oleh

Penerapan Kaidah Fiqh terhadap Audit Syariah di Perbankan Syariah

Pada era ini, bank syariah semakin berkembang di beberapa negara. Hal tersebut suatu kemajuan bagi bank syariah untuk terus mengupayakan nilai-nilai Islam agar tidak terlihat sama oleh bank konvensional. Perkembangan bank syariah didasari dengan usaha dalam melakukan kinerja yang baik. Dalam perbankan syariah, salah satu upaya menjaga kestabilitasan kinerja pada bank adalah dengan dilakukannya audit syariah oleh auditor syariah sehingga segala kegiatan yang dilakukan di setiap bank syariah harus benar-benar sesuai dengan seluruh asas syari’at yaitu akidah, asas hukum Islam, dan etika.

Di Malaysia, audit syariah harus dilakukan oleh auditor internal yang telah memperoleh pengetahuan dan pelatihan terkait syariah yang memadai(Abd Rahman et al., 2020). Untuk dapat memenuhi syarat sebagai auditor syariah, seseorang harus memiliki pengetahuan di bidang syari’ah khususnya muamalat.

Dengan diterapkannya praktik audit syariah, kaidah fiqih menjadi acuan dalam tercapainya maqashid syariah di bank syariah. Salah satu fungsi penting dari audit syariah ialah memeriksa apakah suatu transaksi tersebut sudah sesuai dengan syariat atau sebaliknya. Kaidah fiqh digunakan sebagai dasar dari segala tindakan yang dilakukan oleh seorang auditor syari’ah yang akan diarahkan untuk mengambil keputusan yang lebih bijak. Keputusan ini mencakup masalah apakah transaksi tertentu sesuai dengan maqashid syariah atau tidak, tanpa melanggar sifat kompetitif, menguntungkan, dan layak dari bisnis ini dalam jangka panjang.

Proses audit syariah melibatkan perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan tindak lanjut audit. Penelitian (Abd Rahman et al., 2020) mengemukakan terdapat beberapa kaidah fiqh yang bisa diterapkan dalam proses audit syariah di perbankan syariah yaitu :

BACA JUGA:  Menjaga Kepatuhan Syariah Pada Lembaga Keuangan Syariah

1. Kepastian tidak dikesampingkan oleh keraguan

Auditor lebih sering mengaudit departemen yang memiliki risiko tinggi daripada yang tidak terlalu berisiko. Dengan menggunakan kerangka kerja pengendalian internal Committee of Sponsoring Organizations of Treadway Commission (COSO) semua elemen penting seperti lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan menjadi pertimbangan.

Diterapkannya kaidah ini sebagai dasar untuk menghilangkan keraguan dalam memilih area yang akan diaudit juga menghilangkan keraguan yang dapat menimbulkan kesulitan dalam menjalankan tugas, karena tujuan dari kaidah ini ialah untuk menghindari kesulitan dan tidak ragu dalam mengambil keputusan. Kaidah ini tertanam pada sang auditor, yang harus percaya diri dan menunjukkan kejelasan atau transparansi saat memilih area dalam proses audit mereka jika diminta oleh klien.

2. Segala sesuatu ditentukan oleh niat

Kaidah ini menunjukkan bahwa aturan syariah untuk urusan manusia dan urusannya di dunia harus sesuai dengan niatnya. Oleh karena itu, manusia harus memiliki niat yang baik agar tercapai tujuan yang baik pula. Sama halnya dengan audit syariah, semua tindakan yang terlibat dalam perencanaan dan persiapan program audit harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Jika niat seseorang diabaikan, keinginan melakukan hal-hal yang dilarang seperti riba, melalui cara yang diperbolehkan dalam Islam tidak akan bisa dipadamkan.

3. Asal dari segala sesuatu adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya

Dalam ajaran Islam, ada yang dianggap boleh dan ada yang dilarang. Namun, mayoritas ulama merujuk pada salah satu ucapan Nabi Muhammad SAW : “Halal adalah apa yang Allah telah buat halal dalam kitabNya dan haram adalah apa yang dilarangNya, dan hal-hal yang diam Dia izinkan sebagai bantuan kepadamu”. Hal tersebut dapat diterapkan dalam metodologi audit syariah untuk memenuhi kebutuhan manusia dan makhluk lainnya sepanjang dilakukan dengan cara hukum.

BACA JUGA:  Menghadirkan Bank Syariah yang Kuat, Bermanfaat, dan Mampu Kembangkan Industri Halal

Kaidah ini digunakan pada saat pelaksanaan audit. Dalam hal pelaksanaan audit, Dewan Pengawas Syariah (DPS) harus sistematis melakukan audit syariah komprehensif untuk memastikan kepatuhan syariah. Karena tidak adanya pedoman yang tepat untuk melakukan audit syariah, banyak DPS mengalami kesulitan dalam merencanakan, melaksanakan dan melaporkan audit syariah dengan benar. Selama tahap pemeriksaan, auditor syariah akan mengidentifikasi dan menggunakan teknik audit yang tepat untuk mengumpulkan bukti yang cukup dan andal. Ini agar kesimpulan yang masuk akal dapat dicapai tentang kepatuhan syariah.

4. Kerugian harus dihilangkan

Secara umum, auditor syariah akan terus melakukan prosedur audit hingga ditemukan solusi dari permasalahan yang bersangkutan. Tindakan ini melibatkan audit tindak lanjut. Auditor akan mengalokasikan sejumlah waktu tertentu kepada auditee untuk melakukan pembetulan dan tindak lanjut audit untuk menjamin bahwa semua kegiatan sesuai dengan ketentuan syariah. Kaidah “kerugian harus dihilangkan” mencakup setengah dari peraturan syariah, khususnya untuk mendatangkan maslahah dan mencegah mafsadah demi mewujudkan keadilan.

Kaidah ini berfungsi sebagai dasar untuk melarang tindakan berbahaya dan menentukan kompensasi atau hukuman yang sesuai untuk tindakan tersebut serta digunakan sebagai landasan prinsip membawa manfaat dan menangkal kejahatan atau kerugian. Kerugian yang dimaksud ialah seperti maysir, gharar dan riba. Hal tersebut mengharuskan transaksi bisnis diatur secara tepat antara dua pihak untuk mencegah salah satu pihak yang terlibat dirugikan oleh pihak lain.

BACA JUGA:  Kualifikasi Apa yang Diperlukan Auditor pada Lembaga Keuangan Syariah?

5. Penilaian harus didasarkan pada pengetahuan dan pemahaman

Kemampuan auditor untuk memberikan rekomendasi merupakan hal terpenting dalam audit. Dengan demikian, auditor syariah harus dapat memberikan rekomendasi yang baik dan temuan-temuan berharga sehingga dapat menjadi nilai bagi kepatuhan bank syariah terhadap syariah. Laporan auditor juga harus disiapkan secara cermat agar kualitas dan keandalan pekerjaan audit syariah dapat terjamin.

Kaidah “penilaian harus didasarkan pada pengetahuan dan pemahaman” adalah dasar dari praktik pelaporan audit syariah internal. Isi dan bahasa yang digunakan dalam laporan audit harus jelas dan mudah dipahami oleh pengguna yang relevan. Selanjutnya, auditor harus menerapkan pengetahuan dan pemahaman mereka pada penulisan laporan audit karena laporan tersebut akan diserahkan kepada Shariah Committee (SC) untuk pertimbangan lebih lanjut.

Penerapan kaidah fiqh diatas ialah sebagai dasar praktik audit syariah yang akan memungkinkan lembaga perbankan syariah mendapatkan kepercayaan dari pemangku kepentingan mereka. Kaidah fiqh tertentu yang harus digunakan sebagai dasar perencanaan audit syariah, pelaksanaan, tindak lanjut dan pelaporan audit teridentifikasi.

Dalam penelitian (Abd Rahman et al., 2020) dikatakan bahwa sebagai auditor muslim harus menunjukkan karakter yang kuat dengan tetap mematuhi prinsip-prinsip Islam. Penting bagi auditor untuk mempertimbangkan kaidah fiqh sebagai dasar praktik audit karena kaidah fiqh berfungsi untuk mencegah adanya unsur-unsur yang bertentangan dengan ketentuan syariah dari berbagai aspek hingga tetap pada jalur syariah, karena segala sesuatu yang kita perbuat di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Oleh : Sabrina Jamilah, Mahasiswi STEI SEBI DEPOK

Komentar

Berita lainnya