oleh

Produk Istishna dalam Perbankan Syariah dan Penerapannya dalam Investasi Properti

ISTISHNA’  adalah jual beli barang dalam bentuk pemesanan pembuatan barang berdasarkan persyaratan serta kriteria tertentu, sedangkan pola pembayaran dapat dilakukan sesuai dengan kesepakatan (dapat dilakukan di depan atau pada saat serah terima barang).

MUDHARABAH MUQAYYADAH Akad yang dilakukan antara pemilik modal untuk usaha yang ditentukan oleh pemilik modal (shahibul mal) dengan pengelola (mudharib), dimana nisbah bagi hasil disepakati di awal untuk dibagi bersama, sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik modal. Dalam terminologi perbankan syariah ini lazim disebut Special Investment.

Pada dasarnya akad istishna adalah kegiatan pemesanan suatu produk kepada produsen produk tersebut. Salah satu contohnya adalah produk properti, rumah apabila dipesan sesuai dengan keinginan Anda, termasuk dalam akad istishna. Misalnya, ingin rumah dengan 3 kamar, desainnya minimalis, dan ada kolam renangnya. Untuk memenuhi keinginan ini, Anda bisa memesan rumah KPR di perbankan syariah yang menyediakan fasilitas tersebut.

BACA JUGA:  Struktur Audit Syariah Internal dan Praktiknya di Yaman

Direktur BPRS Hasanah, Rhadyan Anggra Wisnu, mengatakan terkait istishna, dalam surat edaran OJK nomor 37 Tahun 2015 disebutkan penyediaan dana atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, untuk transaksi jual beli barang dalam bentuk pemesanan, pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan atau pembeli dengan penjual.

Rhadyan mengatakan Produk Ishtisna ini merupakan inovasi keuangan di deposito, yang mengamankan dana nasabah dengan tetap memegang prinsip keuangan syariah yang tertuju langsung kepada proyek-proyek properti yang sudah dikurasi dan dipilih secara teliti dan dengan kehati-hatian tingkat tinggi dengan nisbah bagi hasil mencapai 13% ekuivalen dengan modal yang disetorkan pertahunnya.

BACA JUGA:  Mekanisme Tata Kelola dan Kinerja Perusahaan pada Perbankan Syariah

“Prinsip dasarnya adalah mudharabah muqayyadah, jadi investor memilih sendiri lahannya pada kavling yang sudah disediakan dan menanamkan uangnya dalam bentuk deposito mudharabah muqayyadah. Jadi yang membedakan adalah jika pada deposito biasa bank diberikan kebebasan pengelolaan dananya, sementara pada deposito mudharabah muqayyadah si investor sendiri yang menunjuk dikhususkan pada pembiayaan atau project apa. Kebetulan yang kita tawarkan adalah pembelian lahan properti, seperti yang kita kerjasamakan dengan Harmony Land Group saat ini,” jelas Radhyan.

BPRS Hasanah mengkombinasikan antara istishna dan deposito mudharabah muqayyadah sebagai produk perbankannya sesuai dengan fatwa MUI dan SE OJK.

“Jadi kalau ada suatu hal yang baru karakteristiknya, misalnya prosesnya, nah ini harus ada izin. Default produknya memang sudah ada, tapi kombinasi produk inilah yang perlu izin dan BPRS Hasanah menjadi yang pertama mendapatkan izin tersebut pada tahun 2019 lalu,” jelas Radhyan.

BACA JUGA:  Penerapan Kaidah Fiqh terhadap Audit Syariah di Perbankan Syariah

Radhyan juga mengatakan mendapatkan support dari OJK dan produk tersebut akan terus dikembangkan karena secara portofolio masih sangat kecil dibandingkan murabahah.

“Dari sisi investasi ini sebetulnya sangat menguntungkan, jadi pada skema istishna ini bank menyediakan lahan dan bekerjasama dengan pihak developer, dalam hal ini harmony land, untuk membangun rumah sesuai dengan kriteria yang diinginkan nasabah,” tambahnya.

“Semangatnya kita ingin mengajak orang berinvestasi melalui deposito yang aman dan dijamin LPS yang masuknya ke properti,” pungkasnya. []

Komentar

Berita lainnya