oleh

Obesitas Anak Langkah Awal Penyakit Tidak Menular (PTM) di Masa Depan

Oleh : Siti Zahrotun Ngaliyah, Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

Pada masa pandemi COVID-19, aktivitas lebih banyak dilakukan di dalam rumah. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi dan memutus sebaran virus. Begitu juga yang terjadi pada anak-anak yang melakukan aktivitas belajarnya di rumah, sehingga tidak menutup kemungkinan aktivitas fisik menjadi berkurang dan pemberian asupan makan menjadi tidak terkontrol seperti mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sangat banyak, tinggi lemak, karbohidrat berlebihan, dan rendah serat yang tidak diimbangi dengan pengeluaran energi yang seimbang. Oleh sebab itu, kondisi seperti ini rawan sekali menyebabkan kasus overweight atau kelebihan berat badan yang kemudian dapat menjadi pemicu terjadinya obesitas. Sehingga pola asuh keluarga mengenai pola makan dan aktivitas pada anak harus menjadi perhatian yang lebih serius, agar kondisi obesitas tidak sampai terjadi. Seperti yang sudah diketahui bahwa obesitas dapat menyebabkan terjadinya penyakit tidak menular (PTM), yang mana PTM sendiri mempunyai karakteristik umum dengan etiologi yang tidak jelas atau tidak tentu, mempunyai faktor risiko ganda, dan masa laten atau durasi yang panjang. Penyakit tidak menular (PTM) ini tidak dapat disembuhkan dengan cepat atau spontan, tetapi dapat dikendalikan dengan pelaksanaan dan pemantauan yang adekuat pada anak sehingga anak memiliki kualitas hidup yang baik.

Obesitas merupakan penimbunan lemak berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi daripada yang diperlukan oleh fungsi tubuh (WHO,2000). Menurut data riskesdas, prevalensi obesitas pada anak terus meningkat, yaitu pada tahun 2017 sebesar 10,5% menjadi 21,8% pada tahun 2018. Menurut proporsi status gizi kurus dan gemuk pada balita (2007-2018), masih terdapat 13 provinsi dengan prevalensi gemuk di atas prevalensi nasional yaitu 8%. Anggapan mengenai anak yang memiliki badan gemuk adalah anak yang sehat, masih sering dirasakan oleh para orang tua khususnya sang ibu. Padahal anak yang memiliki badan yang gemuk atau berat badan di atas rata-rata rawan terkena obesitas yang kemudian dapat menyebabkan penyakit tidak menular yaitu awal mula terkena Diabetes Mellitus (DM) Tipe-2 dan jantung koroner pada anak. Selain itu juga dapat menyebabkan munculnya penyakit penyerta seperti gangguan metabolik, kardiovaskular, ortopedi, neurologis, hati, paru, dan ginjal. Dampak sosial juga dapat dirasakan pada anak dengan penderita obesitas, yaitu dapat mempengaruhi emosional dan harga diri dari anak yang akan menyebabkan prestasi akademik menjadi buruk. Konsekuensi dari adanya dampak yang disebabkan oleh obesitas diantaranya adalah kematian meningkat, angka harapan hidup menjadi rendah, dan menurunnya usia produktif sehingga kualitas hidup menjadi rendah.

Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tahun 2018 terdapat 1.220 anak di Indonesia adalah penyandang DM tipe-1. Insiden DM tipe-1 pada anak dan remaja meningkat tujuh kali lipat dari tahun 2000-2010 yaitu dari 3,88/100 juta penduduk menjadi 28,19/100 juta penduduk. Data tahun 2003-2009 juga menyebutkan bahwa proporsi Diabetes Mellitus pada perempuan lebih besar daripada laki-laki (60%:28,6%). Faktor penyebab DM tipe-1 diantaranya karena latar belakang genetik dan autoimun. Namun, faktor genetik ini hanya menyumbang 5% pada obesitas anak. Sedangkan untuk DM tipe-2 kebanyakan disebabkan oleh gaya hidup (perilaku menetap) yang tidak sehat dan kegemukan.

Faktor gaya hidup yang tidak sehat seperti terlalu banyak mengonsumsi makanan dengan asupan gula berlebih dan tidak seimbangnya antara asupan dengan pengeluaran energi yang dapat mengakibatkan obesitas. Faktor gaya hidup yang tidak sehat pada anak dapat disebabkan oleh kesalahan pola asuh keluarganya. Selain itu, dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kebijakan dari sekolah akan program cegah kekurangan gizi pada peserta didik yang tidak berjalan dengan baik, faktor demografi, dan tuntutan terkait pekerjaan orang tua yang dapat berpengaruh pada perilaku makan dan aktivitas.

Pencegahan obesitas pada anak dapat dilakukan dengan melaui tiga tingkatan, yaitu pencegahan primordial dengan menjaga berat badan yang sehat dan indeks massa tubuh (IMT) normal sepanjang masa kanak-kanak dan remaja, pencegahan primer yaitu pencegahan yang dilakukan pada anak dengan kelebihan berat badan agar tidak sampai terkena obesitas, dan pencegahan sekunder yaitu pencegahan yang dapat dilakukan melalui pengarahan pada pengobatan obesitas untuk mengurangi penyakit penyerta. Strategi pencegahan obesitas pada anak dapat dilakukan dari periode perinatal sampai remaja. Pada tahap perinatal dapat dilakukan dengan pemenuhan nutrisi ibu yang optimal, kontrol gula darah yang baik pada penderita diabetes, dan konseling nutrisi selama kehamilan. Pada saat usia bayi diusahakan melakukan pemberian asi eksklusif, pola makan yang seimbang dengan menghindari makanan kaya kalori yang tidak sehat, dan pemantauan berat badan bayi. Menyusui lebih lama dapat memberikan perlindungan terhadap kelebihan berat badan dan obesitas pada anak. Selanjutnya, pada masa pra-sekolah, lembaga pendidikan dapat memberikan pendidikan nutrisi pada orang tua siswa dan anak-anak dalam praktik makan yang sehat dan pengawasan cermat pada laju pertambahan berat badan anak. Kemudian, saat masa anak-anak sampai remaja sebaiknya rutin melakukan pemantauan berat badan dan tinggi badan, mencegah adipositas pra-pubertas yang berlebihan, melakukan konseling nutrisi, olahraga yang teratur, dan menerapkan gaya hidup sehat lainnya seperti tidak melakukan aktivitas merokok dan minum-minuman beralkohol.

Upaya dalam pencegahan penyakit tidak menular seharusnya menjadi hal yang penting, karena akan sangat berperan sekali terhadap dampak yang ditimbulkan. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa berjalannya upaya tersebut harus disertai dengan campur tangan pihak yang memiliki pengaruh seperti pemerintah dengan kebijakan beserta program yang dijalankan demi terwujudnya kesehatan pada masyarakat Indonesia yang baik.

 

Referensi :
Developer, m. (2019). Kasus Obesitas Terus Meningkat. Mediaindonesia.com. Retrieved 27 November 2020, from https://mediaindonesia.com/read/detail/228924-kasus-obesitas-terus-meningkat.
Diabetes Mellitus pada Anak dan Remaja. IDAI. (2020). Retrieved 27 November 2020, from https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/diabetes-mellitus-pada-anak-dan-remaja.
Pandita, A., Sharma, D., Pandita, D., Pawar, S., Tariq, M., & Kaul, A. (2016). Childhood obesity: prevention is better than cure. Diabetes, metabolic syndrome and obesity : targets and therapy, 9, 83–89. https://doi.org/10.2147/DMSO.S90783
Pulungan, Aman & Annisa, Diadra & Imada, Sirma. (2019). Diabetes Melitus Tipe-1 pada Anak: Situasi di Indonesia dan Tata Laksana. Sari Pediatri. 20. 392. 10.14238/sp20.6.2019.392-400.
Sahoo, K., Sahoo, B., Choudhury, A. K., Sofi, N. Y., Kumar, R., & Bhadoria, A. S. (2015). Childhood obesity: causes and consequences. Journal of family medicine and primary care, 4(2), 187–192. https://doi.org/10.4103/2249-4863.154628
Retrieved 27 November 2020, from https://www.persi.or.id/images/2017/litbang/riskesdas_launching.pdf.

Komentar