Health  

Konsumsi UPF pada Ibu Hamil, Benarkah dapat Menyebabkan Janin Autisme?

Ultra-Processed Food (UPF) atau makanan ultra olahan merupakan salah satu kelompok makanan olahan yang paling sering dijumpai di masyarakat saat ini

DEPOKPOS – Jika dahulu kita lebih terbiasa untuk mengonsumsi makanan asli sebagai makanan sehari-hari seperti makanan dengan bumbu atau rempah, di zaman modern kita cenderung mengonsumsi makanan olahan (processed food) yang mengandung pengawet, pewarna, pemanis, perisa buatan, dan lain-lain.

Ultra-Processed Food (UPF) atau makanan ultra olahan merupakan salah satu kelompok makanan olahan yang paling sering dijumpai di masyarakat saat ini. UPF menurut FAO (2019) adalah gabungan dari bahan-bahan yang sebagian besar diperlukan untuk keperluan industri, biasanya dibuat melalui serangkaian teknik dan proses. Beberapa proses tersebut diakhiri dengan pemberian bahan-bahan kimia seperti pewarna, perasa, pengemulsi, dan bahan tambahan lainnya.

Konsumsi UPF berlebih memiliki dampak buruk bagi tubuh. Tingginya konsumsi UPF berhubungan dengan peningkatan nafsu makan, sehingga terjadi peningkatan berat badan dan obesitas yang dapat mendorong terjadinya sindrom metabolik, seperti hipertensi, hiperglikemia, diabetes, kolesterol dan lain-lain, sehingga meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, depresi, dispepsia, kelemahan otot, dan lain sebagainya (Paglai et al, 2021; AIMI 2021).

Tidak sampai disitu, studi terbaru juga menyebutkan bahwa dampak konsumsi UPF berlebih, khususnya pada ibu hamil, dapat meningkatkan risiko autisme pada bayi.

Belakangan ini tren autisme pada anak menjadi perhatian khusus karena jumlah yang kian meningkat. Menurut WHO (2023), sekitar 1 dari 100 anak di dunia menderita autisme. Sementara itu, menurut Pusat Data Statistik Sekolah Luar Biasa yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2019), sebanyak 16.987 siswa menderita autisme.

Autisme dapat disebabkan oleh pola konsumsi ibu yang buruk saat hamil, salah satunya akibat konsumsi UPF berlebih. Menurut Walton dan Monte (2015), pada produk UPF banyak dijumpai kandungan metanol yang membuat risiko ibu hamil melahirkan anak dengan autisme semakin meningkat.

Hal ini dibuktikan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) bahwa ”metanol dapat menyebabkan cacat lahir pada sistem saraf pusat pada manusia” dan lebih jauh lagi bahwa paparan metanol secara berulang diduga meningkatkan risiko terjadinya autisme.

Produk UPF mengandung banyak gula, minyak, protein, dan bahan tambahan seperti perasa, penguat rasa, pewarna, pengemulsi, pemanis buatan, pengental, bahan pembusa, anti pembusaan, pengkarbonasi, dan lain-lain sehingga produk menjadi lebih awet dan menarik untuk dilihat, dicicipi, dan disentuh (FAO, 2019).

Aspartam merupakan salah satu bahan penyusun UPF yang termasuk jenis pemanis buatan non-nutrisi dan kerap dijumpai pada banyak produk UPF yang dikonsumsi masyarakat, dimana Aspartam terbentuk dari 3 komponen utama, salah satunya adalah metanol (Monte, 1984; Walton dan Monte, 2015).

Makanan dan minuman dengan aspartam yang paling banyak dikonsumsi, diantaranya minuman bersoda, minuman jus buah dalam botol/kaleng, kacang atom, biskuit, keripik kentang dan singkong, permen bebas gula, gelatin, es krim, produk susu seperti yogurt, sereal, dan lain-lain (Alparisi et al, 2018; WHO, 2023).

Menurut FDA (Food and Drug Administration), terdapat 100 penelitian lebih yang menyatakan aspartam memiliki efek toksik yang berdampak buruk bagi sistem saraf.

Paparan konsumsi Aspartam dalam jumlah yang lebih tinggi selama kehamilan dapat menyebabkan anak berisiko gagal mengembangkan kapasitasnya dalam memahami dan memproses rangsangan, mengungkapkan pikiran, dan bernalar dengan menggunakan konsep verbal. Faktanya, konsumsi Aspartam dapat menyebabkan terganggunya fungsi mitokondria dan stres oksidatif, yang mengakibatkan produksi dan pelepasan sitokin pro-inflamasi yang mempengaruhi DNA, serta peradangan kronis yang mempengaruhi sawar darah-otak dan otak itu sendiri.

Proses biologis ini berpotensi menyebabkan kematian sel saraf, yang sangat berbahaya selama trimester awal kehamilan, sebagai akibatnya, dapat mengganggu fungsi otak anak dalam jangka panjang. Singkatnya, Aspartam dapat menyebabkan sirkulasi ibu melepaskan sitokin yang pada akhirnya mencapai janin (Zupo et al., 2023).