oleh

Boba, si Kecil Manis yang Berbahaya

Kala haus melanda, kita pasti meninginkan minuman manis yang dapat menghilangkan dahaga dan memberi kesegaran. Berbagai minuman itu akan lebih enak jika dilengkapi oleh boba atau bubble yang sedang naik daun sekarang ini. Hampir setiap kedai minuman, pasti menyediakan topping ini sebagai pelengkap minuman mereka, namun dibalik rasanya yang enak ada bahaya kesehatan yang menyertainya. Hal ini dirasakan oleh seorang Ibu yang memiliki anak berusia 10 tahun yang kami temui di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, “Anak saya sekarang kelebihan berat badan soalnya tiap hari minta dibeliin boba milk tea terus, saya jadi khawatir nantinya anak saya terkena diabetes” ujarnya saat ditanya mengenai boba.

Boba mulai dikenal dari Taiwan sejak tahun 1980an dan menyebar ke berbagai belahan dunia. Boba biasanya dibuat dari tepung tapioka dan gula yang tinggi kalori, bahkan dalam 100-gram boba menghasilkan 300 kalori di mana ini setara dengan 2 porsi nasi. Weil, seorang doktor dari Harvard University, menyebutkan satu porsi boba mengandung lemak dan gula yang tinggi. Dalam satu gelas minuman boba ukuran reguler biasanya setara dengan 20 sendok teh gula, sedangkan jumlah asupan gula yang dianjurkan oleh WHO untuk pria sebanyak 9 sendok teh dan wanita 6 sendok teh per hari.

Jika boba diminum secara rutin setiap harinya, maka jumlah kalori, lemak, dan gula yang tinggi akan terus terakumulasi di dalam tubuh kita sehingga dapat menyebabkan berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes. Menurut data WHO, kejadian diabetes di dunia cenderung meningkat setiap tahunnya dari 4,7% pada tahun 1980 hingga pada tahun 2014 menjadi 8,5%. Sejalan dengan hal itu, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) memperlihatkan peningkatan angka prevalensi Diabetes di Indonesia yang cukup signifikan, yaitu dari 6,9% di tahun 2013 menjadi 8,5% di tahun 2018.

Demi mengatasi kecenderungan meningkatnya diabetes di Indonesia yang disebabkan oleh asupan gula berlebih, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan PermenKes RI No.41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang yang mengatur jumlah asupan kalori setiap harinya4. Hal ini didukung oleh pembatasan penggunaan gula dalam sebuah produk yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024.

Bahaya penyakit yang menyertai konsumsi boba dapat dihindari dengan tidak mengonsumsi minuman dengan boba setiap hari dan disertai dengan pola hidup sehat seperti rajin berolahraga, menjaga pola tidur, dan meningkatkan konsumsi buah dan sayur. Hal tersebut sesuai dengan program yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan, yaitu GERMAS atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

Oleh: Dyah Ayu Puspitaningsih, Fajriah Hanika Adzania, Mila Camelia
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Komentar

Berita lainnya