Berani Menyerukan Suara dan Hak di Media Sosial, Adakah Kebebasan?

DEPOKPOS – Setiap manusia memiliki hak asasi masing-masing, salah satunya yaitu kebebasan dalam berpendapat. Kebebasan berpendapat adalah hak asasi manusia untuk menyalurkan atau mengutarakan pendapat dan ekspresi melalui opini, kritik, dan protes tanpa disertai adanya paksaan, pembatas, dan penghalang. Hak atas kebebasan berekspresi telah diakui sebagai hak asasi manusia dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan hukum hak asasi manusia internasional oleh PBB.

Kebebasan berpendapat diatur sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM pada Pasal 2 dijelaskan “Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat pada dan tidak terpisahkan dari manusia, yang harus dilindungi, dihormati, dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan serta keadilan” (UU No. 39 Tahun 1999).

Sama halnya dengan kebebasan berpendapat di lingkungan masyarakat, kebebasan berpendapat di dunia media sosial juga merupakan bagian dari hak asasi manusia yang harus dilindungi. Dalam konteks kebebasan berpendapat dan hak asasi manusia melalui media sosial, penting untuk mempertimbangkan keseimbangan antara kebebasan individu untuk menyatakan pendapat mereka dan perlindungan terhadap hak-hak orang lain. Hak-hak ini sangat penting dan harus dihormati, tetapi juga harus dilakukan dengan tanggung jawab dan mempertimbangkan bagaimana hal itu berdampak pada orang lain.

BACA JUGA:  Jangan Terjebak Hubungan Toxic, Lakukan Ini!

Adanya perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, terkhusus pada perkembangan internet dan aplikasi juga menjadi sarana untuk mengutarakan kebebasan pendapat berupa kutipan atau tulisan yang disebar luaskan. Salah satu jejaring sosial yang menarik perhatian khusus para pengguna internet ialah Twitter (sekarang berubah nama menjadi X).

Menurut We Are Social, pengguna Twitter sebanyak 564,1 juta per Juli 2023 dan menempati peringkat ke 14 sebagai pengguna media sosial terbanyak di dunia. Indonesia berada di posisi keempat dengan pengguna Twitter terbanyak di dunia pada Juli 2023 yang mencapai 25,25 juta pengguna per Juli 2023. Sedangkan pengguna sebanyak 98,5 juta per Juli 2023 ditempati oleh Amerika Serikat sebagai posisi teratas pengguna Twitter terbanyak. Kemudian disusul negara Jepang sebagai posisi kedua dan India menempati posisi ketiga.

BACA JUGA:  5 Tips untuk Menenangkan Pikiran

Salah satu manfaat media sosial adalah dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengemukakan apa yang dipikirkan dan apa yang menjadi kritik terhadap lingkungan sosial yang ada di sekitar. Maraknya penggunaan Twitter (X) semakin memudahkan masyarakat untuk langsung menyuarakan pendapatnya. Melalui media sosial tersebut tiap individu semakin diberikan kebebasan dalam menyampaikan aspirasi, memberi dukungan, serta menyalurkan informasi.

Namun nyatanya banyak terjadi peristiwa di mana para individu melampaui batas-batas yang telah ditentukan oleh Hukum dan HAM yang berlaku di Indonesia. Sehingga penting untuk mempertimbangkan keseimbangan antara kebebasan individu untuk menyatakan pendapat mereka dan perlindungan terhadap hak-hak orang lain. Memerlukan kesadaran bersama, upaya kolaboratif, dan regulasi yang bijaksana untuk memastikan bahwa media sosial tetap menjadi wadah yang mendukung pertukaran ide yang sehat, bertanggung jawab, dan adil bagi semua penggunanya.

BACA JUGA:  Definisi, Jenis dan Dalil Tentang Riba

Mayoritas masyarakat masih jarang mengemukakan pendapatnya dalam media sosial. Penurunan keinginan individu berpendapat disebabkan oleh banyaknya konten yang mengandung komentar negatif sehingga memicu perselisihan antar individu. Umumnya masyarakat menerima informasi sesuai dengan minat dan pendapatnya masing-masing serta menghindari adanya perdebatan. Keadaan ini disebut selective attention yang mana suatu individu akan mengalihkan perhatian secara lebih terhadap konten yang sesuai dengan keinginan dan minatnya, sehingga akan cenderung lebih sedikit melihat konten yang negatif dan tidak sesuai dengan minat dan keinginannya.