AI era 4.0 : Pengaruhnya dalam Pemilu 2024

DEPOKPOS – Istilah “Internet of Things” menjadi salah satu penanda bahwa Indonesia hari ini telah berpijak pada suatu era revolusi industri 4.0. Mengutip dari Forbes, Revolusi Industri 4th generation ini diartikan dengan adanya campur tangan dari sebuah sistem cerdas dan otomatisasi dalam pengolahan data. Berkembang pesatnya kecerdasan buatan atau biasa dikenal sebagai AI, dengan berbagai mesin dan sistem pemrograman yang amat canggih, sangat mempengaruhi proses kehidupan zaman ini. Hal ini merujuk pada perangkat komputer yang dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menyerupai kecerdasan dan jalan pikir manusia, baik itu dalam mengambil keputusan, berperilaku, bahkan dalam menyebarkan informasi. Hal inilah yang pada akhirnya mempengaruhi berbagai bidang kehidupan, diantaranya pendidikan, kesehatan, ekonomi, atau bahkan politik.

Seperti yang kita ketahui bahwa pada 14 Februari 2024 menjelang akan diadakan Pemilu 2024 untuk menetapkan presiden dan wakil presiden yang akan menjadi sosok pemimpin baru. Bila pada pemilu 2019 disebut sebagai “Pemilu Medsos”, lain halnya dengan Pemilu 2024 yang disebut “Pemilu AI”. Kita sebagai Warga Negara Indonesia, terutama yang telah berusia 17 tahun, tentu memiliki hak suara untuk turut memilih pemimpin bangsa selanjutnya. Periode ini merupakan saat yang pas bagi kita untuk mengkritisi informasi, maupun visi misi, serta tujuan setiap calon sebagai bahan pertimbangan sebelum menentukan siapa yang pada akhirnya akan kita beri amanah untuk memimpin negara ini. Dengan gempuran kemajuan teknologi saat ini, proses yang satu ini memiliki tantangan tersendiri.

BACA JUGA:  Pengaruh Kesetaraan dan Keadilan terhadap Penggelapan Pajak di Indonesia

Dalam konteks kampanye dan berpolitik, sebenarnya AI dapat sangat membantu. Bukan cuma di Indonesia, bahkan negara-negara di sisi lain dunia, seperti India, Perancis, Brazil, dst. telah memanfaatkan sistem ini pada konteks yang sama. Berkampanye melalui poster-poster kreatif, video interaktif, maupun berbagai platform digital sudah banyak dilakukan. Hal ini bertujuan untuk dinotice dan mendapatkan daya tarik masyarakat terhadap rencana program-program kerja ke depan. Capres dan cawapres dapat menggapai masyarakat luas, baik dari Sabang sampai Merauke, dengan mensosialisasikan dan menyebarkan informasi persuasif sebagai ajang berkompetisi dan meminta dukungan. Bisa kita nilai bahwa hal ini merupakan strategi dan senjata paling efektif pada zaman sekarang, karena pada dasarnya masyarakat Indonesia di seluruh dunia sangat aktif dalam menggunakan kemajuan industri pada kehidupan sehari-harinya.

BACA JUGA:  Rendahnya Minat Baca Mempengaruhi Kualitas Bangsa

Akan tetapi di sisi lain, pemanfaatan kemajuan sistem ini juga dapat menjadi bumerang besar bagi penyelenggaraan pemilu 2024. Menkominfo Budi Arie Setiadi sendiri sudah memperingatkan tentang rentannya terjadi konflik akibat penyalahgunaan AI (20/10/2023). Bahkan saat ini, beberapa AI, seperti chat bot, sudah mampu memprediksi terkait siapa pemenang capres dan cawapres yang akan datang. Banyak sekali beredar konten manipulatif maupun framing hasil penggunaan kecanggihan teknologi saat ini yang pada akhirnya menyebabkan disinformasi maupun fitnah terhadap masing-masing kandidat. AI juga bisa generate gambar-gambar provokatif maupun deepfake videos untuk menggiring dan mempengaruhi pandangan masyarakat. Pemilu 2024 dinilai akan menjadi medan perang hoax yang lebih dahsyat dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Oknum-oknum seperti beberapa buzzer yang kurang bertanggung jawab dalam penggunaan AI merupakan salah satu pemicu terbesar hal tersebut bisa terjadi.

BACA JUGA:  HIV Mengintai! Ini Cara Pencegahannya

Dengan adanya potensi tersebut menunjukkan seberapa besar pengaruh AI terkait proses berjalannya Pemilu 2024. Kekhawatiran akan rendahnya netralitas memperumit keadaan. Bahkan beberapa masyarakat telah beropini bahwa kedepannya, ada baiknya setiap pemilu tidak lagi memilih presiden yang berbasis manusia, melainkan humanoid berbasis AI. Tahun ini telah menjadi tahun politik dan 1 sampai 2 bulan ke depan merupakan puncaknya. Di sinilah Warga Negara Indonesia diuji pola pikirnya dalam mengolah dan menyerap informasi terutama terkait konteks politik yang telah beredar pada banyak media. Kita harus selalu waspada atas adanya kecurangan Pemilu terlebih lagi dengan banyaknya keterlibatan AI yang kerap disalahgunakan.