Filosofi Stoikisme: Obat untuk Si Overthinker

DEPOKPOS – Sejak beberapa tahun yang lalu, sudah ramai perbincangan tentang Filosofi Stoikisme. Tidak sedikit orang yang merasa bahwa “Oh, ini adalah prinsip hidup gue”. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah benar, atau justru salah mengenai implementasi stoikisme bisa jadi solusi dari masalah hidup yang tak terhitung banyaknya? Apakah sebenarnya ajaran ini hanya gosip belaka alias bullshit? Atau malah ternyata banyak orang yang mengklaim bahwa dirinya “Si Paling Stoik” justru pada aslinya tidak benar-benar tahu yang mendalam tentang stoik ini?

Stoicism adalah ajaran filsafat Yunani kuno. Terdapat 3 tokoh besar terkenal yang biasa disebut Trio Stoicism. Tokoh pertama yang paling terkenal adalah Seneca. Tokoh kedua yaitu Epictitus. Dan yang ketiga yaitu Marcus Aurelius. Walaupun ajaran ini kuno, bahkan usianya sudah ribuan tahun sejak pertama kali stoik dicetuskan, ajaran ini tetap eksis yang berarti ini menunjukkan hal bagus. Kenapa? Karena jika sampai saat ini ajaran tersebut masih eksis, maka artinya ajaran itu relevan. Pada era di mana hoax beredar yang menyebabkan perpecahan, filosofi ini relevan untuk keadaan Indonesia saat ini.

BACA JUGA:  Bahaya Hoaks di Media Sosial: Pentingnya Literasi Digital

Stoicism mengajarkan banyak hal baik dan praktis yang bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Stoicism mengajarkan untuk mengekspektasikan hal terburuk. Semua hal buruk yang bisa terjadi, akan terjadi. Gambarkan hasil yang terburuk, karena ketika sudah berekspektasi yang terburuk akan terjadi, ketika itu memang terjadi, maka kita akan baik-baik saja. Kita tidak akan merasa sesedih dari yang sebelumnya. Dan ketika hal itu tidak terjadi, maka justru kita akan merasa sangat bahagia, karena tiba-tiba hal baik di luar ekspektasi kita terjadi. Stoicism juga mengajarkan untuk focus pada proses, bukan hasil. Kita tidak memiliki kontrol terhadap sebagian besar hal yang terjadi di dunia ini. Tetapi, kita memiliki kontrol bagaimana cara atau tindakan yang diambil saat memberi reaksi pada masalah tersebut.

Apa saja topik inti ajaran Stoicism?

Pertama, Stoicism adalah ajaran yang mengajarkan untuk fokus terhadap hal yang bisa kita kendalikan. Stoicism membagi hal menjadi dua, yaitu hal yang bisa kita kendalikan yang mana itu adalah hal internal dan hal yang tidak bisa dikendalikan atau hal eksternal. Stoicism mengajarkan bahwa apapun yang terjadi, mau seambruk apapun dunia ini, harus tetap fokus terhadap hal yang bisa kita kontrol. Seseorang memiliki kendali penuh atas apa yang ia pikirkan, dan hal itulah yang akan menuntun seseorang menjadi seperti apa yang ia inginkan, terlepas dari hal buruk apapun yang terjadi di sekitar.

BACA JUGA:  Tantangan Literasi di Era Digital: Mengapa Masyarakat Semakin Mengandalkan Situs Ilegal?

Kedua, Stoicism mengajarkan bahwa hidup jangan mengejar duniawi saja. Hal-hal duniawi cenderung tidak bisa kita kontrol. Seperti contohnya, sesimpel kekayaan bisa hilang besok atau bahkan kesehatan saja bisa tiba-tiba jatuh sakit.

Ketiga, Stoicism mengajarkan untuk fokus berbuat kebaikan. Stoicism bukan berarti bodo amat terhadap hal eksternal dan hanya sekadar “ya sudah”. Stoicism percaya bahwa manusia seharusnya menyatu dengan alam sebagai makhluk yang rasional. Sebagai makhluk rasional semestinya melakukan hal baik meskipun di luar sana banyak orang yang melakukan hal buruk.

BACA JUGA:  Tak Sekedar Viral, Pentingnya Menilai Kebenaran dari Dua Sisi!

Keempat, Stoicism mengajarkan untuk mengingat kematian, mengingat bahwa suatu hal tidak akan hidup selamanya, bahkan seperti tubuh kita. Meskipun terkesan dark, namun dengan menyadari bahwa suatu hari semuanya akan mati, maka akan membuat seseorang lebih ikhlas, bisa memfokuskan diri terhadap hal-hal yang penting di hidup ini.

Kelima, Stoicism mengajarkan untuk percaya dengan takdir bahwa terkadang suatu hal bisa terjadi karena memang seperti itulah takdirnya. Tetapi dengan adanya takdir bukan berarti tidak berusaha. Epictetus pernah mengatakan bahwa jangan berharap sesuatu terjadi seperti yang kita inginkan; sebaliknya, berharaplah yang terjadi, terjadi sebagaimana mestinya, maka itu akan membuat kita bahagia. Cintai dan terima apa yang terjadi dalam hidup, bukan malah menggerutu, protes, apalagi menyangkalnya.

Bagaimana cara yang bisa dilakukan agar hidup lebih bahagia menurut Stoicism?

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait