Health  

Mental Health: Self Diagnosis & Gangguan Jiwa Bukanlah Gila

DEPOKPOS – Beberapa waktu belakangan ini kita sering menjumpai isu-isu yang berkaitan dengan kesehatan mental, baik itu di media cetak ,internet dan sosial media. Dari sana kita dapat mengetahui apa itu mental health (kesehatan mental) dan seberapa pentingnya mental health bagi diri kita sendiri maupun orang lain.

Dilansir dari laman promkes.kemenkes.go.id. Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.

Dengan digaungkannya isu mental health ini kita menjadi sadar betapa pentingnya cara kita mengelola batin jiwa hati dan perasaan supaya dapat mengontrol diri saat menghadapi berbagai situasi, keadaan dan tekanan.

Beberapa manfaat menjaga kesehatan mental:

  • Mengontrol rasa cemas
  • Meningkatkan rasa percaya diri
  • Terhindar dari stress
  • Pikiran menjadi positif
  • Lebih fokus dan konsentrasi
  • Terhindar dari penyakit
  • Menjaga suasana hati

Dari sana kita bisa melihat menjaga kesehatan mental bisa menjadi solusi dikalah cobaan hidup datang menghampiri. Namun secara tidak sadar ada masalah- masalah yang diam-diam menghampiri. Masalah apakah ini?

Self-Diagnosis. Ya benar anda tidak salah baca. Self-Diagnosis adalah asumsi yang menyatakan bahwa seseorang terkena suatu penyakit berdasarkan pengetahuan diri sendiri atau informasi yang didapatkan secara mandiri. Padahal yang berhak memvonis penyakit kejiwaan adalah psikiater.

Self diagnosis juga menyebabkan salah diagnosa yang berujung salah pengobatan. Misalnya, kamu sakit kepala kemudian kamu searching di Google Dan dari hasil pencarian diindikasikan kamu memiliki penyakit tumor otak. Lalu, kamu merasa khawatir dan stress karena mengira kamu mengidap tumor otak. Padahal belum tentu kamu memiliki penyakit tumor otak, Cuma sakit kepala biasa yang dapat sembuh sendiri namun kamu sudah merasa sangat khawatir.

Bahaya Self-Diagnosis antara lain:

1. Membuat kecemasan.
2. Memicu depresi.
3. Salah diagnosa penyakit yang berujung salah pengobatan.

Namun adanya segelintir orang yang menganggap bahwa orang yang mengidap gangguan jiwa adalah orang gila juga merupakan masalah genting. Padahal tidak semua gangguan kejiwaan dapat disebut gila. Orang gila menurut medis adalah orang yang mengalami gangguan psikotik seperti. Stigma masyarakat yang mengganggap semua gangguan jiwa adalah gila harus diluruskan. Karena stigma masyarakat inilah orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan semakin takut untuk mengecek kondisi kesehatan mentalnya yang pada akhirnya gangguan kejiwaannya lebih parah. Seperti stigma masyarakat yang mengatakan penyakit skizofrenia adalah gila yang menyebabkan penderitanya dijauhi dan dikucilkan dari masyarakat. Bahkan keluarga para penderita gangguan jiwa tak luput juga dari diisolir dari masyarakat. Ketika berinteraksi sosial dengan yang lain malah dijauhi padahal gangguan jiwa kan tidak menular. Gangguan jiwa kan bisa dialami siapa saja. Orang yang mengalami gangguan jiwa bukan berarti jiwanya lemah juga. Mereka hanya perlu perhatian, dukungan, pengobatan dan dorongan. Kalo terus seperti ini yang ada hanya memperparah.

Belakangan ini pula terdapat segelintir orang-orang yang melarikan diri dari beban tanggung jawabnya dengan alasan demi menjaga kesehatan mentalnya. Misalnya pada beberapa saat yang lalu ada seorang Mahasiswa yang enggan mengerjakan tugas kuliah dan skripsi miliknya malah lebih memilih menggunakan jasa joki dengan demi menjaga mental health supaya tidak stress. Sungguh ironi sekali. Hanya karena malas malah menggunakan alasan “demi menjaga kesehatan mental” untuk tidak mengerjakan tugas itu adalah suatu sikap yang salah dalam menyikapi isu kesehatan mental.

Padahal yang diharapkan dari kesehatan mental itu sendiri supaya kita mampu mengontrol jiwa kita supaya dapat menanggulangi tekanan dan mampu bekerja secara produktif. Malah dibuat untuk alasan bermalas-malasan. Yang seperti ini kejiwaannya perlu dicek . Entah apa yang membuat dia kurang bersemangat.