MANFAAT PEMAHAMAN HUKUM KESEHATAN DARI RISIKO KESEHATAN REPRODUKSI DAN MENTAL BAGI ANAK YANG BELUM DEWASA NAMUN SUDAH MEMILIKI ANAK

Oleh : Reiza Aribowo, SH
Mahasiswa Magister Hukum Universitas Islam Bandung

Perempuan yang menikah diusia Remaja memiliki risiko kesehatan reproduksi dan mental yang serius, Remaja adalah mereka yang berada dalam proses transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa.

Bacaan Lainnya

Dalam Pasal 33 dan Pasal 34 ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak, menjabarkan bahwa materi pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi sebagaimana yang dimaksud adalah pengetahuan anak atau remaja terkait kesehatan reproduksi. Remaja harus memiliki pengetahuan tentang kesehatan seksualitas secara benar dan tepat. Selama ini pemahaman dan pengetahuan remaja masih cukup rendah bahkan remaja mengabaikannya

BACA JUGA:  5 Ide Bisnis untuk Pelajar dan Mahasiswa

Pengertian anak diatur berdasarkan ketentuan Pasal 330 KUHPerdata, yang berbunyi anak adalah mereka yang belum berumur genap 21 (dua puluh satu) tahun dan belum kawin. Sedangkan, menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 47 ayat (1), “Anak yang belum mencapai umur 18 ( delapan belas ) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya.

BACA JUGA:  Penerapan Teknologi Fisika Nano untuk Meningkatkan Produksi, Kualitas, dan Efisiensi Pertanian

Kemudian dalam pasal 1 ayat a Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menyebutkan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan

Perubahan yang terjadi pada masa remaja dapat dilihat dari segi biologis yakni ketika anak memasuki masa pubertas. Pada remaja perempuan mengalami menstruasi pertama dan remaja putra mengalami mimpi basah. Pubertas menjadikan seorang remaja memiliki kemampuan untuk melakukan reproduksi. Terjadi juga perubahan fisik, perkembangan kognitif dan pembentukan nilai diri dari segi moral.

Terdapat beberapa faktor maupun kendala yang dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan reproduksi remaja. Faktor sosial, ekonomi, demografi, terutama tingkat kemiskinan, pendidikan yang cukup rendah.

BACA JUGA:  Self Management – Langkah Hidup Terarah

Selain itu budaya serta lingkungan misalnya praktek tradisional yang berdampak burukpada kesehatan reproduksi, seperti di beberapa daerah terpencil memiliki kepercayaan bahwa banyak anak banyak rejeki. Faktor psikologis berdampak pada ketidakharmonisan hubungan antara orang tua dan remaja, depresi karena ketidakseimbangan hormonal, faktor biologis diantaranya mengalami cacat sejak lahir dan cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual.

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait