Perkembangan media sosial memudahkan kita mengakses berbagai informasi, baik tentang ilmu pengetahuan, produk, maupun kehidupan orang lain. Pemberitaan tentang kehidupan orang lain sangat banyak mewarnai, misalkan pada Instagram, Facebook, Youtube, Twitter, banyak orang membagikan kehidupan pribadinya di sana. Baik dari publik figure, kenalan kita baik yang kita tahu kesehariannya atau tidak.
Dari melihat media sosial baik secara intensif maupun tidak itulah, seringkali muncul dalam diri rasa membandingkan dengan orang lain. Dari kajian psikologi, hal ini sering disebut sebagai fenomena Social Comparison atau perbandingan sosial.
Perilaku membandingan diri sendiri dengan orang lain pada dasarnya adalah perilaku yang wajar dan mungkin terjadi dalam kehidupan kita saat bersosialisasi dengan orang lain. Namun menjadikan perilaku ini sebagai kebiasaan dalam mengevaluasi diri atau menjadikan kecenderungan refleks dalam berinteraksi dengan orang lain akan dapat melahirkan dampak mudharat.
Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain dengan dorongan ketidakpastian dalam kondisi diri, justru seringkali menurunkan rasa percaya diri serta jauh dari rasa tenang. Terlebih, jika tidak di imbangi dengan standart internal diri dan pengenalan diri yang jelas, atau tujuan yang benar, justru bisa melahirkan sikap meremehkan orang lain saat melihat ke bawah.
Oleh sebab itu, dibutuhkan kesadaran akan adanya potensi dampak-dampak buruk dari perilaku social comparison ini, sehingga kita bisa mendudukan perilaku ini dengan tepat, serta tidak menjadikannya kebiasaan yang spontan atau implusif. Social comparison atau perbandingan sosial, kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain akan dapat memiliki manfaat jika dilakukan secara seimbang serta bersifat sementara.
Semoga bermanfaat:”)
Oleh Muhammad Iqball Alfarizi
