Scroll untuk baca artikel
Opini

Fresh Graduate Dituntut Berpengalaman, tetapi Kesempatan Kerja Masih Terbatas

×

Fresh Graduate Dituntut Berpengalaman, tetapi Kesempatan Kerja Masih Terbatas

Sebarkan artikel ini

Oleh : Muhammad Sulthan Ath Thaariq. Mahasiswa Universitas Pamulang

Fresh Graduate Dituntut Berpengalaman, tetapi Kesempatan Kerja Masih Terbatas

DEPOKPOS – Menyelesaikan pendidikan tinggi merupakan pencapaian yang membanggakan bagi banyak mahasiswa. Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar, mengerjakan tugas, dan menyelesaikan skripsi, sebagian besar lulusan berharap dapat segera memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Namun, kenyataan di dunia kerja tidak selalu berjalan sesuai harapan. Banyak lulusan baru atau fresh graduate harus menghadapi persaingan ketat, mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan, bahkan menerima penolakan karena belum memiliki pengalaman kerja.

Persoalan ini menimbulkan pertanyaan yang cukup penting: bagaimana lulusan baru bisa mendapatkan pengalaman jika kesempatan untuk memulai karier saja masih terbatas? Menurut saya, kondisi tersebut tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kekurangan dari fresh graduate. Ada persoalan yang perlu diperhatikan bersama, mulai dari kesiapan lulusan, sistem pendidikan, hingga kebijakan perusahaan dalam melakukan rekrutmen.

Gelar Sarjana Belum Tentu Menjamin Pekerjaan

Pendidikan tinggi memang memberikan pengetahuan dan kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Akan tetapi, perusahaan juga mempertimbangkan keterampilan praktis, pengalaman, kemampuan berkomunikasi, dan kesiapan kandidat untuk menjalankan tanggung jawab pekerjaan.

Dalam berita ANTARA News berjudul Kemnaker: “Skill mismatch” faktor utama tingginya penganggur terdidik yang diterbitkan pada 13 Agustus 2026, Kementerian Ketenagakerjaan menyoroti ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan dunia usaha sebagai salah satu faktor tingginya pengangguran terdidik. Berita tersebut juga menjelaskan bahwa pertumbuhan lapangan kerja formal belum sebanding dengan jumlah lulusan baru.

Kondisi ini menunjukkan bahwa memperoleh gelar sarjana saja belum cukup untuk memastikan seseorang langsung terserap ke dunia kerja. Lulusan perlu memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan perusahaan. Namun, menurut saya, perusahaan juga perlu memahami bahwa lulusan baru masih berada dalam tahap awal pengembangan karier dan belum tentu memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pengalaman profesional.

Persyaratan Pengalaman Kerja Perlu Dievaluasi

Salah satu tantangan yang sering dihadapi pencari kerja pemula adalah persyaratan pengalaman kerja dalam lowongan posisi tingkat awal. Perusahaan tentu memiliki alasan untuk mencari kandidat yang siap bekerja. Namun, apabila pengalaman kerja menjadi persyaratan utama untuk hampir semua posisi, lulusan baru akan semakin kesulitan mendapatkan kesempatan pertama.

Menurut saya, perusahaan perlu membedakan posisi yang memang membutuhkan pengalaman khusus dengan posisi yang masih memungkinkan kandidat belajar selama bekerja. Untuk posisi pemula, potensi, kemauan belajar, kemampuan beradaptasi, dan sikap bertanggung jawab juga layak menjadi bahan pertimbangan.

Perusahaan dapat membuka program pelatihan bagi karyawan baru, menyediakan program magang yang berkualitas, atau memberikan kesempatan kepada kandidat pemula melalui rekrutmen khusus fresh graduate. Langkah tersebut bukan berarti perusahaan harus mengabaikan standar kompetensi, melainkan memberikan jalur yang realistis bagi lulusan baru untuk memenuhi standar tersebut.

Perguruan Tinggi dan Mahasiswa Juga Memiliki Peran

Meskipun perusahaan perlu memberikan kesempatan, mahasiswa juga harus mempersiapkan diri sebelum lulus. Menurut saya, perguruan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan teori di ruang kelas. Mahasiswa juga perlu mendapatkan pengalaman praktik, kemampuan komunikasi, keterampilan digital, dan pemahaman mengenai lingkungan kerja.

Program magang, proyek kerja sama dengan perusahaan, pelatihan, serta kegiatan organisasi dapat membantu mahasiswa mengenali kemampuan yang perlu dikembangkan. Mahasiswa juga dapat mulai membangun portofolio, mempelajari perangkat kerja yang relevan, dan berlatih menghadapi wawancara kerja.

Namun, persiapan tersebut tidak boleh dimaknai bahwa seluruh tanggung jawab pengangguran berada di tangan individu. Tidak semua mahasiswa memiliki akses yang sama terhadap pelatihan, jaringan profesional, dan kesempatan magang. Karena itu, perguruan tinggi perlu memperluas akses pengembangan karier agar kesempatan mempersiapkan diri tidak hanya dimiliki oleh mahasiswa tertentu.

Rekrutmen Harus Membuka Peluang untuk Berkembang

Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia, rekrutmen bukan hanya proses memilih orang yang paling siap bekerja, tetapi juga upaya menemukan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi dan memiliki potensi untuk berkembang.

Perusahaan yang terlalu berfokus pada pengalaman dapat melewatkan kandidat yang memiliki kemampuan dasar baik, semangat belajar tinggi, dan potensi jangka panjang. Oleh sebab itu, proses seleksi perlu mempertimbangkan kesesuaian keterampilan, potensi, serta kemampuan kandidat untuk berkembang melalui pelatihan.

Perusahaan juga perlu memberikan informasi lowongan secara transparan, menjelaskan kualifikasi yang benar-benar dibutuhkan, dan menyusun proses seleksi yang relevan dengan pekerjaan. Dengan begitu, pencari kerja dapat mempersiapkan diri secara lebih terarah dan perusahaan dapat memperoleh kandidat yang sesuai.

Mencari Solusi, Bukan Saling Menyalahkan

Fenomena fresh graduate yang kesulitan mendapatkan pekerjaan tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyuruh lulusan untuk meningkatkan keterampilan. Peningkatan kompetensi memang penting, tetapi perlu didukung oleh ketersediaan kesempatan kerja, pendidikan yang relevan, dan proses rekrutmen yang memberikan ruang bagi tenaga kerja pemula.

Pemerintah perlu mendukung pengembangan keterampilan dan perluasan kesempatan kerja. Perguruan tinggi perlu memperkuat hubungan dengan dunia industri, sedangkan perusahaan perlu menyediakan jalur masuk yang lebih jelas bagi lulusan baru. Di sisi lain, mahasiswa juga harus aktif mempersiapkan diri dan terus belajar menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.

Pada akhirnya, menurut saya, gelar sarjana bukanlah jaminan seseorang langsung mendapatkan pekerjaan, tetapi juga bukan sesuatu yang kehilangan nilai hanya karena lulusan harus menghadapi persaingan. Yang dibutuhkan adalah hubungan yang lebih baik antara pendidikan, keterampilan, dan kesempatan kerja.

Fresh graduate tidak seharusnya terus dituntut memiliki pengalaman tanpa diberikan ruang untuk memperolehnya. Dunia kerja perlu menyediakan kesempatan yang seimbang antara kebutuhan perusahaan dan proses belajar tenaga kerja pemula. Sebab, tenaga kerja berkualitas tidak hanya ditemukan melalui proses seleksi, tetapi juga dapat dibentuk melalui kesempatan, pelatihan, dan pengembangan yang berkelanjutan.

Muhammad Sulthan Ath Thaariq
Mahasiswa Universitas Pamulang