oleh

Seberapa Penting Peran Pengawasan pada Perbankan Syariah?

Industri keuangan syariah di Indonesia telah melewati berbagai dinamika perekonomian nasional dalam mewarnai industri keuangan Indonesia selama lebih dari dua dekade. Sampai dengan Desember 2019, aset keuangan syariah Indonesia telah mencapai Rp1.468,07 triliun dengan market share keuangan syariah Indonesia mencapai 9,01% dari aset keuangan nasional (Sumber ojk.go.id). Kondisi perkembangan keuangan syariah yang telah terjadi sampai sejauh ini merupakan hal yang membanggakan bagi umat Islam, namun hal ini perlu terus dijaga agar kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan syariah tidak hilang, bahkan dapat terus bertumbuh.

Dalam lembaga keuangan syariah terdapat salah satu pilar penting, yakni syariah compliance (kepatuhan syariah), yang mana pilar inilah yang menjadi pembeda antara lembaga keuangan syariah dengan lembaga keuangan konvensional. Dan untuk memastikan kepatuhan syariah tersebut, maka diperlukan pengawasan yang ketat dalam lembaga perbankan dan keuangan syariah. Di Indonesia, fungsi pengawasan ini dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS).

BACA JUGA:  Nabung Emas Menjadi Tren, Bagaimana Hukumnya?

Pada dasarnya, pengawasan syariah adalah proses pelengkap dari kegiatan pengendalian, proses pencegahan, perbaikan, peninjauan, dan analisis dari seluruh aktivitas, produk, kontrak, serta transaksi lembaga keuangan syariah mulai dari pendirian dan seterusnya dalam memastikan kepatuhannya dengan syariat Islam. Atau dengan kata lain, pengawasan terhadap kepatuhan syariah suatu lembaga keuangan syariah seperti bebas dari bunga, spekulasi, penyalahgunaan, monopoli, dan kegiatan sejenis lainnya, yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan yang sah (halal) dan meningkatkan kinerja lembaga keuangan syariah.

Lalu mengapa pengawasan syariah menjadi penting? Dalam penelitian Garas & Pierce (2010) yang berjudul Shari’a supervision of Islamic financial institutions, pentingnya pengawasan syariah berasal dari lima sumber, yaitu berasal dari sisi agama, sosial, ekonomi, hukum, dan pemerintahan.

Pertama, dari sisi agama adanya pengawasan syariah sangat penting untuk membantu lembaga keuangan syariah dalam menjalankan bisnis yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Kedua, dari sisi soial adanya pengawasan syariah sangat penting untuk dapat menghilangkan keraguan para pemangku kepentingan tentang kegiatan lembaga keuangan syariah. Ketiga, dari sisi ekonomi hal ini merupakan suatu hal yang penting karena profitabilitas lembaga keuangan syariah bergantung pada pengawasan syariah yang dilakukan oleh ulama, khususnya dalam menegaskan tidak adanya tindakan tidak adil serta eksploitasi dalam transaksi, juga tidak adanya kepentingan atas pinjaman pinjam meminjam, sehingga hal ini dapat meningkatkan profitabilitas. Keempat, dari sisi hukum pengawasan syariah berasal dari berbagai macam sumber termasuk regulator, adapun standar tata kelola Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI), yaitu sebuah organisasi standar akuntansi syariah internasional, mensyaratkan adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS) di setiap bank syariah untuk mendapatkan izin sebagi bank syariah. Terakhir, anggaran dasar lembaga keuangan syariah biasanya mencakup penunjukan pengawas syariah oleh pemegang saham untuk mencerminkan komitmen mereka dalam melakukan bisnis yang sesuai dengan syariat.

BACA JUGA:  Pentingnya Etika Profesional Auditor

Tak hanya itu, jika pengawasan syariah terhadap praktik syariah tidak dilakukan dengan optimal, dalam hal ini pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS), akan berakibat pada pelanggaran syariah complience, yang akibatnya menjadikan citra dan kredibilitas bank syariah di mata masyarakat menjadi negatif, sehingga dapat menurunkan kepercayaan masyarakat kepada bank syariah ataupun lembaga keuangan syariah yang bersangkutan. Dengan demikian, untuk lebih menjamin pelaksanaan syariah compliance di masa depan, kualitas pengawasan syariah perlu ditingkatkan, karena hingga saat ini DPS yang melakukan pengawasan syariah masih berasal dari latar belakang yang berbeda beda, yaitu yang hanya paham transaksi keuangan atau yang hanya paham fiqih muamalahnya saja.

BACA JUGA:  Pengukuran Fungsi Audit Internal Syariah yang Efektif di Lembaga Keuangan Syariah

Oleh: Adilia Rahayu, (Mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI)

 

Komentar

Berita lainnya