Oase  

Konsep Ju’alah pada Kehidupan Seorang Muslim

 

Dalam dunia Islam, janji memiliki akad tersendiri yang disebut dengan Ju’alah. Jualah adalah janji atau komitmen (iltizam) untuk memberikan imbalan (reward/iwadh/jul) tertentu atas pencapaian hasil (natijah) yang ditentukan dari suatu pekerjaan. Dari Ibnu Qudamah Al – Hanbali mengatakan, bahwa semisal perkataan Ju’alah “Siapa yang menemukan lalu mengembalikan barangku atau hewan ternakku yang hilang maka untuknya upah sebesar sekian”.

Para ulama memiliki pendapat yang berbeda – beda, namun Imam Syamsyuddin Muhammad ibnu al Khotib asy Syarbini yang juga diikuti oleh Wahbah al Zuhaili dalam kitabnya mendefinisikan al Ju’alah dengan ungkapan sebagai berikut :

“Kesepakatan memberikan imbalan atas suatu pekerjaan tertentu atau pekerjaan yang belum pasti bisa dilaksanakan.”

Ju’alah juga memiliki beberapa syarat yang harus diketahui oleh orang yang berakadnya. Sighat atau akad yang menunjukkan pekerjaan yang akan diberikan imbalan dengan lafaz yang jelas dan mudah dipahami. Lalu ada upah atau imbalan, tidak boleh samar dan harus jelas nominalnya (atau barang).

BACA JUGA:  Ini yang Terjadi Sebelum Imam Mahdi Muncul

Contoh perkataannya yaitu “Barang siapa yang bisa menghafal 15 juz al Qur’an dalam 1 tahun, maka baginya imbalan uang Rp.30.000.000.”

Adanya syarat orang yang menjanjikan upah walaupun tidak harus yang mempunyai hajat, namun siapa saja yang bersedia memberikan upahnya. Pekerjaan yang dijalani juga tidak boleh pekerjaan yang bersifat mubah bahkan haram seperti berjudi, zina, praktik dukun, atau mendzolimi sesame ummat muslim. Orang yang terlibat di dalam akad Ju’alah haruslah sudah baligh, berakal, dan rasional.

Madzhab Maliki mengatakan dibolehkannya pembatalan Ju‟alah sebelum masuk ke dalam amal yang diinginkan. Dalam Madzhab Syafi‟i dan Hambali dibolehkan membatalkan Ju’alah kapan saja sebagaimana dengan akad-akad muamalah lainnya. Jika seandainya pembatalan sebelum amal atau sesudah amal, maka keduanya sama-sama tidak berhak mendapatkan imbalan.

Kasus pertama karena orang tersebut memang belum memulai amal. Adapun kasus yang kedua karena tujuan yang dimaksudkan tidak tercapai. Namun, jika yang membatalkan adalah pihak yang berjanji memberikan imbalan setelah amal dimulai, maka pendapat yang paling benar dalam Madzab Syafi‟i orang tersebut mendapat upah atas apa yang dia kerjakan karena memang Ju’alah adalah amal yang dijanjikan imbalan.

BACA JUGA:  Pemimpin Terbaik Lahir dari Generasi Terbaik

Konsep Ju’alah bisa kita terapkan dalam sebuah lembaga pendidikan baik sekolahan maupun pondok pesantren. Penerapan konsep ini memiliki peran yang signifikan dalam mendongkrak prestasi peserta didik maupun melejitkan potensi para guru. Ju’alah dengan hadiah beasiswa kuliah penuh untuk siswa yang berhasil meraih peringkat 3 besar selama di SMA. Sedangkan dalam dunia bisnis contohnya yaitu, Ju’alah untuk membuat system pembayaran modern yang memudahkan dalam transaksi. Konsep Ju’alah juga bisa diaplikasikan di dalam dunia Iptek seperti Ju‟alah membuat alat pengolahan limbah dan sampah yang aman.

Aplikasinya ialah pada SBIS (sertifikat Bank Indonesia Syariah). Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 10/11/PBI/2008 tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) (“PBI 10/11/2008”).

BACA JUGA:  Investasi Akhirat: Zakat Pondasi Kekuatan Ekonomi Umat

SBIS adalah adalah surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah berjangka waktu pendek dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (Pasal 1 angka 4 PBI 10/11/2008). SBIS yang diterbitkan oleh Bank Indonesia menggunakan akad Ju’alah. Sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 64/DSN-MUI/XII/2007 tentang SBIS Ju’alah menetapkan bahwa SBIS Ju’alah adalah SBIS yang menggunakan akad Ju’alah, dengan memperhatikan substansi fatwa DSN-MUI no. 62/DSNMUI/XII/2007 tentang Akad Ju’alah.

Dalam SBIS Ju’alah, Bank Indonesia bertindak sebagai ja’il (pemberi pekerjaan); Bank Syariah bertindak sebagai maj’ullah (penerima pekerjaan); dan objek/underlying Ju’alah (mahall al- ‘aqd) adalah partisipasi Bank Syariah untuk membantu tugas Bank Indonesia dalam pengendalian moneter melalui penyerapan likuiditas dari masyarakat dan menempatkannya di Bank Indonesia dalam jumlah dan jangka waktu tertentu.