Perkembangan Halal Lifestyle pada Fashion

DEPOKPOS – Halal Lifestyle berasal dari ajaran Islam yang mengajarkan cara hidup yang sehat dan sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, Gaya Hidup Halal (Halal Liftstyle) adalah cara seseorang menjalani hidupnya dengan menerapkan prinsip halal yang sesuai ajaran agam Islam, baik dalam hal konsumsi maupun dalam fashion atau cara berpakaian. Gaya hidup dapat mencerminkan kepribadian seseorang.
Halal lifestyle tidak hanya terkait masalah makanan akan tetapi mencangkup semua aspek dalam kehidupan manusia baik dalam hal komunikasi maupun fashion atau cara berpakaian.
Hal ini berdasarkan ayat Al-Quran yaitu Q.S. Al-Baqarah: 168
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S. Al-Baqarah: 168)
Fashion berasal dari bahasa latin fatio, yang artinya membuat atau melakukan. karena itu arti asli fashion mengacu pada kegiatan. Pada masa saat ini banyak generasi muda yang menyukai busana-busana Islami, seperti baju gamis, baju koko, dan hijab. Fashion ini menjadi trend bagi gerenasi millenial saat ini. Oleh karena itu, banyak produsen yang bersaing dalam memproduksi pakaian dalam memenuhi kepuasan pelanggan. Dapat dilihat dari kondisi tersebut dimana minat konsumen dalam membeli pakaian yang tinggi, hal ini menjadi peluang yang besar dalam bisnis fashion.
Halal lifestyle saat ini menjadi trend di berbagai dunia, bahkan negara yang penduduknya bukan beragama Islam menerapkan halal lifestyle. Karena hal ini sangat menguntungkan baik dari segi sosial maupun ekonomi, dimana dalam aspek sosial yakni membentuk kepribadian seseorang yang baik sehingga dari hal tersebut dapat mengurangi tindakan kriminal. Selain itu dari segi ekonomi yakni negara yang memproduksi produk-produk halal, karena mereka tahu bahwa ada peluang besar dalam menerapkan gaya hidup halal.
Berdasarkan hasil sensus penduduk Indonesia 2020, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270.203.917 jiwa . Persebaran penduduk berdasarkan jenis kelamin, laki-laki sebanyak 136.661.899 jiwa, sedangkan jumlah perempuan sebanyak 133.542.018 jiwa. Indonesia terkenal sebagai negara terbesar di dunia dengan mayoritas penduduk muslim. Pada tahun 2010 jumlah penduduk muslim di Indonesia sekitar 87% . Hal ini menjadi peluang yang besar dalam menerapkan gaya hidup halal, karena dalam Islam telah mengajarkan cara menata hidup sesuai syariat sehingga manusia dapat membedakan mana yang halal (thoyyiban) dan haram.
Gaya hidup halal halal pun kini menjadi sebuah trend di generasi milenial, terutama dalam fashion. Saat ini banyak ditemukan perempuan yang mengenakan hijab tidak hanya dikenakan di acara agama tetapi digunakan sehari-hari. Hal ini dapat kita jumpai hampir di seluruh tempat baik area umum maupun lainnya.
Pada sebuah artikel yang berjudul “Kerek daya saing industri fesyen muslim, KEMENPERIN dorong sertifikasi HALAL” Menyatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar menjadi produsen dan eksportir produk halal karena didukung oleh sumber daya yang ada terutama Indonesia merupakan negara terbesar penduduk muslim di dunia. Menurut KEMENPERIN, Agus Gumiwang Kartasasmita Industri fashion muslim memiliki potensi yang besar mengingat konsumsi fashion muslim di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, dengan pertumbuhan rata-rata 3,2% pertahun. Pada tahun 2020, Indonesia berada di urutan kelima konsumen fashion muslim dunia (Jakarta, Selasa:22/6).
Dari fenomena di atas, banyak orang yang mengambil kesempatan ini untuk membuka usaha untuk memproduksi produk halal seperti fashion muslim yang terdiri dari baju, hijab, kaos kaki, dan lain-lain. Hal ini menimbulkan dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Selain itu, dengan adanya gaya hidup halal perempuan telah memenuhi perintah Tuhannya yaitu menutup aurat sesuai dengan surat Al-Ahzab: 59. Adapun dampak positif dari wanita yang menutup aurat adalah menurunkan tingkat kriminalisasi terhadap kaum wanita seperti pelecehan, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain-lain.
Pada saat hari Raya Idul Fitri, minat dan daya beli konsumen sangat meningkat dalam bidang fashion muslim.
Dalam memenuhi kebutuhan konsumen para pengusaha banyak memproduksi pakaian muslim mulai dari harga yang murah sampai termahal. Kebanyakan konsumen membeli pakaian yang sedang tren seperti baju yang dikenakan oleh para artis papan atas. Produk tersebut hanya modal nama dari artis tersebut atau biasa disebut barang tiruan (KW). Namun hal ini sangat menguntungkan bagi penjual pakaian, pada hari Raya tersebut pendapatan mereka meningkat drastis dibandingkan dengan hari biasa.
Namun sangat disayangkan para wanita menggunakan pakaian muslim hanya sekedar menutup kepala saja dengan kata lain tidak sesuai dengan syariat Islam. Mereka hanya mengikuti tren pada masa sekarang, dimana hijab hanya sebatas fashion bukan kebutuhan hidupnya. Maksudnya adalah para wanita tersebut hanya mengenakan hijab namun baju masih ketat atau membentuk postur tubuh, selain itu mereka masih buka tutup hijab. Dimana mereka hanya mengenakan hijab pada saat berpergian ke luar rumah atau ke acara yang dituju, sedangkan dalam kesehariannya mereka tidak menggunakan hijab atau pakaian muslim. Hal ini yang menjadi permasalahan dalam penerapan halal lifestyle. Namun ada sebagian orang yang bener-bener menerapkan gaya hidup halal baik dari segi makanan maupun pakaian.
Saya berpendapat bahwa solusi dari masalah tersebut adalah membentuk sebuah kelompok yang berfokus pada penerapan gaya hidup halal dengan melakukan penyuluhan atau pembinaan mengenai halal lifestyle pada setiap daerah. Karena masih banyak kaum muslim terutama orang awam (tidak berpendidikan) serta para generasi milenial yang belum mengetahui tata cara dalam penerapan halal lifestyle, maka dari itu perlu adanya pembinaan tersebut. [Gita Rosita]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.