Konsep Tolong Menolong dalam Asuransi Syariah

 

Lahirnya asuransi Syariah dilatar belakangi oleh adanya keraguan umat Islam terhadap produk asuransi konvensional yang selama ini mengandung unsur gharar, maysir, dan riba yang bertentangan dengan syariat Islam.

Asuransi syariah berbeda dengan asuransi konvensional. Pada asuransi syariah setiap peserta sejak awal bermaksud saling tolong menolong dan melindungi antara satu peserta dengan peserta lainnya. Karena asuransi berbicara tentang sesuatu yang tidak pasti, sebagian melihat bahwa praktik asuransi tidak dibenarkan dalam Islam karena mengandung unsur- unsur gharar, maysir, dan riba didalamnya.

Menurut fatwa No. 21/ DSN- MUI/ X/ 2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah pengertian Asuransi Syariah( ta’min, takaful, tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong- menolong di antara sejumlah orang/ pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/ atau tabarru’yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad( perikatan) yang sesuai dengan syariah. Dalam hal ini yang dimaksud “ akad yang sesuai syariah ” adalah akad yang terbebas dari unsur gharar( ketidakjelasan), maisir( judi), riba( bunga), zulmu( penganiayaan), riswah( suap), barang haram, dan maksiat.

Akad tabarru adalah segala macam perjanjian yang menyangkut transaksi nirlaba. Transaksi ini pada hakikatnya bukan transaksi bisnis untuk mencari keuntungan komersil. Akad tabarru dilakukan dengan tujuan tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan. Dalam Akad tabarru, pihak yang berbuat kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan imbalan apapun kepada pihak lainnya. Imbalan dari akad tabarru adalah dari Allah Swt bukan dari manusia. Namun demikian, pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada counter part- nya untuk sekadar menutupi biaya yang dikeluarkannya untuk dapat melakukan akad tabarru tersebut. Namun ia tidak boleh sedikitpun mengambil laba dari akad tabarru.

Firman Allah tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam perbuatan positif.

نِاوَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَ

Artiya:
“ Dan tolong- menolonglah kamu dalam( mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong- menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa- Nya ”( QS. al- Maidah 5 : 2)

Adapun fungsi dari akad tabarru ini selain orientasi akad ini bertujuan mencari keuntungan akhirat, bukan untuk keperluan komersil. Akan tetapi dalam perkembangannya akad ini sering berkaitan dengan kegiatan transaksi komersil, karena akad tabarru ini bisa berfungsi sebagai perantara yang menjembatani dan memperlancar akad tijarah.

Dewan Syariah Nasional mengeluarkan fatwa tentang akad tabarru pada asurasi syariah. Berdasarkan akad tersebut dicantumkan dibagian empat, bahwa

Dalam akad tabarru peserta memberikan dana hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta atau peserta lain yang tertimpa musibah
Peserta secara individu merupakan pihak yang berhak menerima dana tabarru( mu’amman/ mutabarra’lahu) dan secara kolektif selaku penanggung( mu’ammin/ mutabarri ’)
Perusahaan asuransi bertindak sebagai pengelola dana hibah, atas dasar akad wakalah dari para peserta selain pengelolaan investasi.
Dan dibagian kelima dicantumkan bahwa:
Pembukuan dana tabarru harus terpisah dari dana lainnya
Hasil investasi dari dana tabarru’menjadi hak kolektif peserta dan dibukukan dalam akun tabarru
Dari hasil investasi, perusahaan asuransi dapat memperoleh bagi hasil berdasarkan akad mudharabah atau akad mudharabah musytarakah, atau memperoleh ujrah( figure) berdasarkan akad wakalah bil ujrah.

Aprilia Nur Anggraini
STEI SEBI

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait