Pelaporan Tata Kelola Syariah Bank Syariah: Sebuah Wawasan dari Malaysia

DEPOKPOS – Selain struktur tata kelola konvensional, bank syariah memiliki tambahan lapisan tata kelola yang dikenal sebagai Shariah Governance (SG). SG adalah alat utama yang digunakan oleh bank syariah untuk mengurangi risiko yang terkait dengan pelanggaran prinsip syariah. Istilah SG pertama kali diperkenalkan oleh MA Qatan pada tahun 2003, yang mendefinisikannya sebagai “proses tata kelola yang pada dasarnya bergantung pada dasar-dasar arsitektur keuangan Islam” (Ginena & Hamid, 2015).

Literatur yang membahas pelaporan tata kelola syariah mengindikasikan bahwa pengembangan mekanisme yang efisien dalam tata kelola syariah dan penerapan transparansi dalam pelaporan dapat membantu lembaga keuangan Islam dalam membangun kembali kepercayaan publik, mencapai tujuan bisnis, serta menjaga konsistensi dalam pertumbuhan (Ab Ghani et al., 2023; Elamer et al., 2020a).

Beberapa penelitian sebelumnya telah meneliti praktik, isu, dan hambatan yang dihadapi oleh Institut Keuangan Islam (IFI) di berbagai yurisdiksi. Namun, yang menarik adalah bahwa sebagian besar penelitian tersebut menggunakan metode deskriptif untuk menganalisis SG, sementara hanya sedikit penelitian yang memusatkan perhatian pada metode empiris untuk mengatasi tantangan dalam Institut Keuangan Islam.

BACA JUGA:  Bank Muamalat Bersama BMM Resmikan Program Beasiswa Sarjana Muamalat

Masalah ini telah diatasi oleh penelitian terbaru yang menyelidiki pelaporan tata kelola syariah bank sayriah di Malaysia melalui analisis konten laporan tahunan. Namun, temuan penelitian ini tidak memberikan gambaran mengenai perkembangan periodik pola SGR di Malaysia, karena hasilnya didasarkan pada analisis laporan tahunan satu tahun (2016). Oleh karena itu, sulit bagi investor, pemangku kepentingan, dan pelanggan bank syariah untuk melacak perubahan berkala dalam pola pelaporan tata kelola syariah dan menyimpulkan bagaimana berbagai aspek SG merespon pengenalan standar SG terbaru dari AAOIFI dan IFSB.

Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengatasi kesenjangan tersebut dengan memperluas cakupan data dan menganalisis pelaporan tata kelola syariah dari setiap aspek yang terlibat dalam Syariah Governance bank syariah.

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian eksplanatori dan kualitatif. Data primer dikumpulkan dari laporan tahunan antara tahun 2014 – 2018. Penggunaan laporan tahunan secara berkala memungkinkan peneliti untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan pola pelaporan atat kelola syariah. Secara keseluruhan, penelitian ini memanfaatkan 80 laporan tahunan (5 laporan untuk setiap bank) yang diunduh dari portal web 16 bank syaraih di Malaysia.

BACA JUGA:  Sinergi Ekonomi Syariah dan Ekonomi Hijau

Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan teknik analisis konten dengan menggunakan perangkat lunak NVivo untuk mengidentifikasi pola pelaporan tata kelola syariah dari berbagai bank syariah di Malaysia. Penggunaan analisis konten dianggap sebagai metode yang dapat diandalkan untuk menghasilkan hasil yang signifikan dari data yang telah terkumpul (Bengtsson, 2016).

Dalam analisis konten penting untuk membangun konsistensi dan keandalan agar mudah untuk ditiru oleh peneliti selanjutnya. Keandalan dan konsistensi dalam analisis ini dicapai dengan menggunakan empat ukuran berbeda yaitu:

Pertama, peneliti mengkodekan laporan tahunan yang sama dua kali pada kerangka waktu yang berbeda dengan menggunakan Microsoft excel dan Microsoft word untuk memastikan bahwa peneliti sepenuhnya memahami proses pengkodean.

Kedua, menguji dan memverifikasi reliabilitas antarkode melalui para ahli yang memiliki latar belakang akademis serupa dan keahlian dalam analisis isi laporan tahunan yang sama yang kemudian dibandingkan dengan hasil peneliti.

Tiga, keandalan intercoder ditingkatkan dengan memberikan daftar analisis konten pada Microsoft excel dan Microsoft word yang serupa kepada pembuat kode lain yang tidak memiliki latar belakang akademis dan keahlian sebelumnya dalam analisis konten untuk menguji kejelasan dan kelayakan instruksi. Empat, Pembuat kode kedua diberikan pelatihan satu hari sebelum analisis.

BACA JUGA:  Sinergi Ekonomi Syariah dan Ekonomi Hijau

Dalam penelitian ini, terdapat enam dimensi utama yang dipilih, yaitu komite syariah dengan 14 tema, tinjauan syariah dengan 5 tema, audit syariah dengan 6 tema, risiko syariah dengan 5 tema, tingkat transparansi keseluruhan dengan 11 tema, dan pemegang rekening investasi dengan 4 tema. Terdapat juga 45 sub-tema yang digunakan untuk mengembangkan indeks pelaporan tata kelola syariah yang kuat dan untuk menganalisis pola pelaporan bank syariah dalam konteks dimensi dan tema yang telah disebutkan.