Bahaya Diet Ketat dan Latihan Fisik Berat bagi Wanita

Latihan fisik merupakan bagian dari aktivitas fisik yang direncanakan, terstruktur, dan terjadi pergerakan tubuh. Dilakukan untuk meningkatkan atau menjaga kebugaran tubuh. Selain itu, latihan fisik juga dapat mencegah berbagai penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung.

Latihan fisik berlebih dilakukan dengan kadar durasi latihan berlebih dan jenis aktivitas cenderung berat. Latihan fisik berat biasa dilakukan oleh atlet untuk menunjang performanya di lapangan, terutama atlet pria. Sedangkan pada wanita, aktivitas fisik berlebih dilakukan untuk menurunkan berat badan untuk memiliki tubuh yang indah.

Di era sekarang, banyak dibangun fasilitas kebugaran terutama di kota-kota besar. Tidak hanya laki-laki, akan tetapi semakin banyak wanita yang mengunjungi tempat kebugaran untuk melatih fisik, terlebih mulai banyak dibangun fasilitas kebugaran yang dikhususkan untuk wanita. Kesempatan wanita untuk melakukan latihan fisik berat semakin besar.

Tubuh indah dan ideal identik dengan memiliki tubuh ramping dan kurus. Hal inilah yang memengaruhi persepsi wanita mengenai tubuh mereka. Wanita memutuskan melakukan latihan fisik berat karena dirasa mampu menghasilkan tubuh yang ramping dan kurus secara singkat.

BACA JUGA:  Waspadai Kanker Serviks Sejak Dini

Jenis olahraga yang dilakukan sama seperti olahraga pada umumnya, seperti treadmill, push-up, T-Stabilization, dan prisoner squat namun yang membedakan adalah frekuensi dan durasi yang sering dan lama.

Latihan fisik berlebih yang memiliki tujuan awal untuk membentuk tubuh yang ideal justru berdampak buruk bagi kesehatan wanita, salah satunya adalah mengakibatkan Female Athletic Triad Syndrome (FATS)

Female Athlete Triad Syndrom (FATS) merupakan masalah kesehatan yang biasanya dialami oleh atlet wanita. Atlet wanita pada umumnya membatasi asupan makanan sehingga energi dalam tubuh menjadi rendah. Ketersediaan energi rendah berakibat pada produksi hormon esterogen yang terbatas pada wanita.

Hormon estrogen yang rendah erat kaitannya dengan gangguan menstruasi dan penurunan kepadatan tulang atau osteoporosis. Saat ini, FATS tidak hanya dialami oleh atlet wanita, melainkan dialami oleh wanita yang gemar melakukan latihan fisik berat.

BACA JUGA:  Waspadai Kanker Serviks Sejak Dini

Seseorang yang menderita FATS akan membatasi makanan dan terus menerus melakukan latihan fisik berat meskipun tubuh mengalami kelelahan berat bahkan cidera. Selain itu, seseorang yang mengalami FATS memiliki gejala gangguan pada siklus menstruasi seperti waktu menstruasi yang tidak teratur atau bahkan tidak mengalami menstruasi dalam waktu lama, serta memiliki kepadatan tulang yang rendah yang dapat diukur dengan Dual Energy X-Ray Absorptiometry (DXA).

FATS dapat terjadi karena pembatasan konsumsi energi pada eating disorder atau penyimpangan perilaku makan yang diebut anorexia nervosa. Penderita akan melakukan diet ketat dengan mengonsumsi makanan dalam jumlah sangat sedikit dan melakukan latihan fisik yang berat. Asupan energi yang rendah dan kebutuhan energi tinggi untuk latihan fisik membuat keseimbangan energi terganggu. Hal tersebut mempengaruhi sekresi hormone GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) di otak yang berfungsi dalam sekresi LH (Luteneizing Hormone) dan FSH (Follicle Stimulating Hormone). Kedua hormon inilah yang berperan dalam siklus menstruasi. Apabila terjadi gangguan dalam sekresi kedua hormon tersebut, maka siklus menstruasi akan terganggu.

BACA JUGA:  Waspadai Kanker Serviks Sejak Dini

Selain mengatur siklus menstruasi, LH dan FSH juga berperan dalam pelepasan hormon esterogen di ovarium. Esterogen berperan dalam menjaga masa tulang. Jika pelepasan esterogen terganggu, maka tulang tidak dapat mempertahankan kepadatannya sehingga pada nilai tertentu, akan berkembang menjadi osteoporosis.

Latihan fisik berat dan perilaku makan menyimpang berupa pembatasan asupan makan berlebih pada wanita dapat mengurangi asupan zat gizi dan energi yang memengaruhi siklus menstruasi dan meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis. Latihan fisik yang berat harus diimbangi dengan asupan makanan yang cukup agar keseimbangan energi tetap terjaga serta mengurangi risiko gangguan menstruasi dan osteoporosis pada wanita.

Komentar

Berita lainnya