oleh

Penjahat Disabilitas Dimulai dari Pikiran

Pentingnya Pendidikan Disabilitas di Indonesia, di wujudkan oleh pemerintah dengan adanya Pendidikan Inklusif. Pendidikan Inklusif sendiri, merupakan salah satu bentuk penerapan dari Undang Undang Hak penyandang disabilitas (UU No.8 Tahun 2019) yang dimana adanya kesetaraan dalam mata pembelajaran maupun aksesibilitas tanpa adanya pengecualian.

Di Indonesia sendiri penerapan pendidikan ini sudah ada di berbagai sekolah maupun perguruan tinggi. Akan tetapi, penerapannya masih kurang efektif dimana pembangunan yang dilihat hanya berupa fasilitas dari sekolahnya saja bukan dari segi sistem yang diberlakukan. Sedangkan, dalam pendidikan sendiri, sistem pendidikan dan pembekalan guru murupakan hal utama yang harus diterapkan di sekolah tersebut.

Pembekalan guru maupun sistem pendidikannya masih belum berjalan secara effektif, dimana keterampilan dan kemampuan guru dalam menanggapi beragam karakter anak berkebutuhan khusus yang menyandang penyakit disabilitas masih sangat kurang. Sehingga anak tersebut sulit dalam menerima palajaran. Bahkan dapat megakibatkan timbulnya masalah-masalah baru seperti anak tidak dapat berkembang, dikucilkan sampai menciptakan adanya bullying terhadap anak.

BACA JUGA:  Istilah-Istilah Pinjaman Online yang Wajib Diketahui

Dua jenis inklusi

“Pada hari ini muncul 2 jenis inklusi. Yaitu anak yang bisa bertumbuh dalam kelas dan anak yang berada di kelas yang sama tapi tidak diterima (included)” pungkas Angelia Kristanti Permana, M.Ed sebagai Educational Consultant.

Ia menyatakan permasalahan yang dihadapi sendiri muncul dari mind set orang-orang yang terlibat dalam pendidikan inklusi (orang tua, guru, sistem sekolah, teman) yang masih belum sepaham dan se-visi dalam membangun pendidikan inklusif.

Permasalahan pemikiran ini sendiri juga disebabkan karena munculnya factor-faktor pendominasian dari pada orang sekitar dan pemusatan terhadap pikiran for the sake of system atau yang diartikan “demi keberlangsungan sistem” yang dimana sangat berlawanan dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus yang harus disesuaikan dengan kebutuhan-nya masing-masing.

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Inklusi yang terbaik dengan anak yang penting yang harus ditanamkan adalah fokus pada apa yang anak itu butuhkan untuk bisa sukses, bukan hanya dimana ia didik, tetapi termasuk cara belajar dan lain sebagainya.

Cara penganganan masalah inklusi

Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dimulai dari adanya sosialisasi yang menciptakan awareness / kesadaraan tentang keterbukaan cara pandang masyarakat bahwa mengenal bukan karena perbedaan yang dimiliki melaikan kemampuan yang mereka miliki. Karena disabilitas itu sendiri bukan menjadi hambatan kalau adanya semangat inklusi yang diterapkan.

Dalam proses menciptakan kesadaraan ini sendiri juga harus dilakukan secara rutin tiap tahunnya, karena perubahan dalam perkembangan generasi yang sangat cepat harus didukung dengan adanya pemberian informasi secara rutin. Agar dapat menanamkan pedoman kepada masyarakat terhadap pentingnya semangat inklusi kepada masyarakat demi terwujudnya kesejahteraan bersama.

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Selain itu dibutuhkan pula pembekalan guru dalam penerapan pendidikan yang fleksibilitas (Diferensiasi) kepada anak berkebutuhan khusus. Yang dimana anak tersebut dapat ‘belajar hal yang sama dengan cara yang berbeda baik dengan’ visual, audio, dsb.’ Sesuai apa yang mereka butuhkan. Sehingga dalam penerapan pendidikannya dapat berjalan secara effektif dalam mencapai tujuan inklusi.

Penerapan ini memang sulit untuk dilakukan, diingat dengan peningkatan anak berkebutuhan khusus yang terus meningkat dari tahun ke tahun-nya. Tetapi permulaian yang dilakukan sekarang akan dapat menghentikan kata terlambat.

“Supaya masyarakat lebih terbuka dan mengenal anak-anak ini, mungkin diluarnya mereka terlihat berbeda tapi dalamnya mereka sama dengan orang lain. Mereka membutuhkan teman, kasih sayang dan kesempatan untuk sukses,” pesannya.  | Tania San Laurensia

Komentar

Berita lainnya