Oleh: Fatmah Ummu Aru, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Palestina, sebuah nama yang keberadaannya semakin hari makin mengecil bahkan hampir menghilang dari peta dunia. Akibat pendudukan zionis Yahudi di tanah Palestina tahun 1948, sejak itu keadaan tanah penuh berkah tersebut makin terokupasi. Kini Palestina hanya tinggal sebagian kecil saja di wilayah Gaza, panjangnya tak lebih dari 41 km dengan lebar 10 km.
Apakah Palestina terletak sangat jauh di bumi antah berantah sehingga negara-negara tetangganya tidak bisa berjihad ke sana untuk membebaskan agresi zionis Yahudi? Justru ironisnya, Palestina itu dikelilingi negeri-negeri Muslim. Ada Lebanon, Suriah, Yordan, dan juga Mesir yang berbatasan langsung. Tapi penduduk Palestina seperti hidup sebatang kara, menghadapi seorang diri genosida yang dilakukan teroris Zionis Yahudi siang dan malam.
Tidak ada lautan luas yang memisahkan negeri-negeri Timur Tengah ini, tapi kota kecil Gaza di Palestina dikelilingi tembok setinggi 23 meter. Bak berada dalam penjara terbuka paling besar di dunia, tembok itu menghalangi penduduk di negeri tetangga untuk datang berjihad ke Palestina. Terdapat 7 pintu keluar Palestina, enam di antaranya mengarah ke Israel dan satu pintu ke Mesir. Tapi pintu Rafah ke Mesir ini hanya bisa dibuka dengan persetujuan Washington dan Israel.
Sebagian dari kita mungkin berpikir mengapa penduduk Gaza tidak melaut saja untuk menyelamatkan diri. Namun tahu kah kita bahwa warga Gaza hanya boleh melaut sekian puluh meter, selebihnya mereka harus berhadapan dengan angkatan laut teroris Yahudi. Begitu sulitnya mengarungi laut, apalah lagi hidup di daratan. Mereka masih harus bertahan hidup tanpa listrik, air maupun sarana-sarana kebutuhan publik lainnya demi menjaga bumi dan tanahnya.
Tak heran, merekalah makhluk terkuat di muka bumi ini. Bertahan hingga 70 tahun di tanah Syam dari rampasan agresor Zionis. Mereka paham betul makna kata ‘ribath’, yaitu menjaga tanah serta wilayah, dan secara langsung berhadapan dengan serangan orang-orang kafir. Rasullullah SAW bersabda, “Berjaga sehari saja di jalan Allah itu lebih baik ketimbang dunia dan seisinya. Pergi di waktu petang yang dilakukan oleh seorang hamba di jalan Allah, atau di waktu pagi, itu lebih baik ketimbang dunia dan seisinya.”
Sungguh, duka Gaza adalah duka kita semua umat Muslim. Maka, sepatutnya semua kaum Muslim membantu dan membela warga Gaza, karena mereka saudara kita yang terikat dengan ikatan yang sangat kuat yakni ikatan akidah Islam.[]