Diet untuk Anemia Defisiensi Besi Pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur

 

Diet untuk Anemia Defisiensi Besi Pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur

 

Pendahuluan

Masalah gizi tidak terlepas dari masalah makanan karena masalah gizi timbul sebagai akibat kekurangan atau kelebihan kandungan zat gizi dalam makanan. Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang melebihi kecukupan gizi menimbulkan masalah gizi lebih yang terutama terjadi di kalangan masyarakat perkotaan. Dilain pihak empat masalah gizi kurang seperti gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), anemia gizi besi (AGB), kurang viatmin A (KVA), kurang energi protein (KEP) masih tetap merupakan gangguan khususnya di pedesaan. (Festi, 2018)

Anemia merupakan masalah kesehatan global yang patut diperhatikan, terutama di negara berkembang seperti di Indonesia. Prevalensi kejadian anemia di Indonesia terbilang cukup tinggi. Pasalnya menurut Kemenkes RI (2018) bahwa angka prevalensi anemia pada remaja usia 15-24 tahun sebesar 32%, artinya diperkirakan sebanyak 3-4 remaja dari total 10 remaja menderita anemia. Proporsi anemia pada perempuan (27,2%) lebih tinggi jika dibandingkan pada laki-laki (20,3%). (Kusnadi, 2021)

Anemia gizi besi pada remaja putri beresiko lebih tinggi karena menyebabkan seseorang mengalami penurunan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan remaja putri mengalami menstruasi setiap bulannya dan sedang dalam masa pertumbuhan sehingga membutuhkan asupan zat besi yang lebih banyak. Selain itu, ketidakseimbangan asupan zat gizi juga menjadi penyebab anemia pada remaja. Salah satu faktor pemicu anemia adalah kondisi siklus menstruasi yang tidak normal. Kehilangan darah yang sebenarnya apabila mengalami kadar menstruasi yang berlebihan lebih dari 3-4 hari, pembalut atau tampon selalu basah setiap jamnya dan sering menggantinya. Jika hal ini terjadi lebih dari 3 hari, maka segera kunjungi dokter, dan apabila pada saat menstruasi terlihat pucat atau merasa ingin pingsan jangan tunggu sampai tiga hari. Kehilangan banyak darah saat menstruasi diduga dapat menyebabkan anemia (Herwandar & Soviyati, 2020)

BACA JUGA:  Membangun Keuangan yang Kuat: 5 Langkah Mudah Menuju Kebebasan Finansial

Faktor yang menyebabkan tingginya angka kejadian anemia pada remaja diantaranya rendahnya asupan zat besi dan zat gizi lainnya misalnya A, C, folat, riboflavin dan B12, kesalahan dalam konsumsi zat besi misalnya konsumsi zat besi bersamaan dengan zat lain yang dapat mengganggu penyerapan zat besi tersebut (Briawan, 2014 dalam Julaecha, 2020).

BACA JUGA:  Hati-Hati Bangun Tangga di Rumah, Ini Pedomannya!

Dalam rangka Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang tertulis dalam Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2012, upaya kesehatan dan gizi diprioritaskan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Upaya Percepatan Perbaikan Gizi dilakukan melalui intervensi spesifik dan sensitif antara lain terintegrasi dengan progam penanggulanan anemia kepada kelompok sasaran remaja putri dan wanita usia subur. (Kemenkes, 2018)

Prevalensi anemia yang tinggi pada remaja putri memerlukan penanganan yang tepat sasaran dan cepat. Intervensi yang berkaitan dengan pencegahan dan penanganan anemia perlu menyertai peningkatan asupan zat gizi melalui diversifikasi pangan dan fortifikasi zat besi, suplementasi zat besi dan peningkatan sanitasi serta pelayanan kesehatan. Dalam hal ini faktor asupan makanan merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi terjadinya anemia pada remaja. Jika para remaja mendapatkan pengaturan diet dengan tepat maka kesehatan tubuhnya akan paripurna sehingga penyakit anemia dapat dicegah sedini mungkin.

Oleh karena itu artikel ini disusun untuk mengetahui bagaimana proses pencegahan anemia defisiensi besi jika ditinjau dari pengaturan diet yang tepat. Agar potensi terjadinya kejadian anemia gizi besi di Indonesia terutama pada remaja putri dan wanita usia subur dapat dicegah secara signifikan.

BACA JUGA:  Hati-Hati Bangun Tangga di Rumah, Ini Pedomannya!

 

Isi

  • Anemia

Anemia merupakan suatu kondisi kadar hemoglobin (Hb) darah atau jumlah sel darah merah dalam tubuh lebih rendah dibanding dengan nilai normalnya sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh. Anemia secara patofisiologis beragam dan seringkali disebabkan oleh multifaktorial. Penelitian melaporkan bahwa Anemia Gizi Besi (AGB) berkontribusi dalam penurunan kinerja kognitif. Gejala yang dialami akibat rendahnya kadar Hb antara lain adanya gangguan pengiriman oksigen jaringan sehingga penderita akan mengalami rasa lemah, lelah, sulit berkonsentrasi, atau produktivitas kerja yang buruk. Anak-anak yang mengalami anemia akan mengalami masalah dengan perkembangan mental dan motorik. Anemia gizi besi berat berkorelasi dengan peningkatan risiko persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), dan kematian anak dan ibu, serta dapat menjadi predisposisi infeksi dan gagal jantung. (Apriningsih, 2023)