oleh

Haji Asmawi, Petani Belimbing Pertama di Kota Depok (Bag. 2)

Kenapa Harus Belimbing?

Kenapa Belimbing? Kenapa tidak menanam pohon buah yang lain? Kata Husin, karena sekali tanam belimbing, hasilnya cukup memuaskan. Tak butuh waktu yang lama. Setiap tiga bulan sudah panen. Dalam setahun bisa tiga kali panen. Pohon belimbing hingga puluhan tahun, akan terus berkembang. Bahkan jika tumbuh besar, saat dipotong, hasilnya malah lebih bagus.

“Setiap tiga bulan sekali kita panen. Kalau perawatannya bagus, 50 pohon belimbing sudah bisa panen sebanyak tiga ton. Pemasarannya, sudah ada tengkulak yang datang untuk membeli. Tengkulak yang ngambil ke saya bisa sampai setengah ton, bahkan mencapai satu ton. Tentu, ada juga yang gagal panen, karena faktor cuaca seperti banyaknya curah hujan, hasilnya tidak bagus.”

BACA JUGA:  Kontroversi Vaksin Dengvaxia di Indonesia
Bang Husin.
Bang Husin.

Yang membuat petani bertahan dengan tanaman belimbingnya, kata Husin, karena petani merasa puas di belimbing. Apalagi Depok dikenal sebagai Kota Belimbing. “Ini sudah ciri khas Depok dengan belimbingnya. Harusnya Pemerintah Kota Depok memperkuat ikon Depok sebagai Kota Belimbing, dengan mengurangi penyusutan lahan belimbing.”

Husin mengaku ada yang merasa berat dengan modal perawatan belimbing. Mulai dari modal membeli pupuk, penyemprotan. Untuk 50 pohon saja bisa menghabiskan modal sebanyak Rp. 2 juta. Itu baru penyemprotan saja. Belum lagi modal untuk pembungkusan belimbing yang menelan biaya di atas Rp. 5 juta.

BACA JUGA:  Ini Mekanisme Permohonan Sedot Tinja di Depok

“Jika sebelumnya menggunakan bungkusan dari kertas karbon, sekarang diganti dengan kantong plastik hitam. Saat ini untuk mendapatkan kertas karbon sudah sulit. Kami menggantinya dengan kantong kresek hitam. Hasilnya sama. Dibanding plastik, kertas karbon lebih mahal.

Kata Husin, sekarang kertas karbon sudah di atas Rp. 10 ribu per kilo. Sedangkan plastik Rp. 20 ribu per kilo. Biaya untuk membeli bungkusan bisa mencapai Rp. 600. 000. Jika ditotal, bisa menghabiskan puluhan juta untuk modal pupuk, penyemprotan dan pembungkusan.

BACA JUGA:  Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Mahasiswa Masih Marak, Apa Penyebabnya?

“Meski penjualan belimbing stabil, Petani tetap aja di bawah. Penjualan belimbing, jika lagi musim hujan bisa di atas Rp. 7.000 per kilo. Sedangkan, kalau lagi langka harganya bisa diatas Rp. 9000- 10.000. Musim hujan seperti ini belimbing lagi langka,” kata Husin.(Desmoreno)

Komentar

Berita lainnya