oleh

Broken Home dan Pengaruhnya pada Mental Anak

Live Update COVID-19 Indonesia

2.956
Positif
240
Meninggal
222
Sembuh

Live Update COVID-19 Dunia

1.450.087
Positif
83.472
Meninggal
309.321
Sembuh

Tiada satupun orang yang mau terlahir sebagai anak broken home. Begitu juga dengan anak-anak broken home, mereka tidak bisa memilih disituasi ini. Broken Home adalah sebuah rumah tetapi tidak berasa seperti rumah melainkan rumah yang rusak, bukan hanya komponennya (misal:pintu) saja tetapi juga keharmonisan dari sebuah rumah tangga. Hal ini ditandai dengan mulai sering terjadinya pertengkaran orang tua , hubungan keluarga yang tidak lagi harmonis , hingga berakhir dengan perceraian atau bahkan penelantaran anak.

Broken home menjadi istilah umum yang banyak dikenal untuk menyebut keadaan ini.Dengan berbagai latar belakang yang menjadi penyebab terjadinya broken home tersebut, anak selalu saja menjadi pihak yang paling dirugikan. Baik dari segi jasmani maupun psikis mereka.

Menurut Dokter Marianti sebagai ahli Psikologis,anak broken home yang orang tuanya bercerai kemungkinan akan merasa kehilangan, terasing, takut ditinggal sendirian, marah pada satu atau kedua orang tua, merasa menjadi penyebab orang tua berpisah, merasa ditolak, merasa insecure (tidak aman/yakin), dan bingung memihak orang tua yang mana.

Salah satu penelitian mengungkapkan bahwa perceraian menimbulkan konsekuensi serius pada kesejahteraan psikologis anak broken home, tak hanya setelah perceraian tetapi juga sebelum perceraian. Studi lain menunjukkan jika orang tua yang bercerai, berpisah, minum minuman beralkohol, atau terkena kasus pidana berkontribusi mengembangkan perilaku antisosial pada sang anak.

BACA JUGA:  WFH Membuat Stres? Ini Tipsnya Agar Nyaman Bekerja di Rumah

Perceraian orang tua juga bisa membuat sang anak menderita separation anxiety syndrome (SAD). SAD merupakan suatu kondisi di mana seorang anak menjadi takut dan gugup ketika berada jauh dari rumah atau terpisah dari orang yang dicintai seperti berpisah dengan orang tua yang bercerai.

Ketakutan ini dapat dapat mengganggu aktivitas normal sang anak, seperti pergi ke sekolah atau bermain dengan anak-anak lain.Dan tak hanya dalam jangka pendek, percerian turut memengaruhi anak broken home dalam jangka panjang.

Menurut penelitian, anak broken home lebih mungkin menderita depresi ketika mereka berusia dua puluhan tahun. Perceraian orang tua juga akan memengaruhi sang anak jika dia memiliki hubungan di kemudian hari. Studi statistik menunjukkan bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai lebih mungkin untuk bercerai juga. Ada pula anak broken home yang memutuskan untuk tidak menikah.

Mereka ingin memiliki hubungan asmara dengan orang lain, namun menahan diri untuk benar-benar masuk atau terlibat ke dalam hubungan tersebut. Bahkan mungkin membatasi diri atau menjaga jarak. Selain itu, anak broken home pun diduga memiliki keuangan yang kurang stabil jika dibandingkan dengan anak-anak berkeluarga lengkap.

BACA JUGA:  Strategi Bertahan Bisnis Ditengah Pandemi Covid-19

Anak broken home juga diduga memiliki prestasi akademik yang lebih rendah, lebih banyak mengonsumsi minuman beralkohol, lebih banyak merokok, dan memiliki tingkat pengangguran yang lebih tinggi.

Seorang yang mengalami broken home, sebuta saja namanay mawar, mengatak bahwa anak broken home itu tergantung, ada yang arah positif ada yang negatif. Misalnya, ada yang terjerumus dalam pergaulan yang buruk atau sulit untuk memiliki hubungan baik dengan orang lain bahkan dengan orang-orang terdekatnya. Contohnya, mencuri, manipulative, arogan, kasar, dan pemalas.

“Nah,kalo positif ada yang menjadikannya sebuah pacuan untuk memiliki hubungan yang baik dengan sekeliling dan masa depan, ada juga yang menjadi lebih sayang kepada orang tua(ibu kandung/bapak kandung) yang lebih dekat dengan dia. Berasal dari broken home atau tidak seiring berjalannya waktu kita bisa membedakan mana yang baik dan buruk,kita harus bisa menempatkan diri kita sebijak mungkin, terutama anak broken home jangan pernah menyalahkan keadaan untuk membenarkan sesuatu yang salah, karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam hidup.” Ucap mawar(nama disamarkan) sebagai korban ‘broken home’ (30/11/19).

BACA JUGA:  Akhir Pekan #DirumahSaja, Anda Bisa Lakukan Ini Bersama Keluarga

“Anak Broken Home itu yang orang tuanya tidak berfungsi dirumah, kalau kriteria gitu harus based on story,” menurut Herlinda Wongso seorang sarjana Ilmu Psikolog (10/01/20).

Tidak semua anak broken home mempunyai kehidupan yang gelap. Banyak sekali orang merasa kesepian karena hal-hal seperti ini. Sebagai manusia kita hidup dengan waktu yang terus berjalan. Berpikirlan bahwa kita harus mencintai hidup kita atau diri kita, menjalani kehidupan dengan hati yang bangga dan bersyukur kepada Tuhan, menjadikan hidup sebagai pelajaran yang berarti di setiap detiknya, jika kita sudah saying dengan diri sendiri memaafkan orang sekitar bahkan terdekat kita sekalipun orang tua kita, berpikir untuk tidak menyalahkan keadaan dan mencintai sesama, maka cinta itu akan tumbuh dalam hidup kita karena masih banyak orang lain yang peduli dan menyayangi kita. Jadilah anak yang bisa di banggakan didalam situasi apapun. | Gadis Alexandra

Komentar

Berita lainnya