DEPOK – Di hadapan sekitar 64 remaja Shalihah, Ustadzah Weny Triana, Praktisi Remaja mengungkapkan bahwa saat ini banyak remaja yang malas gerak (mager) akibat diterapkannya sistem sekuler.
“Banyak remaja mager akibat diterapkan sistem sekuler, sistem yang memisahkan aturan agama dengan kehidupan sehari-hari,” ungkapnya dalam Kajian Muslimah (Kamus) Shalihah: Semangat Hijrah, Generasi Lillah, Ahad, (27/08/2023) di Mushola Al-Maulaniyah, Depok.
Ia pun menegaskan, yang membuat remaja mager karena sistem ini memperjuangkan hak untuk bebas dari berbagai aturan-aturan dari ajaran agama. Mereka berkeyakinan semua kegiatan keputusan yang keseluruhannya berada dan dibuat oleh manusia, tidak boleh ada peran dan campur tangan agama di dalamnya.
“Sehingga generasi saat ini jauh dari pemahaman Islam kaffah dan aktivitas yang dilakukannya tanpa arah dan tujuan,” lanjutnya.
Lantas menurutnya yang terjadi remaja akan malas melaksanakan segala perintah Allah SWT seperti, malas shalat, malas baca Al-Qur’an, malas mengaji Islam kafah, malas dakwah, dan malas mengerjakan amal shalih lainnya.
“Jika sudah begini, remaja akan rugi dunia akhirat jika masa remaja dihabiskan dengan banyak rebahan. Apalagi disebutkan dalam hadits dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda, “Manfaatkan lima perkara, sebelum lima perkara. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Hidupmu sebelum datang kematianmu,” bebernya sambil membacakan hadits riwayat Al-Hakim dalam Al Mustadrak-nya, dikatakan oleh Adz-Dzahabiy dalam At–Talkhish berdasarkan syarah Bukhari-Muslim.
Ditambah lagi menurutnya mager itu berbahaya. “Bahaya mager (istilah dunia medis yakni sedentary lifestyle) menurut World Health Organization (WHO) yakni, 10 penyebab kematian dan disabilitas tertinggi di dunia (www.who.int), meningkatkan risiko hingga dua kali lipat seseorang dapat terkena penyakit jantung, diabetes, obesitas, kanker usus besar, tekanan darah tinggi, osteoporosis, dan kolesterol tinggi, membuat seseorang jatuh pada depresi dan gangguan kecemasan,” bebernya.
Menurutnya, jika remaja terus mager, maka nasib generasi mendatang akan kehilangan arah dan tidak memiliki peran dalam kehidupannya. Padahal, remaja harus menjadi agent of change atau agen perubahan. Harusnya bisa merubah dari kondisi yang buruk menjadi kondisi yang baik. Karena remaja sebagai ujung tombak, penerus dan garda terdepan dalam melakukan perubahan.
“Sebelum terlambat, marilah melakukan perubahan. Setop Malas Gerak, Yuk jadi Agen Pendobrak,” pungkasnya.[Siti Aisyah]
