oleh

Efektivitas Penggunaan Berbagai Macam Masker Saat Pandemi COVID-19

Oleh Anida Fathiyah Muti’atunnisa dan Mutia Nafisah Zahra
Mahasiswi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Sebelum mengenal efektivitas penggunaan berbagai jenis masker, yuk kita kembali ke pengenalan dan perjalanan virus corona!

Coronavirus yang dikenal dengan sebutan COVID-19 merupakan virus RNA bergenus betacoronavirus. Berdasarkan beberapa hasil analisis, virus tersebut memiliki subgenus yang sama dengan virus corona yang menyebabkan wabah SARS yang terjadi pada tahun 2002 silam, yaitu sarbecovirus. Oleh karena itu, beberapa peneliti menyebutkan bahwa Coronavirus sebagai SARS-COV-2. Kasus COVID-19 ditemukan pertama kali di Kota Wuhan, China pada akhir tahun 2019.

Pada penelitian sebelumnya telah banyak disebutkan bahwa virus SARS dapat ditransmisikan melalui perantara kucing luwak (civet cats) dan virus MERS melalui perantara unta. Adapun, hewan yang menjadi sumber penularan COVID-19 sampai saat ini masih belum diketahui. Akan tetapi, banyak pihak yang beranggapan bahwa kasus berawal dari aktivitas yang terjadi di pasar ikan Kota Wuhan, dimana petugas kesehatan melakukan perawatan pada lima pasien yang terdiagnosa Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) .

COVID-19 termasuk kedalam zoonosis karena terdapat kemungkinan virus ditransmisikan melalui hewan ke manusia. Namun sampai sekarang, belum diketahui pasti jenis hewan yang menjadi pembawa virus corona. Selain itu, COVID-19 juga dapat ditularkan oleh manusia melalui droplet yang mengandung virus. Hal tersebut dibuktikan dengan penularan dimulai saat tenaga medis yang merawat pasien COVID-19 serta orang Jerman yang ditularkan dari seseorang yang berasal dari Shanghai.

Secara umum, mekanisme penularan terjadi melalui droplet yang masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan atau mukosa yang terbuka, namun WHO memberikan pernyataan bahwa penularan COVID-19 dapat ditransmisikan melalui udara, kontak dan droplet, dan fomit (9). Setelah dilakukan beberapa penelitian diperkirakan bahwa masa inkubasi virus bervariasi dengan kisaran 1-14 hari dengan masa inkubasi rata-rata 5 hari.

Transmisi COVID-19 melalui udara merupakan penularan yang diakibatkan oleh virus dalam bentuk droplet atau aerosol yang bergerak bebas di udara. Transmisi melalui udara dapat terjadi apabila orang yang terinfeksi COVID-19 atau yang hanya sebagai pembawa menghembuskan udara saat berbicara, batuk, atau bernafas. Oleh karena itu, apabila orang yang rentan menghirup aerosol yang mengandung virus dapat menjadi terinfeksi apabila aerosol yang dihirup mengandung jumlah virus yang cukup untuk menginfeksi orang yang menghirupny.

Namun, jumlah virus corona yang dihembuskan untuk menyebabkan infeksi pada orang belum diketahui serta lama bertahan di udara karena masih dilakukan penelitian lebih lanjut.

Transmisi fomit merupakan bentuk penularan akibat droplet yang menempel pada permukaan benda sehingga terbentuk fomit atau permukaan yang terkontaminasi. Oleh karena itu, transmisi fomit dapat dikatakan sebagai transmisi tidak langsung karena melalui perantara benda yang terkontaminasi.

Melihat grafik jumlah kasus COVID-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda adanya penurunan kasus, maka diperlukan upaya pencegahan penularan COVID-19 guna menahan persebaran virus. Salah satu upaya pencegahan dengan menggunakan masker. Penggunaan masker bukan hanya ditujukan untuk tenaga medis saja, tetapi untuk masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Terdapat beberapa jenis masker antara lain:

1. Masker kain

Masker kain berguna untuk mencegah penularan serta pencegahan langkanya persediaan masker. Masker kain ditujukan untuk masyarakat sehat dengan memperhatikan bentuk kegiatan serta tetap mengatur jarak fisik dengan orang lain. Masker kain efektif sebagai pelindung bagi pemakai terhadap droplet besar, mencegah keluarga droplet saat batuk dan bersin dengan efektivitas penyaringan sebesar 10-60%.

Masker kain memiliki pori-pori yang lebih besar sehingga memungkinkan partikel besar masuk, tetapi efisiensi filtrasi dari masker kain berbeda tergantung pada bahan kain yang digunakan. Oleh karena itu, tenaga medis tidak dianjurkan menggunakan masker ini.

2. Masker Bedah 3ply

Masker bedah memiliki 3 lapisan kain yang terdiri dari kain kedap air, lapisan filter dengan kerapatan yang tinggi, dan lapisan penyerap yang berkontak langsung dengan kulit wajah. Penggunaan masker ini direkomendasikan oleh WHO untuk masyarakat yang memiliki gejala flu, batuk, pilek, demam, dan nyeri tenggorokan.

Masker ini efektif dalam melindungi pemakai agar terhindar dari partikel droplet yang kecil dengan efektivitas penyaringan sebesar 30-94% (10). Namun, pemakaian oleh tenaga medis apabila sedang tidak kontak langsung dengan pasien COVID-19 (12), sejalan dengan penelitian bahwa partikel droplet sebesar 0,04-0,2 mikrometer dapat menembus masker bedah.

3. Masker N95

Masker N95 merupakan masker yang hanya dipakai sekali saja. Masker ini direkomendasikan bagi tenaga medis yang berkontak langsung dengan penderita penyakit infeksius tinggi. Masker ini efektif untuk melindungi pemakai dari droplet dan aerosol dengan efektivitas penyaringan lebih dari 95%.

Oleh karena itu, yuk sama-sama menggunakan masker demi mencegah penularan COVID-19 dengan memperhatikan intensitas kegiatan dan jenis masker yang digunakan! Mari bantu tenaga medis dalam menyelesaikan pandemi ini! Bersama kita pasti bisa!

 

Referensi
⦁ Guo YR, Cao QD, Hong ZS, Tan YY, Chen SD, Jin HJ, et al. The origin, transmission and clinical therapies on coronavirus disease 2019 (COVID-19) outbreak- A n update on the status. Vol. 7, Military Medical Research. BioMed Central Ltd.; 2020.
⦁ Susilo A, Rumende CM, Pitoyo CW, Santoso WD, Yulianti M, Herikurniawan H, et al. Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini. J Penyakit Dalam Indones. 2020;7(1):45.
⦁ Kemenkes. Pedoman kesiapan menghadapi COVID-19. Pedoman kesiapan menghadapi COVID-19. 2020;0–115.
⦁ Alyami M. Guidance for Corona Virus Disease 2019 [Internet]. 2020. 6–743 p. Available from: http://www.pmph.com/
⦁ Ren L-L, Wang Y-M, Wu Z-Q, Xiang Z-C, Guo L, Xu T, et al. Identification of a novel coronavirus causing severe pneumonia in human. Chin Med J (Engl) [Internet]. 2020 May 5 [cited 2020 Jun 26];133(9):1015–24. Available from: ⦁ http://journals.⦁ lww.com/10.1097/CM9.0000000000000722
⦁ Penyakit Virus Corona 2019 (COVID-19) [Internet]. [cited 2020 Jul 4]. Available from: ⦁ https://www.chp.gov.hk/files/pdf/prevent_pneumon⦁ ia_indonesian.pdf
⦁ He F, Deng Y, Li W. Coronavirus disease 2019: What we know? Vol. 92, Journal of Medical Virology. John Wiley and Sons Inc.; 2020. p. 719–25.
⦁ Handayani D, Hadi DR, Isbaniah F, Burhan E, Agustin H. Penyakit Virus Corona 2019. Respirologi Indones. 2020;40(2):119–29.
⦁ WHO. Transmisi SARS-CoV-2: implikasi terhadap kewaspadaan pencegahan infeksi [Internet]. WHO. [cited 2020 Oct 16]. Available from: ⦁ https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/transmisi-sars-cov-2—implikasi-untuk-terhadap-kewaspadaan-pencegahan-infeksi—pern⦁ yataan-keilmuan.pdf?sfvrsn=1534d7df_4
⦁ Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Standar Alat Pelindung Diri (APD) untuk Penanganan COVID-19 di Indonesia [Internet]. 2020. Available from: https://covid19.go.id/storage/app/media/Protokol/standar-apd-untuk-penanganan-covid-19-di-indonesia-revisi-2.pdf
⦁ Rizki SA, Kurniawan A. Efficacy of cloth face mask in reducing covid-19 transmission: A literature review. Kesmas. 2020;15(2):43–8.
⦁ WHO. Anjuran Mengenai Penggunaan Masker Dalam Konteks COVID-19 [Internet]. World Health Organization. 2020. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/anjuran-mengenai-penggunaan-masker-dalam-konteks-covid-19-june-20.pdf
⦁ Bae S, Kim MC, Kim JY, Cha HH, Lim JS, Jung J, et al. Retraction: Effectiveness of Surgical and Cotton Masks in Blocking SARS-CoV-2: A Controlled Comparison in 4 Patients (Annals of internal medicine (2020)) [Internet]. Vol. 173, Annals of internal medicine. NLM (Medline); 2020 [cited 2020 Dec 15]. p. W22–3. Available from: https://www.acpjournals.org/doi/10.7326/M20-1342