DEPOKPOS – Sindrom pramenstruasi (PMS) merupakan kumpulan gejala menstruasi yang terjadi pada fase luteal, yaitu 1-2 minggu sebelum masa menstruasi. Gejala menstruasi yang umum dialami perempuan adalah perubahan suasana hati, keinginan mengkonsumsi makanan tertentu, stres, perasaan tidak nyaman akibat nyeri dan kram perut, cenderung lebih cemas atau sensitif, serta perubahan emosi dan perilaku lainnya. Meskipun tidak dialami oleh semua perempuan, sebagian besar gejala PMS terjadi pada kalangan remaja dengan rentang usia 10-18 tahun (OASH, 2021; Rodiani dan Rusfiana, 2016).
Menurut Mohebbi, et al (2017), sekitar 10% wanita Eropa dan 41% perempuan Amerika mengalami PMS, sedangkan Asia merupakan benua dengan prevalensi perempuan yang mengalami PMS tertinggi, yaitu sebesar 98%. Negara dengan prevalensi PMS tertinggi adalah Indonesia, diikuti dengan Arab dan Jepang. Sekitar 20% perempuan Indonesia yang mengalami gejala PMS berat merasa terganggu saat melakukan aktivitas sehari-hari (Clarita et al, 2022). Rasa tidak nyaman saat PMS meningkatkan keinginan mereka untuk mengkonsumsi jenis makanan tertentu (mengidam) untuk mengurangi gejala PMS (Daiyah et al, 2021).
Food craving (mengidam) adalah kondisi saat tubuh memiliki keinginan tinggi untuk mengkonsumsi jenis makanan tertentu. Saat tubuh mengidam makanan tertentu, tubuh akan mengalami hambatan dalam mengontrol nafsu makan sehingga menimbulkan pola makan impulsif dan berlebihan. Sedangkan menurut KBBI, mengidam merupakan keinginan seseorang untuk mengecap sesuatu (ketika hamil muda). Berdasarkan dua definisi yang telah dijelaskan diatas, kami menyimpulkan bahwa mengidam adalah suatu perilaku yang memiliki keinginan tinggi untuk mengkonsumsi jenis makanan tertentu, namun tidak terkhusus pada kondisi hamil.
Sebagian besar wanita yang mengalami gejala PMS memiliki keinginan lebih tinggi untuk makan selama tujuh hari sebelum menstruasi dibandingkan dengan hari lain sepanjang siklus menstruasi (Hill, 1994). Pada fase luteal, sebagian besar perempuan mengalami peningkatan keinginan makan yang cenderung terasa manis, dibandingkan makanan asin, asam, atau pahit (Sevim dan Yagar, 2022) sehingga dapat berujung pada peningkatan berat badan.
Asupan makanan seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor hormonal dan psikologis. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa peningkatan hormon selama siklus menstruasi dapat menyebabkan perbedaan yang signifikan pada nafsu makan, energi, dan asupan zat gizi wanita. Perubahan ini dapat dijelaskan oleh pengaruh hormon estrogen dan progesteron terhadap sekresi beberapa hormon gastrointestinal yang mengatur pengosongan lambung dan asupan energi nafsu makan. Studi menunjukkan bahwa asupan energi lebih rendah selama fase folikuler dan akan meningkat selama fase luteal sehingga nafsu makan perempuan PMS akan ikut meningkat terutama pada makanan-makanan manis seperti coklat dan permen (Sevim, Y. dan Yagar, H., 2022)
Fase luteal dikaitkan dengan keinginan makan yang kuat sehingga dapat berkontribusi terhadap asupan energi yang lebih tinggi dan penambahan berat badan seiring dengan berjalannya waktu. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Krishnan, S. et al. (2016), diketahui bahwa mengidam dipengaruhi oleh meningkatnya hormon progesteron dan leptin yang dikaitkan dengan kemampuan otak untuk mengontrol nafsu makan.
Selain itu, peningkatan keinginan perempuan untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori berkaitan dengan Basal Metabolic Rate (BMR) yang cenderung berubah karena fluktuasi produksi progesteron (McVean, 2021). BMR merupakan kalori minimal yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan aktivitas dasar. BMR perempuan akan cenderung menurun pada saat menstruasi (hari 1-7) karena produksi hormon progesteron cenderung landai. BMR akan mulai mengalami peningkatan saat memasuki hari ke-8, yaitu pada saat menstruasi sudah selesai karena progesteron mulai diproduksi kembali untuk pembentukan endometrium pada dinding rahim. Puncak peningkatan BMR terjadi pada hari ke-21, yaitu pada masa puncak tertinggi produksi progesteron.
BMR yang lebih besar pada saat produksi hormon progesteron menyebabkan lebih banyak kalori tubuh yang terbakar dibanding biasanya (Rogan, M.M. dan Black, K.E., 2023), berkisar dari 160-310 kalori. Jumlah tersebut setara dengan mengkonsumsi 30-60 gram coklat susu batangan. Walaupun 160 kalori dianggap sebagai jumlah yang kecil, tetapi hal tersebut cukup besar untuk mempengaruhi perilaku mengidam perempuan saat mengalami PMS karena penurunan hormon leptin. Akibatnya, perempuan cenderung mencari makanan yang tinggi kalori. Seringkali perempuan PMS makan secara berlebihan karena kesulitan mengontrol nafsu makan atau justru untuk memenuhi perasaan nyaman, baik secara fisik dan psikologisnya.
Saat hormon leptin menurun, tubuh akan mengirimkan sinyal ke otak yang membuat tubuh merasa lapar. Perilaku mengidam merupakan sebuah tanda dari otak agar tubuh segera memenuhi kebutuhan energinya. Umumnya, perempuan mengidam makanan manis, seperti karbohidrat, minuman ringan kemasan, dan coklat, karena mengandung tinggi gula sederhana yang dapat memenuhi kalori tubuh secara cepat. Selain tinggi gula sederhana, coklat juga mengandung tinggi zat kimia serotonin atau biasa dikenal sebagai hormon bahagia karena berperan dalam mengendalikan emosi dan suasana hati (Kammoun et al, 2017).
Walaupun banyak yang mengidam makanan manis, bukan berarti tidak ada perempuan PMS yang mengidam jenis makanan lainnya. Sebagian perempuan PMS mengidam makanan asin, seperti gorengan dan makanan berminyak, karena cenderung menghasilkan banyak energi pada setiap gram lemak yang terkandung di dalamnya. Walaupun energi yang dihasilkan 1 gram lemak lebih besar daripada yang dihasilkan karbohidrat, tetapi proses cerna lemak lebih lambat dibandingkan karbohidrat sederhana sehingga lebih banyak perempuan yang mengidam makanan manis daripada makanan asin.
Pada saat fase luteal, terjadi fluktuasi hormon yang menyebabkan timbulnya gejala PMS serta peningkatan nafsu makan atau mengidam. Mengidam saat PMS dipengaruhi oleh meningkatnya hormon estrogen dan progesteron (lebih dominan progesteron), serta menurunnya leptin. Selain itu, wanita juga cenderung ingin merasa nyaman sehingga akan mencari makanan manis. Makanan manis mengandung zat yang menimbulkan rasa senang, seperti serotonin dalam coklat.
PMS tidak dapat menjadi alasan yang memperbolehkan perempuan untuk mengkonsumsi makanan secara berlebihan, terutama makanan yang tinggi gula dan lemak. Tanpa kita sadari, hampir di semua makanan yang kita konsumsi mengandung gula dan lemak, seperti roti, coklat, dan bahkan buah. Jika tidak dikontrol, peningkatan asupan makanan terutama makanan manis, berlemak, dan tinggi karbohidrat, akan berkontribusi terhadap peningkatan berat badan, serta meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti penyakit obesitas, diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2), hipertensi, hingga penyakit jantung koroner (PJK).
Penulis: Nisrina Azra Fernandi dan Maria Pinarsinta N.
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

