat nyamuk bakar bekerja dengan menjadikan pernafasan nyamuk sebagai sasarannya. Rianti (dalam Mustafa dkk., 2020) menyatakan pada saat obat nyamuk dipanaskan kandungan bahan yang terdapat di dalam obat nyamuk menguap dan menghasilkan asap, sehingga pernafasan nyamuk akan terganggu. Asap obat nyamuk bakar juga memberikan dampak terhadap manusia.

Asap obat nyamuk bakar dapat masuk ke saluran pernapasan saat kita menghirupnya, sehingga racun yang ada di dalam obat nyamuk tersebut masuk ke dalam paru-paru. Jika terhirup dalam jangka waktu yang lama, asap obat nyamuk bakar dapat menyebabkan sakit dada, kesulitan bernafas dan masalah pernafasan lainnya.

Dampak secara umum yang ditimbulkan akibat paparan asap obat nyamuk bakar dapat menyebabkan kerusakan pada saluran nafas dan paru-paru.aparan asap obat nyamuk bakar dapat menyebabkan kerusakan pada saluran nafas dan paru-paru.. Pada saluran pernapasan, sel mukosa membesar (hypertrophy) dan kelenjar mukus bertambah banyak (hyperplasia) sehingga terjadi penyempitan saluran napas (Tampubolon, 2016).

Obat anti nyamuk lain adalah lotion atau krim anti nyamuk. Banyak orang yang memanfaatkan bau sereh yang dapat mengusir nyamuk, menjadi krim anti nyamuk. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ambari dkk. (2019), menyatakan krim anti nyamuk sereh berfungsi untuk mengusir nyamuk, dengan cara mengoleskannya di kulit.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Fitri (2021) yang meneliti efektivitas proteksi sereh sebagai krim atau lotion pengusir nyamuk. Hasilnya, sereh memiliki efektivitas yang bagi sebagai anti nyamuk, dengan hasil proteksi mencapai 100%. Hal ini menunjukan bahwa lotion atau krim yang mengandung wangi sereh efektif sebagai pengusir nyamuk.

Perubahan iklim di Indonesia didukung oleh kondisi geografis Indonesia. Kondisi iklim di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti posisi matahari, wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, dan lokasi gunung-gunung di Indonesia, yang mempengaruhi iklim di Indonesia. Sehingga, menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Siklus hidup nyamuk dibagi menjadi empat tahap, yaitu: telur, larva, pupa, dan dewasa. Nyamuk betina dapat meletakkan sekitar 100 telur pada dinding wadah penampungan air. Perubahan iklim memiliki hubungan terhadap peningkatan  demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia.

Faktor-faktor perubahan iklim seperti perubahan suhu, curah hujan, kelembapan, dan kecepatan angin dapat mempengaruhi siklus hidup nyamuk Aedes aegypti. Peningkatan suhu dan curah hujan dapat mempengaruhi masa inkubasi virus dengue dalam tubuh nyamuk, sehingga berpengaruh terhadap penyebaran penyakit. Peningkatan curah hujan, terutama yang diakibatkan oleh perubahan iklim, dapat menciptakan genangan air yang menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak.

Selain itu, terdapat 3 jenis tempat penampungan air (TPA) yang dapat menjadi wadah untuk nyamuk meletakkan telurnya. Bak mandi, ember, tempat minum hewan peliharaan, dan vas bunga adalah contohnya dan itu semua ada di sekitar kita.

Perubahan iklim tidak hanya mempengaruhi nyamuk Aedes aegypti, tetapi juga dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia. Pergantian musim dapat menyebabkan penurunan imunitas tubuh manusia, meningkatkan risiko terkena penyakit.

Masalah demam berdarah (DBD) dapat diatasi dengan mengikuti langkah-langkah pencegahan seperti 3M Plus, meliputi 3M plus. Meliputi menguras, menutup, dan mendaur ulang atau membuang tempat-tempat yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.  Penggunaan obat nyamuk juga sangat penting untuk mengusir nyamuk.

Fogging, meskipun digunakan untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti, namun hanya bersifat sementara dan tidak dapat mengatasi akar masalah. Oleh karena itu, upaya pencegahan seperti 3M plus perlu dilakukan. Selain itu masyarakat dapat menanam tanaman pengusir nyamuk di sekitar rumah. Penggunaan kelambu saat tidur dan mengenakan pakaian tertutup juga dapat membantu mengatasi masalah demam berdarah dengue (DBD).

Asa Yaksana Moya Angkat
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta