Dunia Tanpa Perbatasan dan Sistem Pemerintahan Global

DEPOKPOS – Perbatasan merupakan sebuah fenomena yang unik di dunia ini. Pemisahan-pemisahan komunitas politik sebagai sebuah daerah kekuasaan dalam bentuk kenegaraan. Secara definisi sendiri, perbatasan merupakan sebuah batas imajiner ataupun asli dan tampak secara fisik sebagai batas dari sebuah wilayah. Perbatasan dapat membatasi negara, provinsi, negara bagian, maupun kota.

Pembentukan sebuah perbatasan dapat terjadi secara alami maupun dengan adanya campur tangan dari kebijakan manusia. Secara alami, perbatasan dapat terbentuk dan diimplementasikan dengan melihat kondisi geografis suatu wilayah seperti adanya pegunungan, aliran sungai, garis pantai, dan lainnya.

Misalnya, seperti perbatasan antara Perancis dan Spanyol yang terbentuk mengikuti Pegunungan Pirenia, perbatasan ini juga membatasi Semenjanjung Iberia dengan keutuhan Benua Eropa. Perbatasan alami juga bisa kita lihat pada perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko yang mengikuti garis aliran sungai Rio Grande.

Perbatasan yang terbuat dari adanya campur tangan dan kebijakan manusia dapat terjadi akibat adanya resolusi konflik atau peperangan pada masa lalu dan sebuah perjanjian.

BACA JUGA:  Jangan Terjebak Hubungan Toxic, Lakukan Ini!

Menurut Herbert Dittgen, seorang profesor dan pakar Hubungan Internasional asal Jerman pada tahun 1999, terdapat beberapa alasan fungsional dibutuhkannya sebuah perbatasan. Alasan utama yang disampaikannya, perbatasan penting untuk kepentingan proteksi dari pemerintahan sebuah negara atas daerah kekuasaannya karena itulah setiap perbatasan akan dijaga dan diawasi ketat oleh instansi pemerintahan.

Sebuah negara tentunya harus melindungi kedaulatan dan warga negaranya dari berbagai ancaman. Namun, fungsi ini seiring dengan perkembangan zaman tidak lagi menjadi alasan yang kokoh dikarenakan perkembangan teknologi militer pada saat ini sangatlah pesat.

Penemuan dan pengembangan pesawat tempur dan pesawat pengebom telah menimbulkan keraguan akan perbatasan yang tidak dapat menghalangi kendaraan udara melewatinya. Pada masa modern ini, perbatasan sebagai alat untuk negara dalam upayanya melindungi diri dari masuknya imigran ilegal dan bukan lagi untuk melindungi diri dari agresi militer negara tetangganya seperti halnya perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko.

BACA JUGA:  Mengatasi Rasa Malas, Gampang Koq!

Maka timbul pertanyaan di benak kita, apa jadinya suatu saat nanti apabila tidak ada perbatasan dan dunia ini merupakan satu negara kesatuan?

Membayangkan sebuah negara tanpa adanya perbatasan tentu merupakan sebuah hal yang menarik. Peradaban manusia dapat berkembang dan dapat menyamakan kepentingannya demi kemajuan bersama. Tanpa adanya perbatasan, setiap individu di dunia dapat bepergian kemana tanpa adanya persyaratan dan ketentuan tertentu yang dapat menghambat arus keluar masuk manusia dari sebuah wilayah.

Sebagai contoh, seorang yang tinggal di daerah Indonesia dapat menyeberang masuk ke dalam wilayah Malaysia yang dulunya merupakan dua negara berbeda dengan perbatasan yang menghalang warga negara keluar masuk daerah mereka masing-masing, kini dapat bepergian seenaknya.

Hal ini bukan hal yang asing bagi kita saat ini, misalnya di Eropa, warga negara yang negaranya merupakan anggota Uni Eropa dapat bepergian semaunya ke negara lain yang juga merupakan anggota Uni Eropa tanpa adanya pengecekan di perbatasan walau berbeda status kewarganegaraannya.

BACA JUGA:  5 Tips untuk Menenangkan Pikiran

Bayangkan juga, dunia dengan satu negara kesatuan dan dengan satu kepentingan politik bersama, dapat menyelesaikan berbagai masalah global dikarenakan komitmen yang diberikan berasal dari kesamaan kepentingan dan satu sistem pemerintahan.

Hal ini tentunya dapat menyelesaikan banyak isu sosial dan ekonomi dengan adanya kesamaan visi ini demi menyelesaikan masalah. Misalnya pada isu pemanasan global, pada 2015 terdapat Paris Agreement yang merupakan perjanjian internasional yang ditujukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengurangi dampak pemanasan global.

Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sejak adanya perjanjian ini sangat gencar dalam mengembangkan energi yang terbarukan dalam kebijakannya, namun Amerika Serikat justru mengundurkan diri dari perjanjiannya pada tahun 2017.